logo

Tenaga Medis,  Entah Kata Apa Yang Tepat Untuk Kalian?

Tenaga Medis, Entah Kata Apa Yang Tepat Untuk Kalian?

23 Maret 2020 21:36 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Jusuf Irianto

Di tengah situasi seperti ini. Kala orang riuh di medsos namun senyap di rumah, justru kalian pertaruhkan jiwa raga di tempat tugas. Kalian semua melayani mereka dengan tulus ikhlas. Sesekali tersenyum. Terus Serius. Telaten. Sabar. Kalian juga sempat bercanda dengan sesama profesi. Melepas lelah barangkali. Tak pernah bosan kalian layani penderita. Siap juga kalian menghadapi berbagai resiko.

Orang awam taunya kalian hidup serba enak. Fasilitas wah. Istri cantik atau suami tampan. Penghasilan gede. Mobil tahun terbaru. Rumah mentereng. Benar memang. Itu setelah para dokter atau tenaga medis lainnya telah mengabdi sekian waktu. Ada penghargaan dan kompensasi layak yang tentu saja mereka pantas peroleh.

Namun kala baru merintis karir sebagai dokter atau dokter gigi atau tenaga medis lainnya beda. Mereka tak tau kalau gaji kalian pun tak seberapa dibanding mereka yang sok berjuang atas nama rakyat. Saya dengar, adik-adik kita yang sedang undertaking Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) tak dapat se persen pun gaji atau upah.

Sementara mereka juga terlibat dalam situasi gawat seperti ini. Tiba-tiba ada berita mengejutkan. Innallillahi wa inna ilaihi raji'un.

Sejumlah dokter yang merawat penderita akibat pandemi Covid-19 pergi meninggalkan kita semua. Dokter yang meninggalkan kita itu, ada yang masih belia dengan foto tersenyum ramah. Ada pula yang sudah berumur meski belum bisa dikatakan sangat tua.

Sejumlah doa dipanjatkan oleh semua, untuk dokter yang telah pergi meninggalkan kita selamanya. Semoga Allah SWT mengabulkan doa-doa itu. Tak kurang sejumlah tokoh, akademisi, politisi, pejabat pemerintah dan kalangan lainnya pun meluapkan ekspresi prihatin, simpati, bahkan air mata kesedihan.

Di tengah situasi kritis ini pula, shahib saya di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya Prof Dr Moh Ali Aziz MAg mengingatkan saya, akan makna para dokter yang telah meninggalkan kita selamanya. Kata beliau: "Kalian adalah syuhada. Airmata tak terbendung dengan iringan bacaan al-Fatihah untuk para dokter..... Mereka amat mulia .... Ketika semua orang diperintah menjauh, justru dokter terpanggil mendekat dan menolong ...... 23 tenaga medis terpapar, dan 6 dokter wafat.

Mereka wafat di tengah usaha menyelamatkan nyawa orang. Wahai syuhada dokter kekasih Allah, selamat jalan menuju surga-Nya..... Allah selalu menyanjungmu, bahwa “Siapa pun yang menyelematkan satu nyawa, sama dengan menyelamatkan semua manusia” (QS. 5: 32)".

Prof Aziz, pegiat shalat khusuk, menutupnya dengan harapan indah' "Demi Allah, saya juga ingin menjadi syuhada". Saya, mereka para tenaga medis yang kini berjihad fii sabilillah itu, dan kami semua juga Ingin menjadi syuhada. Tiada lain balasan kecuali surga Allah.

Tapi cukupkah doa, simpati, empati, rasa iba, air mata, syuhada dan surga? Belum cukup. Mereka kini tetap setia dengan pengabdiannya. Terus melayani tanpa lelah. Tak ada keinginan menyampaikan kenaikan gaji atau lainnya. Meski kita (pemerintah) harus mulai memikirkannya untuk menghargai para dokter dengan tugas mulia itu.

Lalu, entah apalagi yang dapat kita pikirkan, katakan, dan lakukan? Karena semua yang telah kita "lakukan" untuk para dokter dan tenaga medis lainnya belum cukup. Selamat mengabdi para dokter dan tenaga medis. Aku menyanjungmu. Semoga Allah SWT memberikan segala kebaikan bagi kalian semua. Aamiin. ***

Surabaya, 23 Maret 2020.

* Jusuf Irianto -  Guru Besar Universitas Airlangga

Editor : Gungde Ariwangsa SH