logo

Dr Andi Samsan Nganro SH MH Dinilai Pilihan Tepat Gantikan Hatta Ali

Dr Andi Samsan Nganro SH MH Dinilai Pilihan Tepat Gantikan Hatta Ali

Dr Andi Samsan Nganro SH MH
30 Maret 2020 16:36 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Ketua Mahkamah Agung (MA) Hatta Ali akan memasuki masa pensiun sebagai hakim agung pada 7 April 2020 saat berusia 70 tahun. Oleh karena upayanya memperpanjang tidak memberi hasil – harus revisi UU dulu – maka siapa penggantinya itulah teka-teki menarik saat ini.

Sejumlah nama mulai mencuat. Salah satunya hakim agung Dr  Andi Samsan Nganro SH MH. Meski baru-baru ini Andi Samsan Nganro diangkat menjadi Ketua Muda MA bidang Pengawasan merangkap Juru Bicara MA, Andi Samsan Nganro yang lahir di Wajo, Sulsel, pada 2 Januari 1953,  pendidikan S1 diselesaikan di Unhas, Makassar, S2 di Universitas Krisnadwipayana Jakarta, dan S3 di Unpad Bandung, justru lebih berpeluang. Kesederhanaan, kejujuran, kematangan, kenegarawanannya menjadi modal bagi hakim agung yang meniti karir 1980 sebagai hakim di PN Ujungpandang. Ketua PN Tenggarong 1998-2000. Ketua PN Jakarta Selatan 2006, Ketua PN Cibinong Jabar 2003-2006, Wakil Ketua PT dan Ketua PT sebelum akhirnya menjadi hakim agung tersebut.

Selain itu terdapat Supandi, Sunarto, M Syarifuddin, dan Suhadi. Benteng hukum atau penegakan di Tanah Air  saat ini memang butuh MA yang bisa memuaskan dahaga keadilan masyarakat. Selama ini masyarakat memperoleh keadilan atau tingkat kepuasan terhadap MA masihlah jauh dari memuaskan. MA saat ini  masih memiliki sejumlah perkara dalam penyelesaian kasus hukum. Apalagi, sampai saat ini lembaga hukum tersebut masih tersandera kasus Sekretaris MA, Nurhadi, yang kini buron dan dalam pengejaran aparat Kepolisian dan KPK.

Di sisi lain ada pula yang mendapat apresiasi publik seperti ketika MA membuat putusan yang memenuhi rasa keadilan masyarakat. Sejumlah asosiasi hukum pun berharap pimpinan MA mendatang diisi oleh pendekar hukum yang dapat menjadikan hukum sebagai panglima.

Menurut Ketua Asosiasi Pengajar Hukum Adat (APHA), Dr Laksanto Utomo, calon ketua MA baru  menjadi perhatian khusus bagi pemerhati hukum, masyarakat, khususnya pencari keadilan. Dia merasa perlu mencari profil (Ketua MA) yang bisa memberikan rasa keadilan  kepada masyarakat.

Pembina Asosiasi Pimpinan Perguruan Tinggi Hukum Indonesia (APPTHI), Faisal Santiago menilai ke 5 kandidat calon Ketua MA sama-sama memiliki peluang menjadi Ketua MA. Faisal berharap Ketua MA mendatang jauh lebih baik dari yang ada saat ini.

Para pemerhati hukum juga berharap pada pemilihan Ketua MA yang akan datang, terpilih yang berintegritas, tidak mempunyai cacat secara hukum, dan dia mempunyai keinginan yang besar untuk menegakkan keadilan di Indonesia, karena ada putusan-putusan MA yang tidak berpihak kepada masyarakat.  Jadi memang harus mencari orang yang berkualitas.

“Saya melihat dalam figur Pak Andi Samsan Nganro terdapat poin-poin penting yang dibutuhkan masyarakat pencari keadilan. Pak Andi mempunyai suatu hal yang dapat memuaskan dahaga keadilan masyarakat yang selama ini jarang sekali terpuaskan,” tutur Hartono Tanuwidjaja SH MSi MH CBL di Jakarta, Senin (30/3/2020).

Hartono Tanuwidjaja berharap kemandirian dan perbaikan lembaga peradilan (yudikatif) jangan sebatas harapan. Dia menilai harapan terhadap perbaikan kondisi peradilan di negeri ini sepenuhnya digantungkan pada MA, khususnya Ketua MA. Itu pula salah satu alasan mengapa pemilihan Ketua MA selalu menyedot banyak perhatian.

Ketua MA menjadi pembuat perubahan dunia peradilan kita karena posisi Ketua MA pada saat ini jelas merupakan posisi yang sangat vital. Belum lagi adanya muatan-muatan politis yang membebani pemilihan Ketua MA.

Namun mengingat pengalaman kerja Andi Samsan Nganro yang dari bawah dan tampak konsisten berperilaku semenjak hakim biasa di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat hingga sampai hakim agung niscaya tidaklah salah alamat jika masyarakat berharap bakal tegak hukum berkeadilan dan berkebenaran di tangannya manakala menjadi pemimpin tertinggi MA.

Hal itu bisa dilihat dari kiprah-kiprahnya. Andi pada awal kariernya beberapa kali menangani perkara yang terbilang kompleks sehingga  memerlukan terobosan-terobosan. Dalam kasus Nunukan, misalnya, Andi harus menghadapi jenis gugatan citizen lawsuit (gugatan kelompok warga) yang kala itu baru dikenal di Indonesia. Andi akhirnya memenangkan gugatan tersebut dan menyatakan pemerintah bersalah karena dinilai belum maksimal dalam melindungi tenaga kerja migran.

Kasus lainnya adalah kasus kehilangan kendaraan di lahan parkir yang dikelola oleh Secure Parking. Dalam kasus ini, Andi mencoba menerobos klausula baku “pengelola parkir tidak bertanggung jawab atas segala kehilangan atau kerusakan” yang tertera di karcis parkir. “Dengan keberanian menerobos klausula baku, tujuannya agar para pengelola parkir tahu diri juga, bahwa mereka tidak boleh berlindung semata-mata pada aturan formal dalam karcis itu,” paparnya.  Andi memenangkan gugatan.

Ketika bertugas di PN Jakarta Selatan awal tahun 2006, Andi mendapat tantangan menangani perkara yang menarik perhatian publik seperti  praperadilan SKP3 Soeharto dan kasus suap yang melibatkan dua warga PN Jakarta Selatan yakni hakim Herman Allositandi dan panitera Andry Djemi Lumanauw. Andi menjawab semua itu dengan modal komitmen konsisten, jujur, berintegritas, penuh tanggung jawab, menunjukkan contoh yang baik dan memberikan pelayanan yang baik kepada pencari keadilan. Semoga mendapat kepercayaan dari teman-temanmu sesama hakim agung Puang!!!.

 

Editor : Gungde Ariwangsa SH