logo

Masa Pandemi Covid-19, Pelayanan KB Terus Berlangsung

 Masa Pandemi Covid-19, Pelayanan KB Terus Berlangsung

Kepala BKKBN dr Hasto Wardoyo, SP OG(K).(foto,ist)
01 Juni 2020 21:36 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dalam upaya pencegahan penyebaran virus Covid-19, pelayanan Keluarga Berencana (KB) diharapkan terus berlangsung.

Demikian dikemukakan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr Hasto Wardoyo Sp OG (K) pada acara Webinar Penanganan Infertilitas dalam Kesehatan Reproduksi, yang diselenggarakan melalui aplikasi Webex dan disiarkan secara langsung di kanal Youtube dan Facebook BKKBN Official, di Jakarta, Minggu (31/5/2020).

Pelayanan serta promosi dan konseling kesehatan reproduksi, terangnya, juga masih diperlukan dalam masa pandemi seperti saat ini. Seperti diketahui, saat pandemi Covid-19 ini akses masyarakat terhadap pelayanan serta konseling kesehatan menjadi terbatas.

Untuk meminimalisir kontak dengan petugas kesehatan, maka sebagian besar kegiatan promosi dan konseling termasuk terkait kesehatan reproduksi lebih banyak memanfaatkan media sosial dan media komunikasi jarak jauh baik secara online maupun offline.

"Terkait hal itulah, maka BKKBN bersama POGI menyelenggarakan kegiatan webinar yang mengangkat topik seputar penanganan infertilitas dalam kesehatan reproduksi," jelas Kepala BKKBN.

Acara tersebut juga diikuti dr Ari Kusuma Januarto Sp OG(K) selaku Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Plt Deputi Bidang KBKR Ir Dr Dwi Listyawardani M Sc, Dip Com Prof. Dr dr Budi Wiweko Sp OG MPH (POGI) selaku narasumber, serta Pejabat Tinggi Madya dan Pratama BKKBN.

Peserta webinar yang mengikuti siaran langsung dari Cisco Webex sedikitnya 400 peserta, kanal Facebook sebanyak 4000 peserta, sedangkan Youtube sebanyak 1.390 peserta. Sehingga total keseluruhan yang mengikuti webinar sebanyak tidak kurang dari 5.790 peserta.

Kepala BKKBN menyatakan, saat ini, Indonesia sedang mengalami Bonus Demografi, bahkan akan segera berlalu beberapa tahun lagi. BKKBN bersama Instansi terkait, pakar, serta mitra bekerja keras, menciptakan sumberdaya manusia (SDM) berkualitas.

Pasalnya, untuk memetik Bonus Demografi harus memenuhi dua syarat. Yaitu tidak hanya dari segi kuantitas namun juga kualitas, sehingga salah satu untuk menciptakan SDM berkualitas adalah kesehatan reproduksinya.

Berdasarkan data Evaluasi Demographic and Health Surveys (DHS) yang dilakukan WHO pada tahun 2004 memperkirakan, lebih dari 186 juta WUS yang pernah menikah di negara berkembang mengalami infertilitas, atau setara dengan 1 dari setiap 4 PUS usia 15-49 tahun. Di Indonesia, dari 67 juta pasangan usia subur, 10-15 persen atau 8 juta mengalami gangguan infertilitas atau kesuburan yang membuat mereka sulit mendapatkan anak (Profil Kesehatan Indonesia, 2012).

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), prevalensi infertilitas di Indonesia meningkat setiap tahun. Pada 2013, tingkat prevalensi adalah 15-25 persen dari semua pasangan (Riskesdas, 2013). Berdasarkan data dari Perhimpunan Fertilisasi In Vitro Indonesia (Perfitri) pada tahun 2017, terdapat 1.712 pria dan 2.055 wanita yang mengalami infertilitas.

Selain itu, WHO memperkirakan sekitar 50-80 juta pasutri (1 dari 7 pasangan) memiliki masalah infertilitas dan setiap tahun akan muncul 2 juta pasutri dengan masalah infertilitas. Di Indonesia angka kejadian infertilitas diperkirakan terjadi pada lebih dari 20 persen pasutri.

Di Indonesia angka kejadian infertilitas pada perempuan usia 30 – 34 tahun 15 persen, pada usia 35-39 tahun 30 persen, dan pada usia 40 - 44 tahun adalah 55 persen.

Di bagian lain, Plt Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) BKKBN Ir Dr Dwi Listyawardani M Sc Dip Com menambahkan, pasutri dinyatakan mengalami Infertilitas atau gangguan kesuburan, apabila pasutri belum hamil meski telah melakukan hubungan seksual secara teratur selama 12 bulan tanpa menggunakan alat proteksi/ kontrasepsi.

Pasutri dinyatakan memiliki masalah infertilitas primer jika belum pernah ada riwayat kehamilan. "Dinyatakan sebagai infertilitas sekunder jika pasutri tersebut tidak berhasil hamil atau tidak mampu hamil atau tidak mampu mempertahankan kehamilannya, setelah memiliki anak hidup sebelumnya," terang Dwi.

Editor : Gungde Ariwangsa SH