logo

Kejaksaan Agung Usut Dugaan Keterlibatan Aparat Dalam Inportasi Tekstil

Kejaksaan Agung Usut Dugaan Keterlibatan Aparat Dalam Inportasi Tekstil

Kejaksaan Agung
21 Mei 2020 16:16 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA:  Penyidik pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung saat ini tengah mengusut secara intensif  kasus dugaan korupsi penyalahgunaan kewenangan dalam importasi tekstil pada Dirjen Bea dan Cukai tahun 2018-2020. Meski ada kesan berliku, Kejaksaan Agung berusaha keras menuntaskan kasus tersebut apa adanya dan tanpa intervensi dari pihak mana pun.

“Perlu pengusutan kasus itu secara transparan. Saat ini informasinya simpang-siur. Untuk tekstilnya saja disebut-sebut 27 kontainer, namun ada pula yang menyebut, 25 malam 20 kontainer. Bahkan ada lagi yang menyebutkan totalnya 400 kontainer.  Mana yang benar, belum ada yang memastikan. ” ujar seorang yang menaruh perhatian atas kasus itu.

Informasi yang berkembang juga menyebutkan bahwa kasus itu melibatkan oknum pejabat Bea Cukai, betulkah, siapa oknumnya dan apa jabatannya. “Termasuk ini perlu diperjelas, agar masyarakat tahu situasi penegakan hukum termasuk di bidang kepabeanan,” tutur warga itu.

Harapan warga itu telah berusaha ditindaklanjuti tim penyidik  pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung dengan melakukan pemeriksaan dan penggeledahan dua rumah milik petinggi Bea Cukai tipe B Batam. Tentu saja untuk mencari serta mengumpulkan barang bukti.

Sekretaris Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Rizal Tanzil Rakhman, menyambut positif upaya pengungkapan kasus impor tekstil tersebut. Menurutnya, hal itu menjadi bagian dari perbaikan kondisi industri tekstil Indonesia secara umum.  Dia berharap ke depan tidak terjadi lagi hal serupa, karena ini bukan hanya soal merugikan negara dari sektor pajak tetapi industri tekstil  juga dirugikan mengingat testil tersebut disebut-sebut diselundupkan dari India atau China.

Banyak aspek terdapat dalam persoalan tekstil. Di antaranya soal tenaga kerja dan perputaran ekonomi masyarakat. Jika semakin banyak penyelundupan serupa ditangkap, dibongkar, maka seharusnya industri tekstil  dalam negeri akan semakin aman dari tindakan-tindakan tidak fair, dan itu membantu industri tekstil semakin  tumbuh dan berkembang.

Dampak dari adanya mafia tekstil sangat besar bagi industri tekstil Indonesia. Pasalnya, dari setiap meter kain yang diproduksi dalam proses pembuatannya melibatkan banyak orang, mulai dari benang sampai menjadi kain. Industri tekstil  telah menghidupi masyarakat dan menyerap banyak tenaga kerja. Sayangnya permainan mafia tekstil yang menyelundupkan tekstil ilegal berpotensi tidak saja menghilangkan pendapatan bagi negara  tetapi juga sangat merugikan bagi masyarakat. Industri tekstil menyerap banyak tenaga kerja, karenanya berharap tidak terjadi lagi ke depan, tidak terjadi lagi penyelundupan seperti itu. Aparat Bea Cukai, Kejaksaan Agung, Kepolisian dan pihak terkait lainnya diharapkan menjalankan tugas demi bangsa dan Negara.

Kasus ini berawal dari Ditjen Bea Cukai  berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 27 kontainer berisi tekstil premium di Pelabuhan Tanjung Priok pada 2 Maret lalu. Seluruh kontainer ini diketahui berlayar dari Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Kepulauan Riau. Dari 27 kontainer yang diamankan, 10 kontainer diketahui diimpor oleh PT Peter Garmindo Prima dan hanya membayar Rp 730 juta.  Sementara 17 kontainer lainnya diimpor oleh PT Flemings Indo Batam yang membayar Rp 1,09 miliar. Keseluruhan kontainer dikirimkan menuju satu alamat yang sama yakni Komplek Pergudangan Green Sedayu Bizpark, Cakung, Jakarta Timur. Dalam dokumen pengiriman, kontainer tersebut tercatat berisi kain poliester. Namun faktanya, 27 kontainer tersebut berisikan kain premium jenis sutra, satin dan brokat.

Sampai saat ini baru beberapa saksi yang dimintai keterangan. Belum diketahui Kejaksaan Agung bakal memeriksa berapa orang lain, dan apakah ada melibatkan oknum aparat Bea Cukai, masih menunggu perkembangan pengusutan kasusnya.

 

Editor : Dwi Putro Agus Asianto