logo

Covid-19 Dan Ancaman Terorisme

Covid-19 Dan Ancaman Terorisme

07 April 2020 15:25 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: Jamil Wahab

Caroline Thomas menyatakan, keamanan bukan hanya berkaitan dengan nexus military-external tapi juga menyangkut dimensi-dimensi lain. Keamanan bukan hanya sebatas pada dimensi militer, tapi merujuk pada seluruh dimensi yang menentukan eksistensi Negara. 

Saat ini, Indonesia menghadapi potensi ancaman keamanan yang bersumber dari adanya wabah pandemi yaitu penyebaran Virus Corona (Covid 19). Virus Corona menjadi masalah kesehatan global sejak awal tahun 2020. Virus ini berawal dari sebuah kota di China, Wuhan, kemudian menyebar ke Thailand, Jepang, dan kemudian ke hampir semua negara di dunia, tak terkecuali negara-negara di Timur Tengah, Eropa, dan Amerika.

Di Indonesia, jumlah pasien yang positif terinfeksi Virus tersebut per 6 April 2020 jadi 2.491 orang. Dari jumlah itu, 209 orang di antaranya meninggal dunia dan 192 pasien dinyatakan sembuh. Korban yang terus-menerus bertambah dan penyebaran virus yang makin luas membuat banyak orang khawatir akan kesehatan mereka. Menyikapi pandemi Corona ini, pemerintah telah menerbitkan sejumlah perundangan. Diantaranya, Keppres No. 11 tahun 2020 tentang status Kedaruratan Kesehatan, Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 2020 soal Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), serta Peraturan Pemerintah Pengganti UU (Perppu) terkait anggaran penanganan dampak Covid-19.

Selain wabah pandemi Corona tersebut, Indonesia sesungguhnya juga memiliki potensi ancaman lain yang juga tidak kalah serius yaitu: narkoba, korupsi, dan radikalisme-terorisme. Untuk potensi ancaman radikalisme-terorisme, Kapolri Jendral Idham Aziz menyatakan ada 9 kasus terorisme di tahun 2019. Di banding dengan tahun 2018, terorisme mengalami penurunan hingga 52,6 persen. 

Meski jumlah aksinya menurun, namun ancaman terorisme tidak boleh diabaikan, terorisme senantiasa memanfaatkan situasi yang tepat untuk melancarkan aksinya. Meski aparat terus memburu dan menangkapnya, jaringan teroris tidak pernah mati, tapi terus bermutasi dan mengalami regenerasi.

Mencermati apa yang terjadi di tahun 2019, dalam kasus Bom Surabaya dan Sibolga, dimana ada keterlibatan istri dan bahkan anak-anak (kasus Bom Surabaya), semua itu menunjukkan, meski kuantitasnya menurun, namun secara kualitas meningkat. Demikian halnya dalam kasus penusukan Wiranto yang dilakukan dengan sebilah pisau dan pejabat negara menjadi korbannya. Untuk mendapatkan media coverge, sasarannya tidak lagi harus banyaknya korban, tapi siapa yang jadi korban. Ini sebuah modus baru, sehingga semua perlu meningkatkan antisipasi dan penanganannya.

Terorisme banyak dilakukan atas nama agama, dan tidak hanya terjadi dalam agama Islam. Agama-agama lain juga pernah diatas namakan terorisme untuk aksi-aksinya. Pelaku terorisme meyakini bahwa apa yang telah dilakukannya adalah bentuk amalan dalam memperjuangkan agama. Ini lah salah satu jawaban, mengapa terorisme sulit diberantas, bahkan bermunculan kelompok-kelompok baru. 

Meski sebagian pengamat menyatakan terorisme berkaitan erat dengan politik. Namun untuk mencapai tujuan politiknya itu, terorisme telah melakukan segalanya, termasuk dengan menunggangi dan membajak ayat-ayat Kitab suci. Buya Syafii Maarif (2014) pernah menyatakan, Indonesia sebenarnya korban terorisme yang dilakukan oleh anak-anaknya sendiri yang bekerjasama dengan warga negara lain. Pelaku teror adalah mereka yang merasa benar di jalan yang sesat dengan dalil-dalil agama. 

Nacos (1994) pernah menulis, rangkaian kekerasan yang dilakukan kelompok teroris memiliki tiga tujuan universal, yaitu untuk menarik perhatian, pengakuan, serta penghormatan dan legitimasi. Atas dasar itu, setiap moment dan kesempatan pasti dimanfaatkan untuk mewujudkan tujuannya. 

Mereka tidak pernah surut, meski Indonesia sedang dilanda pandemi Corona. Kasus penangkapan 5 orang terduga teroris di Batang Jateng pada Rabu (25/03/2020)  membuktikan hal itu. Sejumlah senjata dan bom rakitan diamankan dari lokasi. Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Argo Woyono menyatakan mereka akan melakukan aksi, namun aparat berhasil menangkapnya.

Di tengah pemerintah dan masyarakat bersama-sama sibuk menghadapi ancaman Pandemi Virus Corona, tidak menutup kemungkinan, sebagaimana terjadi di Batang Jateng, momen demikian itu dimanfaatkan kelompok dan jaringan terorisme untuk mengkonsolidasikan diri demi mewujudkan tujuannya dengan sejumlah aksi-aksi teror. Atas dasar itu, aparat keamanan dan juga masyarakat harus tetap meningkatkan kewaspadaan dan tidak boleh lengah. ***

Depok, 7 April 2020

* Jamil Wahab, Peneliti Balitbang dan Diklat Kemenag

Editor : Dwi Putro Agus Asianto