logo

Genjot Ekspor Teh Tiga Kali Lipat Butuh Gerakan Nasional

Genjot Ekspor Teh Tiga Kali Lipat Butuh Gerakan Nasional

Pembicara dalam FGD Strategi Pengembangan Agribisnis Teh Dalam Rangka Meningkatkan Ekspor 3 Kali Lipat, Kamis (27/2/2020) di Jakarta.
27 Februari 2020 21:19 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Guna mendukung program KementerianPertanian (Kementan) untuk melakukan ekspor tiga kali lipat melalui program Gerakan Ekspor Tiga Kali (Gratieks), Dewan Teh mendesak pemerintah untuk menerapkan Gerakan Nasional (Gernas) Teh.

Pendapat itu mengemuka dalam Forum Groum Discusion (FGD) Strategi Pengembangan Agribisnis Teh Dalam Rangka Meningkatkan Ekspor 4 Kali Lipat, Kamis (27/2/2020) di Jakarta.

Ketua Dewan Teh Indonesia (DTI), Rachmat Gunadi mengatakan untuk mendorong ekspor maka diperlukan perbaikan di sektor hulu, salah satunya  dengan Gerakan Nasional (Gernas) Teh, seperti yang dilakukan pada Gernas Kakao. 

"Penyediaan bibit teh menjadi krusial dalam gernas teh sebab 1 hektare lahan teh dibutuhkan 10 ribu bibit teh, untuk itu dibutuhkan teknologi perbanyakan bibit seperti yang dilakukan pada gernas kakao yakni menggunakan teknologi somatik embryogenesis (SE)," ujarnya.

Hal senada diungkapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Petani teh Indonesia (Aptehindo), Nugroho B. Koesnohadi bahwa untuk meningkatkan ekspor maka perlu Gernas Teh.

Anggaran untuk Gernas Teh diperkirakan sekitar Rp 2,6 triliun untuk lahan seluas sekitar 55 ribu hektare dengan perincian intesifikasi sekitar 9 ribu hektare, rehabilitasi sekitar 28 hektare, replanting sekitar 13 ribu hektare dan  new planting atau perluasan sekitar 3,378 hektare.

“Jadi angka Rp 2,6 triliun tersebut, didapat dari intensifikasi dibutuhkan Rp 15 juta per hektare, rehabilitasi sebesar Rp 27.500.000 per hektare, replanting sebesar Rp 100 juta per hektare dan new planting sebesar Rp 100 juta per hektare. Sehingga jika ditotal anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp  2,6 triliun,” terang Nugroho.

Data Aptehindo menyebutkan,  pada tahun 2009 luas perkebunan teh di Indonesia  sebanyak 123.506  hektare (ha). Kurun  10 tahun terakhir (pada tahun 2019) luas kebun teh  tinggal  113.029 ha. Artinya, dalam waktu 10 tahun areal teh di Indonesia menurun seluas 10,477  ha.

“Penurunnya  rata-rata lebih dari 1.000 ha per tahun. Cukup banyak areal perkebunan teh BUMN dan perkebunan besar swasta (PBS) dikonversi ke tanaman lain. Karena pengusahaan tanaman teh dinilai oleh mereka  kurang menguntungkan,” ucapnya.

Kendati lahannya berkurang, kurun lima tahun terakhir  banyak petani teh rakyat yang melakukan penanaman baru (new planting) maupun replanting di lahan  mereka maupun di lahan PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat). 

Dari penanaman itu, Nugroho berharap bisa mendorong industri teh nasional agar tidak semakin terpuruk.

Menurut dia, guna memperbaiki sektor hulu, pemerintah dan stakeholder terkait, perlu melakukan perbaikan lingkungan agribisnis teh. Selain itu, untuk mendorong program lima tahun ke depan perlu road map yang lebih fokus dan detail.

“Pelaksanaan program  pengembangan industri teh, selain dari APBN juga bisa didukung oleh sumber dana organisasi kerja yang memadai. Bisa juga memanfaatkan KUR,” kata dia.

Komoditas Strategis

Ketua Dewan Pembina Gabungan Asosiasi petani Perkebunan Indonesia (Gaperindo) Gamal Nasir mengakui dengan Gernas Teh, pemerintah telah melakukan investasi jangka panjang, mengingat kebutuhan konsumsi teh terus meningkat dan bahkan dengan melakukan Gernas Teh sama saja dengan mengangkat derajat petani teh.

Gamal juga mengusulkan kepada pemerintah agar komoditas teh masuk dalam komoditas strategis. 

Sementara itu, pendiri Teh Sila, Iriana Ekasari mengungkapkan, ada beberapa penghambat yang  harus dibenahi, agar industri teh nasional tak lumpuh.  Pembenahannya memang dari hulu-hilir.

“Pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya harus segera turun tangan untuk mengatasi kendala pengembangan industri teh nasional. Jika pemerintah tak turun tangan, industri teh akan terpuruk,” papar Iriana.

Pembenahan industri teh perlu segera dilakukan, karena pasar komoditas teh dunia pun bergerak ke arah teh premium. Sementara itu, industri teh nasional masih berkutat pada teh non premium.

Namun Iriana, mengakui pembenahan di hulu sepertinya tak semudah membalikkan telapan tangan.  Mengingat, riset teh Indonesia pun dibiarkan merana. Bahkan, riset teh tidak didanai oleh industri maupun pemerintah. Lemahnya riset tersebut, klon teh Indonesia kalah unggul dalam  hal inner quality dibandingkan teh negara lain.

“Bandingkan dengan Srilanka,  saat ini klon-nya sudah seri 5.000,” ujarnya.

Iriana juga mengatakan, mayoritas konsumen teh Indonesia tidak diedukasi mengonsumsi teh berkualitas. Dampaknya, di saat ekspor komoditas teh tertekan, industri teh kesulitan membanjiri pasar dalam negeri.

“Konsumen pun perlu diedukasi, bahwa minum teh itu menyehatkan. Kalangan milenial harus diajarkan minum teh, supaya kita punya pasar di dalam negeri. Minum teh juga dijadikan budaya, karena punya nilai historis dan ekologis bagi suatu daerah,” kata dia.

Menurut Iriana, selain teh premiun, konsumen saat ini juga menginginkan produk teh yang punya nilai tambah, seperti manfaat kesehatan. "Artinya,  konsumen tak lagi hanya murni mengonsumsi teh biasa, sehingga,  fokus industri  teh ke depan tak sekadar mengejar produktivitas, tapi juga kualitas,” tutur Iriana. ***