logo

Wayang :Tontonan, Tuntunan Dan Tatanan

Wayang :Tontonan, Tuntunan Dan Tatanan

05 Juni 2020 07:38 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh : Chrysnanda Dwi Laksana*

Wayang bisa dimaknai sebagai bayangan atau refleksi kehidupan manusia. Hampir semua cerita wayang berkaitan dengan kehidupan juga berkaitan dengan ngunduh wohing pakarti, manuai apa yang ditabur. Pada cerita wayang dinamis mampu menjembatani banyak hal bahkan untuk memberikan hiburan pelipur lara. Penggeli hati. Wayang dimainkan oleh dalang yg memiliki kepiawaian dari seni suara seni bahasa seni berganti ganti suara sesuai karakter yang dimainkan. Karakter karakter manusia ada di dalam wujud wayang dr yang kasar halus kaum sudra satria sampai brahmana bahkan para dewa hingga nirwana.

Wayang sebagai tontonan bervariasi dg nilai2 adhiluhung yg semakin lama seolah menguap atau menjauh dr generasi2 muda. Mungkin saja karena dianggap kuno atau kurang dipahamo atau bs juga tergerus perubahan dan perkembangan jaman. Pakem dari wayang yang konvensional di era milenial mungkin diperlukan negara dengan political will, perhatian para pakar dan akademisi serta dari para pelaku bisnis. Karena wayang ini memerlukan energi biaya untuk hidup. Bagaimana ada kreasi kreasi baru yang mampu untuk hidup dan memberi kehidupan.

Membuat hidup semakin hidup. Sukasman sigit dengan wayang ukurnya berupaya memnuat kebaruan atas wayang dengan style yg lebh dinamis walaupun masih berpegang pada pakem. Slamet Gundono dg wayang suket dan dhalang jemblung, Sujiwo Tejo dll mampu mengembangkan gaya yg lbh dinamis. Ki Entus susmono melalui wayang golek memberikan tatanan melalui tokoh lupit dan slenteng dengan gaya logat tegal yg khas. Warseno slenk, seno nugroho menjadikan wayang tontonan dinamis menghibur. Para maestro wayang spt ki narto sabdo, ki hadi sugito, ki mantep sudarsono telah dg gigih dan dg gagah trs konsisten dlm dunia wayang.

Pepadi sbg wadah komunitas pedalangan telah cukup eksis dlm menumbuhkembangkan seni pedhalangan di jaman modern. Banyak lagi wadah 2 seni pedalangan yg dapat mengemas pertunjukkan wayang dikaitkan dg pariwisata. Ditampilkan dg berbagai bahasa yg disesuaikan oleh audienya. Bs saja dg bahasa inggris bahasa indonesia atau dg bahasa 2 lainnya dg dukungan teknologi baik sound system maupun lightingnya atau pencahayaannya. Bahkan tema ceritapun bs dimodifikasi atau diperbaharui.

Wayang tatkala statis mandeg tanpa bantuan dukungan kita semua bs saja punah atau bergeser ke negara yg care. Warisan budhaya adiluhung ini perlu kita lestarikan. Transformasi akan seni wayang dan pedhalang memang bukan sekedar diajarkan namun ada spirit yg merupakan passion bago hidup tumbuh dlm hidup dan kehidupan sosial kemasyarakatan. Pemerintah perlu andil besar memberi panghung atau media untuk eksis dan tampilnya para dhalang dg wayang2nya. Dari para pelaku bisnis membantu dg csr nya agar menjembatani memarketingkan. Para ahli atau pakar dan kalangan akademisi mengkuratori shg wayang trs eksis dlm dunia akademis sekalipun.

Nampaknya mudah dibicarakan namun sesunghuhnya memerlukan perjuangan dan proses yg tdk gampang. Perlu political will yg berpihak pd seni dan budhaya bangsa khususnya wayang. Perlu pemimipin dengan kepemimpinan yang transformatif yang sadar akan peradaban dan keteraturan sosial yang terjaga dr  seni budhaya. Para pakar dan kaum akademisi yang mau membuka mata dan hati membantu mengemas dlm pemikiranan, kajian kajiannya dan mengkuratorinya agar dapat dikenal luas. Para pelaku bisnis pun peka peduli dan ikut bertnggungjawab akan lestarinya seni wayang dan pedhalangannya, setidak tidaknya mau memberi ruang atau nglarisi. Kalau bukan kita siapa lagi kalau tidak sekarang kapan lagi..... rahayu rahayu rahayu ......

 

*Brigjen Pol Chrysnanda Dwi Laksana PhD, Direktur Keamanan dan Keselamatan Korlantas Polri, Seniman

Editor : Dwi Putro Agus Asianto