logo

Wamendes PDTT: Terlalu Berisiko Desa Menerima Arus Mudik

 Wamendes PDTT: Terlalu Berisiko Desa Menerima Arus Mudik

Wamendes PDTT Budi Arie Setiadi. (foto,ist)
07 April 2020 22:44 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Kendati seluruh desa sudah menyiapkan berbagai protokol untuk menerima para pemudik. Relawan desa sudah dibentuk dan bekerja untuk mengantisipasi penyebaran wabah Corona. Namun, masih terlalu beresiko membiarkan desa menerima arus mudik.

Demikian dikemukakan Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Wamendes PDTT) Budi Arie Setiadi, di Jakarta, Senin (6/4/2020).

"Ini bukan soal siap atau tidak siap. Ini soal risiko yang harus menjadi beban desa. Jika tahun lalu ada sekitar 20 juta pemudik. Dengan asumsi sebagian besar mudik ke Pulau Jawa maka setiap desa di Jawa harus menanggung rata- rata 1200 - 1300 pemudik di momen itu. Tentu ini beban yang berat," jelas dia.

Memang diakuinya, mudik di hari raya Lebaran adalah peristiwa Sosio Kultural yang sudah menjadi tradisi di Indonesia. Hal ini karena nilai-nilai kekeluargaan dan kekerabatan yang sangat dijunjung tinggi masyarakat Indonesia.

"Dan, untuk diketahui jumlah desa di pulau Jawa di luar Jakarta ada 15.470 desa dengan rincian Banten 1237 desa, Jawa Barat 5311 desa, Jawa Tengah 7808 desa, DIY 391 desa, serta Jawa Timur 7723 desa," ungkap Wamendes.

Karenanya, lanjut dia, selain desa harus di lindungi dari para pemudik. Beban desa juga harus di-manage dengan jumlah yang rasional dan masuk akal. "Mitigasi risiko harus akurat. Jangan biarkan desa menerima beban di luar kemampuannya. Jangan biarkan desa menanggung risiko," ujarnya.

Seperti diketahui, wabah Covid-19 yang melanda seluruh dunia termasuk Indonesia, akan memasuki fase yang krusial khususnya saat Hari Raya Lebaran atau Idul Fitri.

Editor : Gungde Ariwangsa SH