logo

Ekonomi Galau

Ekonomi Galau

06 April 2020 00:01 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Ekonomi terpuruk, bursa meradang, kepariwisataan lesu dan semua kegiatan ekonomi bisnis saat ini mati suri seolah hidup segan mati tidak mau. Betapa tidak, rentang waktu dua bulan sejak virus corona menerpa dengan penyebarannya yang begitu cepat bukan saja antardaerah tetapi lintas negara telah mematikan semua kegiatan ekonomi bisnis, tidak saja yang termasuk kelas UMKM tapi jenis usaha menengah besar. 

Ironisnya realitas ini tidak hanya terjadi di mayoritas negara miskin berkembang tetapi juga di negara industri maju. Artinya, tidak ada yang mampu mengelak dari dampak sebaran virus corona. Oleh karena itu bisa dipastikan pertumbuhan ekonomi global melambat dan wajar jika situasi ini berpengaruh terhadap koreksi prospek ekonomi global.

Kegalauan dalam memandang prospek ekonomi global tentu beralasan karena salah satu pintu masuk dari kegiatan ekonomi bisnis global terhenti yaitu arus barang jasa. Bandara di sejumlah negara membatasi operasional, sejumlah maskapai mengurangi jam terbang dan memilih mengandangkan sebagian maskapainya karena tidak mungkin terbang jika tanpa penumpang sementara sejumlah negara sudah menutup pintu masuk orang asing. Berbagai upaya dan kebijakan diterapkan sejumlah negara untuk mereduksi sebaran dari virus corona, namun entah mengapa pastinya kasusnya terus saja bertambah. Kalkulasi dari semua pihak memberikan gambaran tentang ancaman serius sebaran virus corona dan pastinya perekonomian cenderung semakin galau dan penuh ketidakpastian.

Kebijakan lockdown, WFR, social distancing dan stay at home sudah digaungkan tetapi faktanya tetap saja mobilitas orang dan barang – jasa terjadi. Tentunya hal ini tidak bisa kemudian disalahkan karena mereka juga butuh hidup sementara hidupnya hanya terjadi jika mereka kerja diluar, apapun jenis pekerjaannya. Artinya, mereka tidak bisa berdiam diri di rumah sambil menunggu ketidakpastian, sementara berdiam diri di rumah identik dengan menganggur dan jika ini dilakukan berarti tidak ada pemasukan. Fatalnya jika ini terus berlanjut maka daya tahun hidup dan kehidupan rumah tangga pastinya terancam.

Bagaimanapun juga dampak sistemik sebaran virus corona telah memicu rasa kegalauan jangka panjang. Padahal biasanya menjelang ramadhan sudah terlihat geliat riil ekonomi bisnis, termasuk tentunya kuliner yang menjadi bagian dari ramadhan. Ironsinya, semua itu sepertinya tidak akan nampak dalam ramadhan ini dan atau setidaknya bisa sampai lebaran. Bahkan pemerintah telah menghimbau agar masyarakat tidak mudik lebaran ini yang itu semua dimaksudkan untuk memutus mata rantai sebaran virus corona. Tentunya tidak mudah memutus kebiasaan mudik karena mudik menjadi bagian dari ritme lebaran termasuk tentu THR dan libur bersama yang lumayan buat hiburan. Artinya, kebijakan melarang mudik di lebaran ini bisa menjadi sejarah kelam bagi ritual tradisi keagamaan.

Terlepas dari berbagai pertimbangan, pastinya, ekonomi galau yang terjadi tidak mudah untuk mengobatinya. Bahkan sejumlah kebijakan dan stimulus yang dilakukan juga saat ini belum menunjukan dampak signifikan. Oleh karena itu bisa dipastikan kegalauan ini masih akan terus berlanjut, entah sampai kapan. Jadi, lebih baik bersikap optimis meski harus juga diakui pesimisme cenderung lebih kuat dan pastinya kegalauan ekonomi ini akan berlangsung sampai kapan? ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Editor : Gungde Ariwangsa SH