logo

Ada Lagi ABK Indonesia Di Kapal China Yang Meninggal, Kini Di Pakistan

Ada Lagi ABK Indonesia Di Kapal China Yang Meninggal, Kini Di Pakistan

ABK Indonesia di kapal berbendera China.
24 Mei 2020 00:38 WIB
Penulis : Gungde Ariwangsa SH

SuaraKarya.id - KARACHI: Belum tuntas kasus meninggal dan dibuangnya ke laut jenazah anak buah kapal (ABK) asal Indonesia yang bekerja di kapal penangkapan ikan China, Long Xing 629, kini ada lagi kabar duka dari Pakistan. Seorang ABK Indonesia yang juga bekerja di kapal China meninggal dunia di RS Zaenuddin Karachi, Jumat (22/5/2020). 

ES, demikian nama ABK Indonesia yang meninggal itu,  bekerja di sebuah kapal ikan milik perusahaan China.  Mendiang diketahui diberangkatkan oleh perusahaan Indonesia yang dua pimpinannya telah ditetapkan Kepolisian Daerah Jawa Tengah (Polda Jateng) sebagai tersangka kasus tindak pidana perdagangan orang.

Menurut laporan BBC News Indonesia, informasi ini dikemukakan Kementerian Luar Negeri Indonesia berdasarkan keterangan dari Konsulat Jenderal RI di Karachi, Pakistan. Cerita bermula ketika Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI ) mendapat pengaduan dari dua ABK Indonesia berisinial Ha dan EA pada tanggal 14 Mei 2020.

Kedua awak kapal tersebut berasal dari kapal ikan milik perusahaan China, Xianggang Xinhai Shipping Co. Ltd. Saat bekerja di kapal ikan tersebut, Ha mengalami sakit hernia dan ES mengalami kecelakaan kerja.

Keduanya dipindahkan ke kapal Chad 3 milik perusahaan Pakistan di sekitar perairan Somalia. Dokter sudah memeriksa kondisi keduanya di atas kapal. Saat tiba di Pelabuhan Karachi, KJRI Karachi telah menghubungi kedua awak kapal WNI tersebut.

KJRI lantas berkoordinasi dengan otoritas setempat agar keduanya dapat turun ke darat melalui mekanisme visa on arrival mengingat Pakistan saat ini masih dalam status lockdown.
Akan tetapi, pada Jumat (22/5/2020), kondisi ES mengkhawatirkan.

Pejabat Fungsi Konsuler KJRI Karachi berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk segera menjemput dan membawa yang bersangkutan ke rumah sakit setempat. Namun sekitar pukul 22.00 waktu setempat, ES dinyatakan meninggal dunia di RS Zaenuddin Karachi.

Kemenlu RI telah menghubungi keluarga ES di Indonesia dan menyampaikan bela sungkawa serta penjelasaan dan rencana lanjut sehubungan proses pemulangan jenazah.

Kejadian itu menyusul meninggalnya para ABK Indonesia yang berkerja di kapal China Long Xing 629 yang kasusnya meledak dari Busan Korea Selatan. Selasa (5/5/2020) televisi MBC menayangkan siaran tentang penderitaan para ABK itu, Video yang dirilis MBC tersebut lalu diulas oleh YouTuber Jang Hansol pada Rabu (6/5/2020). Disebutkan, video itu memperlihatkan kenyataan pelanggaran hak asasi manusia orang Indonesia yang bekerja di kapal China.  Rekaman didapatkan setelah kapal itu kebetulan bersandar di pelabuhan Busan.  

Para ABK itu  mengaku mendapat perlakuan buruk dan penyiksaan di kapal ikan China, Long Xing 629. Mereka harus bekerja selama 18 jam per hari, beberapa di antaranya harus bekerja selama dua hari berturut-turut.  Tiga orang yang meninggal  saat di kapal jenazahnya  dilarung. Satu orang lagi meninggal di fasilitas kesehatan di Busan.

ABK dengan inisial AR, jenazahnya dilarung tanggal 31 Maret pagi. Dua lainnya meninggal saat berlayar di Samudera Pasifik dan dilarung pada Desember 2019. Sedangkan EP, meninggal di fasilitas kesehatan di Busan, karena menderita pneumonia. 

Perdagangan Orang

Ha dan ES diberangkatkan oleh PT MTB yang dua pimpinannya telah ditetapkan Polda Jateng sebagai tersangka kasus tindak pidana perdagangan orang yang menimpa mendiang Herdianto yang jenazahnya dilarung di perairan Somalia. PT MTB, menurut keterangan Kemenlu RI, tidak memiliki ijin penempatan awak kapal baik dari Kementerian Perhubungan maupun Kementerian Tenaga Kerja.

Kemenlu menyatakan akan bekerja sama dengan BP2MI, Polri, serta Kementerian/Lembaga terkait dalam menangani pemulangan jenazah ES sesuai permintaan keluarga, pemenuhan hak-hak ketenagakerjaan almarhum dan penyelidikan lebih lanjut kasus ini.

Sebelumnya, seorang ABK Indonesia bertutur kepada BBC News Indonesia mengenai perlakuan yang dia terima saat bekerja di kapal ikan berbendera China. Dia dan teman WNI lainnya mengaku mengalami apa yang dia sebut "perbudakan" selama enam bulan di atas kapal.

"Teman saya meninggal karena disiksa lalu disimpan sebulan di tempat pendingin ikan dan dibuang ke laut. Sementara, kami berempat tidak tahan dipukul, disiksa, akhirnya kami selamat dengan melompat dari kapal, 12 jam terombang-ambing di laut", ujarnya.

ABK ini mengungkap dirinya disalurkan oleh perusahaan MTB yang berlokasi di Tegal, Jawa Tengah. MTB adalah perusahaan yang sama yang menyalurkan Herdianto, ABK Indonesia yang meninggal dan dilarung di laut Somalia oleh kapal berbendera China bernama Luqing Yuan Yu 623.

Kepolisian Daerah Jawa Tengah menyatakan pada Selasa (19/5/2020) telah menetapkan MH dan S dari agen MTB sebagai tersangka. Keduanya berasal dari Tegal. ***