logo

Kemenkes Sebut 23 K/L Terlibat Atasi Stunting

Kemenkes Sebut 23 K/L Terlibat Atasi Stunting

Direktur Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan Rr. Dhian Probhoyekti Dipo.
13 Februari 2020 09:24 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Stunting menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling disorot di Indonesia. Betapa tidak, hasil riset tahun 2013 prevelensi balita stunting di Indonesia mencapai angka 37,8 persen. Angka yang sama dengan jumlah balita stunting di Ethiopia. Tahun 2019, angka prevalensi stunting masih 27,67 persen.

Di antara negara-negara G20, angka stunting itu menjadi yang tertinggi. Oleh karena itu untuk menggalakkan upaya percepatan pencegahan stunting, banyak kementerian/lembaga dilibatkan, juga pemerintah daerah, dikomando langsung oleh Wapres.

Bahkan upaya penurunan prevalensi stunting tidak hanya mendorong ketersediaan makanan, tetapi juga mengintervensi sampai pada tingkat keluarga untuk mengubah pola hidup sehat.

Direktur Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan Rr. Dhian Probhoyekti Dipo mengatakan, pemerintah sudah membuat Peraturan Presiden dalam menangani kasus stunting. 

"Ada 23 kementerian dan lembaga yang berperan dalam mengatasi stunting dan masing-masing bekerja  dengan titik yang sama, tapi programnya sesuai tupoksinya," ujarnya dalam diskusi yang diinisiasi majalah Agrina bertema "Wujudkan SDM Unggul Indonesia melalui Pengendalian Stunting", Rabu (12/2/2020), di Jakarta.

Dhian menyebutkan, berkat koordinasi antar-kementerian tersebut, tahun 2019 prevalensi balita stunting berhasil mencapai angka 27,67 persen. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mintanya 20 persen.

“Pada Tahun 2020 ada 260 lokus stunting. Jadi semua kementerian/lembaga pada locus yang sama sesuai tugas-tugasnya. Dulu masing-masing, sekarang bersama-sama,” katanya.

Pada Tahun 2020, pemerintah menargetkan dari 27,7 persen kasus stunting menjadi 24,1 persen dengan locus 260 kabupaten/kota. Kemudian pada tahun 2024 target stunting menjadi hanya 14 persen dengan locus stunting semua kabuapten/kota dengan kegiatan yang sama.

Beberapa pendekatan multi sektoral yakni, pendekatan intervensi gizi spesifik oleh Kementerian Kesehatan. Kemudian pendekatan intervensi gizi sensitif oleh kelembagaan/lembaga lain. Selanjutnya pendekatan di lingkungan.

Strategi nasional dalam percepatan pencegahan stunting adalah dengan menjadikan pencegahan stunting sebagai program prioritas nasional. "Kemudian memperkuat konvergensi pusat dan daerah, perubahan perilaku masyakarta, meningkatkan akses makan begizi dan seimbang dan mendorong ketahanan pangan," ucapnya. 

Bukan Kurang Makan

Dhian menyebutkan, masalah stunting bukan sekadar kurang makan. "Kurang beragamnya pola makan anak, masih tingginya angka rawan pangan, kurangnya pendidikan, tingginya kemiskinan, semua tutut memberi andil pada stunting," kata dia.

Semua kondisi tersebut berdampak pada gagal tumbuh, berat badan saat lahir rendah, menghambat perkembangan kogniyif dan motorik, gangguan metabolik saat dewasa, serta kerugian ekonomi 2-3 persen setiap tahun.

Disebutkan, investasi untuk perbaikan gizi dapat membanty memutus lingkaran kemiskinan dan meningkatkan PDB.

"Tiap 1 dolar yang diinvestasikan pada gizi dapat menghasilkan kembalinya 30 dolar dalam peningkaran kesehatan, pendidikan dan produktivitas," ujar Dhian. ***

Editor : Laksito Adi Darmono