logo

Covid-19: Terapi Plasma Konvalesen Manjur Sebagai Vaksin Pasif Dan Obat?

Covid-19: Terapi Plasma Konvalesen Manjur Sebagai Vaksin Pasif Dan Obat?

27 April 2020 16:18 WIB
Penulis : AG. Sofyan

SuaraKarya.id - JAKARTA: Masyarakat Indonesia bisa sedikit bernapas lega lantaran Dokter Theresia Monica Rahardjo SpAn KIK M.Si dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha (FK UKM)/RSGM Bandung berhasil menemukan satu cara jitu untuk "menaklukan" Covid-19, melalui Terapi Plasma Konvalesen (TPK) bagi pasien yang terinfeksi positif Corona.

"Untuk mengetahui apa itu Terapi Plasma Konvalesen (TPK) dan bagaimana TPK bekerja, benarkah TPK bisa menaklukan virus mematikan Covid-19. Saksikan obrolan saya dengan sahabat dr Theresia Monica Rahardjo secara lengkap di live instagram @sonia wibisono official, hari ini, Senin 27 April 2020, pukul 19.00 WIB," kata influencer dr Sonia Wibisono kepada pers melalui video call, Senin (27/4/2020).

Dan setelah itu akan tayang di youtube sonia wibisono.

Menurut yang dia ketahui, TPK merupakan salah satu bentuk vaksinasi pasif yang bisa membunuh virus Covid-19. TPK pernah diterapkan dalam mengatasi penyakit akibat Virus Ebola.

Bahkan, pada tahun 2014 WHO merekomendasikan TPK sebagai cara efektif untuk menaklukkan virus mematikan ini.

"Jadi, TPK pernah diterapkan untuk mengatasi wabah SARS, Ebola, H1N1 dan MERS. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa TPK pada penyakit-penyakit tersebut memberikan hasil yang cukup baik terutama bagi pasien dengan gejala berat sampai kritis," tutur dr Sonia.

Lebih lanjut Sonia Wibisono mengatakan, TPK pada penderita Covid-19 saat ini sudah dilakukan di Tiongkok, tepatnya pada saat wabah meledak. Dalam beberapa penelitian awal menunjukkan pemberian plasma konvalesen dari pasien Covid-19 yang sudah sembuh dapat meringankan gejala dan mempercepat penyembuhan pasien yang masih menderita penyakit tersebut.

"Kabarnya Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat telah memberikan ijin dan mengeluarkan persyaratan bagi donor pemberi plasma konvalesen dan resipien penerimanya. Karena, sampai saat ini belum ditemukan obat yang dirasakan sesuai untuk Covid-19. Sampai ditemukannya vaksin terhadap Covid-19, TPK merupakan jalan untuk mendapatkan kekebalan langsung terhadap penyakit ini," jelasnya.

Penggunaan plasma konvalesen, lanjut dr Sonia Wibisono adalah cara un terapi dr Theresia Monica Rahardjo bagi penderita Covid-19. Dalam terapi ini juga harus mengikuti beberapa tahapan yang dibutuhkan untuk mendapatkan dan mengumpulkan plasma konvalesen dari pasien Covid-19 yang telah sembuh dan memberikannya kepada pasien Covid-19 yang membutuhkan.

"Perlu identifikasi pasien Covid-19 yang sudah sembuh sebagai calon donor, informed consent dan seleksi donor, identifikasi golongan darah dan skrining terhadap infeksi menular lewat transfusi darah (IMLTD, red), pengambilan darah dan penanganan donor, pelabelan, penyimpanan dan koleksi data pada pelayanan transfusi darah, sangat informed bagi penerima TPK, termasuk pemeriksaan pratransfusi serta penyimpanan dan transportasi plasma konvalesen ke lokasi transfusi,"urai Sonia.

Donor yang sesuai pun, lanjut dr Sonia Wibisono, harus memenuhi beberapa syarat. Donor adalah pasien-pasien yang telah sembuh dari Covid-19 dengan kriteria inklusi sebagai berikut:

1. Usia ≥ 18 tahun sampai ≤ 60 tahun.

2. Resolusi gejala secara menyeluruh minimal 14 hari sebelum donasi plasma atau 14 hari diulang swab nasopharyngeal negatif.

