logo

Balada Impor

Balada Impor

13 Februari 2020 00:01 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Virus corona ternyata berdampak sistemik tidak hanya di bidang kesehatan tetapi juga di banyak bidang, termasuk dalam perdagangan dan tentu ekspor impor. Setidaknya hal ini terlihat dari sejumlah komoditas yang tergantung dengan impor dari China dan tentu selain ekspor ke China. Oleh karena itu, dipastikan ketergantungan impor dan ekspor itu berpengaruh terhadap kepastian pasokan dari dan ke China.

Artinya, bisa dipastikan pada saat ini sampai virus corona mereda akan terjadi ketimpangan pasokan barang dari dan ke China yang tentu berimbas terhadap fluktuasi harga. Implikasi dari situasi ini tentunya berpengaruh terhadap hukum permintaan dan penawaran yang kemudian menjadikan ini berdampak sistemik terhadap daya beli dan neraca perdagangan, baik bilateral atau multilateral. Setidaknya dalam waktu sebulan akan terjadi perlambatan pasokan barang dari dan ke China yang kemudian memacu harga jual produk.

Jika dicermati kasus virus corona adalah fenomena yang tidak bisa terlepas dari realitas di era globalisasi dan sekaligus menguatkan argumen tentang dampak globalisasi, tidak saja di bidang sosial ekonomi tetapi juga budaya politik. Setidaknya fenomena K-pop di era kekinian telah membuktikan betapa globalisasi dan budaya bisa menjadi komoditas yang juga menjanjikan mendatangkan keuntungan. Selain kuliner juga tidak bisa lepas dari dampak globalisasi itu sendiri sehingga kuliner dan budaya serta kebudayaan juga menyatu dengan gencarnya promosi sebagai bagian dari daya saing di era globalisasi.

Oleh karena itu, beralasan jika kemudian kuliner, budaya dan kebudayaan banyak yang dimanfaatkan untuk memacu penerimaan dan sekaligus mengangkat country image. Di satu sisi hal ini sangat dimungkinkan dengan adanya penetrasi informasi dan internet di semua ruang yang didukung dengan tarifnya yang semakin murah serta juga perangkat smartphone yang semakin multi fungsi. Di sisi lain dampaknya juga perlu dicermati.

Konsekuensi dari itu semua maka apa yang terjadi di salah satu negara bisa berimbas di negara lain dengan cepat. Artinya, apa yang terjadi dengan virus corona hanyalah salah satu dari dampak sistemik pasar global dan era globalisasi itu sendiri. Setidaknya imbas dari virus corona telah dirasakan di dalam negeri, misalnya penolakan warga di Natuna karena daerahnya dipakai sebagai karantina, sementara di sisi lain bahaya virus corona tidak diragukan lagi.

Argumen yang mendasari karena sudah ada ratusan jiwa melayang dan tidak terselamatkan nyawanya. Jadi, wajar jika kemudian bahaya virus corona perlu dicermati dan diwaspadai sebagai bahaya global karena tidak hanya kasuistik domestik di Wuhan tetapi telah menyebar di sejumlah negara sementara ancaman virusnya konon belum ada obatnya sehingga hal ini menambah kecemasan publik. Setidaknya kasus ini memberikan pembelajaran tentang dampak sistemik yang harus diantisipasi dari kasus yang terjadi secara global dan karenanya virus corona memicu sentimen terhadap kasus impor ekspor dan tentu imbasnya ke komoditas impor dari China, termasuk tentu harga bawang yang mulai meroket di pasaran. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo