logo

Quo Vadis Kuliah Daring

Quo Vadis Kuliah Daring

20 Mei 2020 12:11 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh : Lukman Hakim SIKom, MSos

Sepanjang lintasan sejarah pendidikan, bisa jadi tahun 2020 adalah yang paling menyita perhatian. Bukan sebab penemuan besar yang menggeser peradaban manusia, namun karena muncul dan menyebarnya virus korona di lebih dari 200 negara. Atas pertimbangan keselamatan dan karakter virus mematikan yang cepat menyebar bahkan sebagian penderitanya tidak memiliki gejala maka pemerintah mengambil kebijakan pencegahan. Seluruh perguruan tinggi diminta untuk menghentikan prose perkuliahan tatap muka.

 Sebagai gantinya, perkuliahan dilakukan secara jarak jauh. Dalam kondisi normal, perkuliahan menggunakan sistem blended learning (pembelajaran bauran). Sebanyak 75 persen dari waktu yang tersedia dilaksanakan secara tatap muka, sementara 25 persen sisanya secara daring. Kini berbalik 180 derajat, seluruh aktivitas perkuliahan menjadi 100 persen dilakukan secara daring. 

Diskursus mengenai kuliah daring memang banyak menuai pro dan kontra. Sebagian menyebut hikmah dibalik bencana kesehatan ini adalah terjadi percepatan adaptasi penggunaan teknologi komunikasi dalam proses perkuliahan. Dampak positifnya dosen dan mahasiswa tidak lagi bergantung pada pertemuan fisik  karena akan terbiasa menjalani perkuliahan jarak jauh.  

Pendapat lain beranggapan sebagian dosen dan mahasiswa tidak memiliki kesiapan yang cukup untuk menjalankan metode perkuliahan daring. Meski harus beradaptasi, akan membutuhkan waktu lama untuk memastikan perkuliahan berjalan optimal. Beberapa dosen yang tidak terbiasa menggunakan perkuliahan daring bahkan mengalami culture shock dan mengeluh kesulitan. Mereka mengaku tidak menguasai teknologi e-learning, baik yang disediakan kampus maupun aplikasi perkuliahan jarak jauh lain seperti Google Meet, Skype, Zoom atau Google Classroom. Pada akhirnya perkuliahan dijalankan secara pragmatis, sebatas menggugurkan kewajiban dan tidak berorentasi pada learning outcome.

Survei dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) kepada mahasiswa UGM dengan total responden 3.353 mahasiswa. Tujuan survei dilakukan untuk memperoleh respon pengalaman dalam mengikuti perkuliahan daring. Hasilnya, Perkuliahan daring dirasa oleh 52,3 persen mahasiswa memiliki kemiripan dengan kuliah dalam kelas. Sedangkan sisanya mahasiswa merasakan berbeda, sebanyak 37 persen kurang dan 10,7 persen sangat kurang. 

Hasil survei ini juga mendapatkan kesimpulan keunggulan perkuliahan daring yaitu tidak perlu persiapan ke kampus, lebih berani bertanya, lebih fleksibel dan rileks,  pengalaman baru, materi terdokumentasi  dengan  baik dan dapat dipelajari kembali, efisien waktu dan biaya. Sementara kekurangan kuliah daring di antaranya kuliah daring terkesan sama dengan tugas daring, beban tugas yang berlebihan, konsentrasi kadang menurun, dosen perlu lebih interaktif dan komunikatif, jadwal sering berganti hingga larut malam dan jaringan internet kadang tidak stabil. 

Uraian hasil survei di atas membantu kita memotret efektifitas perkuliahan selama masa pandemi. Tentu pembelajaran daring tidak sesempurna tatap muka dan juga bukan sepantasnya untuk diperbandingkan. Namun di antara ketidaksempurnaan itu diperlukan terobosan dan akselerasi untuk menjamin mutu perkuliahan tetap optimal.

Kerja Sama

Secara umum konsep perkuliahan sudah diatur dalam Permendikbud No 3 tahun 2020 tentang Standar Nasional Perdidikan Tinggi. Standar nilai yang harus ada dalam sebuah proses perkuliahan, di antaranya interaktif, holistik, integratif, saintifik, kontekstual, tematik, efektif, kolaboratif dan berpusat pada mahasiswa. 

Kesembilan nilai tersebut merupakan konsep perkuliahan modern yang sesuai dengan tantangan abad ke-21. Dosen dan mahasiswa didorong untuk menciptakan ruang kuliah yang efektif, efesien dan menyenangkan tanpa kehilangan esensi materi yang akan disampaikan. Ruh dari perkuliahan ini adalah memberikan kesempatan seluas-luasnya pada mahasiswa untuk mengeksplorasi bakat dan minat mahasiswa. 

Pada kondisi yang serba terbatas ini, kesadaran kolektif untuk belajar bersama merupakan hal yang penting dalam menjalankan kuliah daring. Dosen ekstra siap jika dimungkinkan 24 jam melayani diskusi ihwal materi, sehingga kuliah tidak dimaknai hanya pada saat jam kuliah berlangsung.

 Sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, dalam konteks kuliah menjadi : semua orang adalah mahasiswa, semua orang adalah dosen, dan semua tempat adalah kampus. Dengan kata lain mencari ilmu tidak terbatas waktu, orang dan tempat.

Begitu pula dengan mahasiswa, dalam keadaan darurat seperti ini perlu memompa semangat belajar dan mengasah rasa keingintahuan. Artinya mahasiswa sebagai pusat belajar tidak boleh hanya mengandalkan dosen, namun juga berusaha secara mandiri untuk mencari sumber lain yang tersedia di internet baik dalam bentuk jurnal, buku digital, diktat maupun video perkuliahan yang dapat diakses secara gratis. Jika mahasiswa menemukan kendala dalam proses belajar mandiri, dosen bertugas mengarahkan dan memberi pencerahan.

 Tidak kalah penting, peran sentral orang tua untuk mengingatkan dan memberikan dukungan kepada anak agar tetap bersemangat belajar. Meski hanya sekadar berdiskusi kecil mengenai materi kuliah, hal itu sangat membantu sekaligus bukti keterlibatan orang tua dalam proses belajar sang anak. Dengan begitu poros utama pendidikan yang selama ini seringkali hanya dibebankan pada dosen, di masa pandemi ini peran orang tua yang secara fisik dan emosional lebih dekat menjadi sangat penting bagi masa depan mahasiswa.

Keberhasilan perkuliahan daring pada akhirnya membutuhkan sokongan dari semua pihak. Utamanya kerja sama dosen dan orang tua yang pada titik tertentu dapat menstimulasi nalar produktif mahasiswa untuk berkarya memberi manfaat pada masyarakat luas. Melalui hal itu pula akan lahir banyak kreativitas baru yang terus terasah dan terlatih. Hasil dari masa pandemi lahir banyak mahasiswa yang unggul dan siap menyongsong masa depan yang lebih cerah.  Semoga ! ***

* Lukman Hakim SIKom, MSos - Dosen Komunikasi IAIN Kediri

Editor : Gungde Ariwangsa SH