3. Donor juga telah dinyatakan negatif 2 kali dari swab nasofaring..

4. Pernah dirawat di RS dengan gejala Covid-19 ringan atau isolasi mandiri dengan gejala Covid-19 ringan dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan RT-PCR.

5. Calon donor perempuan tidak dalam keadaan hamil (test serum kehamilan negatif) dan apabila pernah hamil dilakukan pemeriksaan HLA apabila tidak dapat dilakukan diutamakan wanita yang belum pernah hamil.

6. Bersedia diperiksa titer antibodi netralisasi/NAT (apabila pemeriksaan antibodi dapat dilakukan sebelum transfusi diutamakan yang memiliki titer optimal lebih besar dari 1:80).

UTD (Unit Trnasfusi Darah) RSPAD kemudian akan melakukan penggolongan calon donor yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

1. Identifikasi golongan darah A, B, O dan Rhesus (RhD)

2. Skrining darah terhadap HIV, HBV, HCV, Sifilis dan atau infeksi lainnya yang dianggap perlu menggunakan metode immunoassay dan atau NAT jika memungkinkan

3. Pemeriksaan kadar hemoglobin

4. Bila memungkinkan, titrasi antibodi total Covid-19 dan antibodi netralisasi Covid-19 yang dapat membantu kualifikasi donor, terutama bila donor menginginkan untuk memberikan plasmanya secara kontinyu

5. Pemeriksaan skrining antibodi eritrosit, jika memungkinkan. 

"Menurut keterangan singkat dokter Theresia, bila seseorang sudah diidentifikasi sebagai calon donor maka harus diberikan penjelasan mengenai kenapa plasmanya diperlukan sebagai terapi penderita Covid-19," ucapnya.

Dokter Sonia menyebut Resipien yang tepat yakni Pertama adalah penderita Covid-19 berat dengan salah satu gejala sesak napas dengan frekuensi napas lebih atau sama dengan 30 kali per menit. Gejala lainnya adalah saturasi oksigen kurang atau sama dengan 93% dengan PF Ratio < 300, infitrat paru > 50% dalam 24-48 jam.

Resipien yang tepat lanjutnya adalah Penderita Covid-19 kritis yakni mereka yang gagal napas (PF Ratio < 200), syok septik dan/atau disgungsi atau gagal organ multipel. Kemudian Resipien dapat diberikan kepada pasien rawat yang mengeluh sesak napas. Atau bagi mereka yang tidak diindikasikan sebagai pasien Covid-19 ringan (tanpa gejala sesak napas, tidak memenuhi kriteria Covid-19 berat atau kritis) Dan kepada Resipien yang terkategori telah Informed Consent.

"Menurut sumber yang dapat dipercaya bahwa ada pasien Covid-19 yang sudah kritis, (saturasi oksigen hanya 60, paru paru tergenang darah, ginjal dua duanya terganggu, ventilator dipasang melalui endotracheal), ketika diberikan terapi plasma konvalesen, dalam 1 x 24 jam gambaran parunya membaik. Beruntung dokter anesthesi yang merawat cerdas dan pantang menyerah. Dua dokter lain mendukung dan memberi masukan. Hanya 3 hari setelah diberi terapi plasma konvalesen, ventilator sudah dicopot dan pasien sudah bisa bernafas sendiri. Kondisi mereka sangat stabil," jelas dr Sonia Wibisono.

Dr Sonia juga berpesan kepada semua pasien yang sudah sembuh dari Covid-19 bisa tergerak hatinya untuk menjadi donor plasma di RSPAD Jakarta, RS Dr Soetomo Surabaya, RS Dr Kari adi Semarang yang sudah ada plasmaferesis. 

"Jadi bisa donor langsung untuk Jakarta, Jateng, dan Jatim," ucap Sonia. 

Ini karena banyak pasien kritis yang sangat membutuhkan uluran tangan dan solidaritas sesama penyintas. 

Bisa donor terutama bagi kelompok perempuan yang belum memiliki anak (karena masalah HLA yang bisa ditolak oleh badan penerima donor) atau juga laki laki. Karena kalau stok donor plasma cukup maka bukan tidak mungkin Indonesia bebas dari Covid-19 segera dan makin cepat selesai***