logo

Covid-19: Rekor Surat Utang Di Tengah Wabah

Covid-19: Rekor Surat Utang Di Tengah Wabah

10 April 2020 04:46 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Gungde Ariwangsa SH

Rekor sebenarnya lebih akrab di dunia olahraga. Itu menyangkut soal hasil terbaik karena dalam olahraga ada semangat untuk menjadi tercepat, tertinggi dan terkuat. Citius, Altius, Fortius. Prinsip hasil terbaik ini selalu menjadi acuan sehingga yang tercatat sebagai pencetak rekor hampir selalu menjadi milik sang pemenang atau yang berprestasi terbaik.

Namun jaman terus berkembang sehingga rekor pun tidak selalu untuk yang terbaik. Tidak harus selalu menjadi milik sang pemenang. Yang kalah dan meraih hasil buruk pun kini berhak mendapat gelar sebagai pemecah rekor. Sehingga munculah catatan rekor kekalahan terburuk, kekalahan tercepat, kekalahan terbesar, prestasi terburuk, penampilan terjelek dan lainnya yang arahnya kepada kepahitan.

Intinya rekor tidak lagi untuk yang terbaik. Terburuk pun bisa menyandang rekor. Perkembangan di dunia olahraga itu pun terjadi di bidang kehidupan lainnya. Rekor di bidang kehidupan lainnya itu juga sama. Tidak selalu untuk yang meraih prestasi terbaik. Yang buruk dan jelek pun bisa menyandang rekor.

Masalah rekor ini mencuat di Indonesia di kala wabah virus corona (Covid-19) tengah merebak dan mengganas di Tanah Air. Virus mematikan yang awalnya muncul dari Wuhan, China itu memberikan lebih banyak mengabarkan rekor buruk. Terutama soal rekor jumlah orang yang terdampak positif Covid-19 terus bertambah. Kemudian rekor yang meninggal juga bertambah dari hari ke hari.

Meskipun sebenarnya ada juga hasil baik, jumlah pasien yang sembuh terus bertambah. Namun jumlahnya belum mampu memecahkan rekor yang terdampak dan yang meninggal. Jadi sampai Jumat (10/4/2020) rekor wabah Covid-19 ini masih buruk dalam kehidupan negeri ini.

Covid-19 juga membawa kabar buruk bagi perekonomian Indonesia. Kurs rupiah terhadap mata uang asing, terutama dolar Amerika Serikat, juga mencetak rekor terendah karena sempat sampai melampaui Rp 17.000. Bahkan bila Covid-19 terus merajalela diperhitungkan rupiah juga akan bisa mencetak rekor sampai Rp 20.000 terhadap dolar AS.

Rekor lainnya dari imbas Covid-19 muncul pada bertambahnya utang Indonesia. Pemerintah terpaksa harus berutang lagi untuk menambah alokasi belanja dalam  menangani penyebaran virus corona yang semakin meluas. Akibatnya, defisit anggaran makin melebar dan makin membengkak hingga 5,07 persen.

Untuk mendukung pembiayaan Anggaran Pendapat Belanja Negara  dalam menghadapi pandemi virus corona (Covid-19), pemerintah Indonesia telah menerbitkan surat utang (Surat Berharga Negara) dengan denominasi dolar di tengah wabah Corona. Nilai surat utang itu mencapai  4,3 miliar dolar AS atau Rp68,8  triliun (kurs Rp 16.000), yang terdiri atas tiga jenis surat utang dengan tenor terpanang mencapai 50 tahun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, ketiga global bond berdenominasi dolar AS ini terbagi dalam tiga tenor yang berbeda. Yaitu seri RI1030, RI 1050, dan RI 0470. Penerbitan surat utang ini dalam rangka menjaga pembiayaan secara aman dan sekaligus menambah cadangan devisa bagi Bank Indonesia.

Seri RI1030. Global Bond USD bertenor 10,5 tahun dengan total 1,65 miliar dolar AS, dan oversubscribed 2 kali atau  3,53 miliar dolar AS. Surat utang ini jatuh tempo 15 Oktober 2030, dan memiliki kupon 3,85% yang dibayarkan dua kali dalam setahun (semi annually).

Seri RI 1050. Global Bond USD bertenor 30,5 tahun dengan total  1,65 miliar dolar AS yang oversubscribed hingga  3,33 miliar dolar AS dan jatuh tempo pada 15 Oktober 2050. Surat utang ini memiliki kupon 4,25% yang dibayarkan dua kali dalam setahun.

Seri RI 0470. Global Bond USD bertenor 50 tahun dengan nilai penerbitan  1 miliar dolar AS, dan oversubscribed 2,5 kali atau YS 2,59 miliar dolar AS. Surat utang ini jatuh tempo 15 April 2070, dengan kupon yang ditawarkan 4,45% yang dibayarkan dua kali dalam setahun.

Ini merupakan rekor dalam surat utang. Menurut  Sri Mulyani, ini merupakan penerbitan terbesar dalam US bond dalam sejarah RI. Dan Indonesia juga jadi negara pertama yang menerbitkan sovereign bond sejak pandemik Covid-19 terjadi. Penerbitan tenor 50 tahun ini, menjadi yang pertama kali juga di Indonesia dengan tenor terpanjang.

Rekor lainnya, Sri Mulyani juga menuturkan, penerbitan obligasi ini merupakan yang pertama diterbitkan sejak Covid-19 diumumkan. Ini negara pertama yang menerbitkan sovereign bond sejak pandemi Covid-19 terjadi. Untuk diketahui, katanya,  sejak pandemi diumumkan Februari sampai Maret tidak ada satu negara pun di Asia yang masuk global bond karena volatilitas dan gejolak yang besar.

Ada rekor lainnya, menurut  Sri Mulyani, obligasi dengan tenor 50 tahun merupakan seri terbaru yang diterbitkan pemerintah. Surat utang ini merupakan surat utang dengan tenor terpanjang.

Fakta ini menunjukan, walaupun diterpa wabah Covid-19, Indonesia mampu mencetak rekor demi demi dalam masalah surat utang. Karena ini menyangkut masalah utang yang butuh pelunasan yang temponya ada sampai tahun 2070, rekor ini masuk catatan terbaik ataukah terburuk? Prestasi atau kegagalan? Kemenangan ataukah kekalahan?

Kalau di dunia olahraga  capnya sudah langsung bisa ditempelkan. Karena kegembiraan dan kepedihan langsung dirasakan saat pertandingan berakhir. Namun ini bidang lain yang  penilaiannya membutuhkan ukuran, perhitungan dan pandangan sesuai dengan keahlian di bidang itu. Entah kalau dari segi kewajaran dan kewarasan. ***

* Gungde Ariwangsa – wartawan suarakarya.id, Ketua Siwo PWI Pusat, pemegang Kartu UKW Utama.

Editor : Gungde Ariwangsa SH