logo

Tidak Profesional, JPU Joice Dan Arta Dilaporkan Ke JAM Pengawasan

Tidak Profesional, JPU Joice Dan Arta Dilaporkan Ke JAM Pengawasan

Penasehat hukum Muara Karta
05 Juni 2020 22:40 WIB
Penulis : Yon Parjiyono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Dianggap menghalangi sidang pidana perkara penipuan dengan terdakwa Benny Hermanto dengan teleconference, dua Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Medan, Joice V Sinaga dan Arta Sihombing dilaporkan ke Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan.

Kuasa hukum Benny Hermanto, Muara Karta menilai, Joice V Sinaga dan Arta Sihombing telah mengangkangi instruksi Mahkamah Agung (MA) yang tidak mewajibkan terdakwa datang ke persidangan demi keselamatan masyarakat di tengah wabah virus Corona (Covid-19).

Karta mengaku sudah dua kali melaporkan sikap tidak profesional Joice V Sinaga dan Arta Sihombing kepada Jaksa Agung Muda (JAM) Bidang Pengawasan dengan Nomor 67/MKP/S/V/2020 tanggal 14 April 2020 dan 18 Mei 2020.

"Sikap dua JPU Kejari Medan tidak profesional dan menghalangi jalannya persidangan secara online dalam perkara pidana register Nomor 17/Pid.B/2020/PN, Mdn di Pengadilan Negeri Medan," kata Karta melalui keterangan tertulisnya kepada Suarakarya.Id, Jumat (5/6/2020).

Sidang teleconference itu digelar, selain karena adanya pandemi Covid-19 dan PSBB, juga lantaran terdakwa dalam kondisi sakit parah.

"Terdakwa sampai saat ini sakit kanker hati serta paru-paru. Klien saya tidak bisa berjalan jauh. Hal ini diperkuat dengan surat keterangan dari RS Cijantung Kesdam Jaya, Jakarta Timur," ujar Karta.

Pada persidangan tanggal 19 Mei 2020 dengan agenda pembacaan pledoi, Karta sudah menyerahkan surat keterangan asli dokter tentang kesehatan terdakwa dengan Nomor RSC/001/V/2020 yang dikeluarkan Rumah Sakit Cijantung Kesdam Jaya kepada majelis hakim yang memeriksa perkara dan fotokopi surat kepada JPU.

Ternyata JPU Joice menolak mengikuti persidangan secara teleconference sebagaimana penetapan majelis hakim.

"Majelis hakim menyatakan agar keberatan tersebut dicatat dan tetap melanjutkan persidangan sebagaimana telah ditetapkan," tutur Karta.

Namun JPU Joice kemudian memilih walk out tanpa seizin majelis hakim. Setelah kurang lebih 5 menit meninggalkan ruang sidang, JPU kembali memasuki ruang sidang dan menyampaikan kepada majelis hakim bahwa mereka tidak diperbolehkan pimpinannya untuk mengikuti persidangan secara teleconference sebagaimana penetapan majelis hakim.

Akibatnya, majelis hakim menunda persidangan hingga 2 Juni 2020, karena persidangan tidak mungkin dilakukan tanpa kehadiran JPU dan akan melaporkan tindakan walk out tersebut.

"Tindakan JPU yang mengakibatkan ditundanya persidangan oleh majelis hakim telah melanggar hak konstitusi dan terdakwa," ucapnya menegaskan.

Karta menambahkan, pada 26 Mei 2020, pihaknya menerima surat panggilan terdakwa yang dibuat dan ditandatangani oleh JPU Joice agar hadir pada 9 Juni 2020 di Pengadilan Negeri Medan untuk bersidang. "Ini namanya membangkang majelis hakim yang telah menetapkan sidang selanjutnya tanggal 2 Juni 2020," tuturnya.

Karena itulah Karta berharap JAM Pengawasan mengusut tuntas pengaduannya dan memberikan sanksi tegas terhadap JPU Joice serta Arta Sihombing. Diketahui, Benny Hermanto merupakan pengusaha kopi, direktur PT Sari Opal Nutrition. Beralamat di Ruko Green Garden, Blok C-II/37, RT/RW 009/003, Kelurahan Kedoya Utara, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Tahun 2018 melakukan perjanjian jual beli kopi dengan Direktur PT Opal Coffee Indonesia, Suryo Pranoto, yang beralamat di Jalan Tengku Amir Hamzah, Lingkungan XII Blok C No. 56, Kelurahan Helvetia Timur, Medan Helvetia. Karena dianggap ingkar atas pembayaran senilai Rp 356.939.000 terhadap Suryo, Benny kemudian diadukan telah melakukan tindak penipuan. 

Editor : Gungde Ariwangsa SH