logo

Sidang Lanjutan Kasus Judi Online, Tiga Saksi Verbal Diperiksa

Sidang Lanjutan Kasus Judi Online,  Tiga Saksi Verbal Diperiksa

Tiga saksi kasus judi online diminta keterangan kesaksiaannya di PN Jakarta Utara, Rabu (29/1/2020).
29 Januari 2020 15:28 WIB
Penulis : Yon Parjiyono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Empat orang oknum penyidik diduga memalsukan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dalam kasus perjudian online dilaporkan ke SPK Polda Metro Jaya, Selasa (28/1/2020).

Berbekal dengan contoh tandatangan palsu dan surat pernyataan dari saksi yang menerangkan bahwa dirinya tidak pernah di BAP dan menandatangani BAP, LQ Lawfirm melaporkan empat oknum penyidik tersebut ke Polda Metro Jaya. Empat penyidik tersebut dipanggil pula di sidang lanjutan PN Jakarta Utara, Rabu (29/1/2020) di mana 3 diantaranya hadir 1 orang pamit dan 2 penyidik senior menjadi saksi verbal lisan yang diperiksa kesaksiannya.

Ketiga orang penyidik yang menjadi saksi duduk dengan ekspresi tidak tenang dan diperingatkan hakim akan keterangan dibawah sumpah. Saat ditanyakan oleh pengacara Alvin Lim mengapa BAP saksi dan empat BAP penyidik lainnya sama persis pertanyaan dan jawabannya kata demi kata, penyidik tidak dapat menjawabnya.

Alvin menyatakan bahwa tidak mungkin lima orang ditanyakan sama sekalipun, tapi jawabannya sama persis kata demi kata bahkan titik koma dan garis miringnya. Apakah ini pertanyaannya dan jawaban sudah disiapkan sebelumnya oleh penyidik? "Tidak," kata penyidik yang diperiksamenjawab.

Lalu tanya pengacara Alvin Lim, apabila tidak, bagaimana mungkin kata demi kata sama persis 12 halaman tersebut? Penyidik tidak dapat menjawab dengan yakin pertanyaan tersebut. Giliran Majelis Hakim bertanya kepada penyidik,

"Apakah pertanyaan no 6 ini adalah jawaban saksi Ujang?" Yang kemudian dibenarkan oleh Penyidik. Hakim kembali melanjutkan pertanyaannya, di sini jawaban Ujang di BAP tertera bahwa Bandar Soegianto telah ditetapkan menjadi DPO di Unit Resmib Polda Metro Jaya. Bagaiamana mungkin saksi Ujang mengetahui Soegianto menjadi DPO padahal hal tersebut adalah rahasia penyidikan dan Ujang bukanlah penyidik dan tidak mungkin mengetahui hal tersebut.

Dengan keringat dingin, saksi penyidik mengatakan bahwa dirinya lah yang memberi tahu jawaban tersebut. Para majelis hakim tertawa mendengar jawaban Saksi Verbal Lisan dari penyidik Resmob Polda Metro Jaya tersebut. Canda majaleis hakim kemudian,

"Pak saksi penyidik apakah ada pertanyaan dan jawaban lain yang bapak jawab selain ini?" Yang kemudian disambut dengan senyuman lebar para hakim dan pengunjung sidang.

Tandry Laksana SH, lawyer LQ Indonesia Lawfirm yang dimintai keterangan oleh wartawan usai sidang mengatakan bahwa sebenarnya hakim telah jelas melihat bahwa BAP yang disajikan oleh penyidik resmob adalah rekayasa dan sudah dibuat oleh para oknum penyidik sebelum diduga ditandatangani palsu.

Oleh karena itu LQ Indonesia Lawfirm dengan tegas memasukkan laporan ke Polda Metro Jaya untuk memeriksan secara pidana para oknum penyidik dan melakukan lab Forensik apakah tandatangan tersebut palsu untuk dibuktikan lebih lanjut.

Alvin lebih lanjut mengatakan pemalsuan tandatangan dan surat BAP rekayasa tersebut sudah di laporkan dengan LP # TBL/594/I/YAN 2.5/2020/SPKT PMJ tanggal 28 Januari 2020 dan bukti yang dilampirkan adalah bukti KTP dengan tandatangan dipalsukan, surat pernyataan dan copy BAP yang diduga dipalsukan.

Selain aduan pidana kami akan mengadukan hal ini ke Propam, IPW dan Kompolnas agar di tindaklanjuti. Tidak boleh ada penegak hukum yang malah mengkriminalisasi, apalagi ada dugaan uang Rp149 juta yang ada dalam rekening salah satu tersangka diduga dikosongkan dan diambil oleh oknum penyidik Resmob yang menangani kasus ini. "Ini siapa kriminalnya jika begini," ujar Alvin Lim, pengacara yang kerap Vokal menyiarakan reformasi dan perbaikan di tubuh Polri.

Ketika hakim menanyakan kepada JPU, Fedrik Adhar, apakah ada saksi lain yang ingin diajukan?Fedrik menjawab tidak ada yang mulia, sudah cukup. "Dengan demikian saksi ahli TPPU tidak diperiksa dan dianggap gugur karena tidak diperiksa didepan pengadilan," ujar Tandry Laksana yang meminta ketegasan hakim mengenai Ahli TPPU karena sesuai kuhap keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan di depan muka persidangan.

Sidang selanjutnya adalah pemeriksaan Saksi ahli dari pihak Penasehat Hukum pada Kamis (30/1/2020).

Editor : Laksito Adi Darmono