logo

Raja Ampat Kini Bebeda Dengan Dulu

 Raja Ampat Kini Bebeda Dengan Dulu

Kampung Wisata Arborek, Raja Ampat/Foto:Istimewa
21 Februari 2020 05:30 WIB
Penulis : Yacob Nauly

SuaraKarya.id - SORONG:Kabupaten Raja Ampat  baru aman dari kerusakan  dan pencemaran laut setelah  resmi menjadi kabupaten  baru  terlepas dari  Sorong.

“Jadi saya mau bilang bahwa  kabupaten Raja Ampat menjadi lumbung ikan baru terhitung  sekitar 15 hingga 20 tahun ini. Karena ketika  masih satu kabupaten yang beribukota di Sorong, perburuan ikan dengan  bahan peledak (bom) mau pun potasium  terjadi hampir setiap hari di daerah ini,”kata Mama  Robeka, warga asli Raja Ampat kepada suarakarya.id, di  Sorong, Jumat  (2i/2/2020) pagi.

Dikatakannya, Raja Ampat aman dari pemboman ikan hingga  penggunaan potasium baru  beberapa tahun terakhir setelah kabupaten kepulauan ini terbentuk.

Sebagai orang asli Raja Ampat, ia menilai, daerah kepulauan ini  paling maju setelah  menjadi sebuah  pemerintahan sendiri terlepas dari kabupaten induk.

Dahulu lanjutnya, tak ada istilah  destinasi seperti belakangan ini banyak sekali istilah pariwisata  yang terkadang  membingungkan masayarakat asli  setempat.

“Maksud saya begini, kenapa  orang  di daerah lain bisa hidup dari pariwisata sementara kami di Papua dan Papua Barat tak bisa hidup dari objek wisata yang  kita punya. Ini yang perlu    dipikirkan oleh masyarakat Papua itu sendiri,”kata  Mama Robeka.

Menurutnya, di Papua dan Papua Barat, baru kabupaten Raja Ampat yang kini menjadi  destinasi  wisata yang  mampu bersaing dengan daerah lain seperti Bali dan NTB. Sedangkan kabupaten / kota lainnya  di Papua dan Papua Barat hingga kini baru pada titik rencana dan rencana.

Kepada warga asli Papua  di dua provinsi ini, lanjutnya,  harus studi banding di  Raja Ampat  untuk mempelajari bagaimana  objek wisata  di sana dipelaihara  dan dilindungi secara profesional.

 “Sebagai orang asli Raja Ampat saya bangga dengan kemajuan daerah ini dari tahun ke tahun. Oleh  karena itu, kepada saudara-saudara saya di Papua dan Papua Barat lainnya, harus belajar merawat  objek wisata seperti di kabupaten Raja Ampat,” katanya.

Dikatakan, di kabupaten Raja Ampat itu ada wisata snorkeling terindah  dan  menjadi surga bagi  berbagai jenis ikan yang hidup di sana. Tempatnya ada di Waegeo kampung Arborek, Sawingrai, Sawendarek, Yembuba dan Prin Wol.

“Sebagai warga Raja Ampat, saya mau katakan bahwa sekarang ini Pemda Raja Ampat  makin giat untuk  menjaga  perairan setempat bebas dari pencemaran mau pun  kerusakan terumbu karang. Berbagai peraturan daerah sudah dikeluarkan untuk melindungi  objek wisata di daerah ini,”ujarnya.

Hal senada, juga disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten  Raja Ampat,Yusdi Lamatenggo, belum lama ini. Ia membenarkan bahwa  di  Raja Ampat banyak ikan terutama di  lima destinasi tersebut karena masyarakat menjaga kelestarian laut.

Menurutnya, ada satu tradisi di Raja Ampat yang  paling baik untuk memproteksi  daerah ini dari kerusakan laut. “Proteksi itu disebut  ‘sasi’ oleh masyarakat  Raja Ampat yang didukung oleh  pemerintah dan Agama,”katanya.

Di suatu kawasan apakah laut atau daratan dengan aneka hasilnya  kalau sudah diberikan tanda sasi, itu  artinya  hasil bisa diambil jika  sudah matang.  Kemudian, cara memanen hasilnya pun harus mengikuti tradisi setempat.

“Intinya, sasi itu  penting bagi masyarakat adat untuk  menjaga lingkungannya. Utamanya, untuk   terlindungi  dari  kerusakan, akibat ulah orang-orang yang mengambil hasil setempat tanpa  memperdulikan kerusakan yang ditimbulkan,”katanya. ***