logo

Petani Ikut Terimbas Pandemi Covid-19

Petani Ikut Terimbas Pandemi Covid-19

Sekjen Aliansi Petani Indonesia (API), Muhammad Nur Uddin
23 Mei 2020 20:21 WIB
Penulis : Andira

SuaraKarya.id - SIDOARJO: Dampak Pandemi Covid-19 yang berlangsung hampir tiga bulan terakhir mulai dirasakan petani. Banyak produk pertanian yang tertahan di gudang tidak tersalurkan karena terhambat akses distribusi ke konsumen perkotaan.

Menurut Sekjen Aliansi Petani Indonesia (API), Muhammad Nur Uddin, salah satu solusi yang tepat untuk menggerakkan ekonomi pertanian, adalah dengan melakukan gerakan pangan lokal yang bisa dilakukan dengan membuat pasar produk pertanian tertentu, untuk waktu tertentu yang mendekati konsumen perkotaan dengan daya beli yang cukup tinggi. "Kebijakan ini akan sangat menolong nasib petani yang kini hanya bisa bertahan," ujarnya, Sabtu (23/5/2020).

Berbicara dalam diskusi bertemakan 'Kedaulatan Pangan dan Potensi Bisnis Pertanian' yang diselenggatakan Program Studi Kewirausahaan UMAHA, Sidoarjo melalui Zoom Video Conference, dia menyebut, dari jumlah 41 juta petani di Indonesia, sektor ini menyerap 35% tenaga kerja. Tapi kepemilikan lahan mereka sangat sempit atau hanya di bawah 1 hektare, ditambah dengan kondisi akses pasar yang lemah.

Akses pasar sangat terbatas dan pengetahuan dalam menjalankan pemasaran serta import membuat kompetisi makin ketat. Belum lagi soal lemahnya modal dan tidak ada pengolahan pasca panen hingga keterbatasan akses modal.

Sementara Wakil Ketua Komite Tetap Pembinaan Pedagang Pasar Kadin Jatim, Nanang Susilo menyebut, sebagai pelaku usaha dalam bidang pertanian, masalah yang dihadapi untuk produk pertanian adalah kualitas produk yang tidak memenuhi standart food grade. Realita ini membutuhkan keterlibatan semua pihak untuk bisa mengangkat kualitas produk ini.

Dia juga mempersoalkan biaya transportasi antar daerah yang mahal. "Biaya transportasi dari Surabaya ke Singapura lebih mahal dari pada dari flores ke Surabaya," ujarnya.

Pihaknya sebetulnya sangat optimistis sektor ini bisa tumbuh bagus, tapi harus  diurus dengan pemangku kebijakan yang baik. Jangan sampai pembangunan infrastruktur tol, bandara dan lain-lain itu hanya menempatkan petani sebagai pasar saja dan tidak bisa dimanfaatkan untuk kemudahan distribusi produk petani.

Menurut Komisaris PT Puspa Agro, Ony Setiawan, sebelum krisis ekonomi akibat Covid-19, Puspa Agro lebih banyak menyuplai ke rumah makan, hotel dan perusahaan. Tetapi sekarang karena krisis, hanya bisa menyulai langsung ke pasar (konsumen). "Di tengah krisis ekonomi dunia ini, mestinya petani bisa memanfaatkan untuk mengisi kekosongan pasar ini," ujarnya.

Program studi kewirausahaan UMAHA menyatakan siap berkolaborasi dengan dunai usaha untuk bersama sama meningkatkan kualitas dan daya saing produk pertanian termasuk untuk pasca panennya. "Dengan jumlah Petani 41 juta dan serapan (35%) tenaga kerja pertanian adalah sektot usaha yang harus menjadi fokus bersama termasuk program studi kewirausahaan UMAHA," ujar Kaprodi Kewirausahaan UMAHA Sidoarjo, Darno.***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto