logo

Duta Museum Jangan Hanya Jadi Pajangan, Tetapi Kampanyekan Wisata Edutainment

Duta Museum Jangan Hanya Jadi Pajangan, Tetapi  Kampanyekan Wisata Edutainment

12 Desember 2019 07:25 WIB
Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - JAKARTA:  Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) DKI Jakarta/Paramita Jaya,  Yiyok Trio Herlambang mengatakan grand final pemilihan Duta Museum DKI Jakarta 2019 akan diselenggarakan di Museum Mandiri 17 Desember 2019 dengan kehadiran Gubernur DKI Jakarta Anies R Baswedan dan Dirjen Kebudayaan.

Diharapkan agar Duta Museum yang terpilih nanti dapat menjadi kepanjangan tangan museum museum di DKI Jakarta untuk  mengkampanyekan wisata edutainment (Edukasi dan Entertainment).  Dengan demikian museum museum ini terbantukan dalam menyampaikan informasi dan pemahaman kepada masyarakat tentang museum dan kegiatannya, terutama kepada generasi muda.

Hal itu disampaikan Yiyok T Herlambang Rabu (11/12/2019) kepada suarakarya.id. "Penyampaian informasi tersebut tentu saja dengan gaya milenial sehingga banyak generasi muda yang datang ke museum," tambahnya.

Yiyok Herlambang juga sepaham dengan tokoh permuseuman  Prioyulianto Hutomo pada pertemuan Mugalemon (Museum, galeri dan monumen) AMI DKI di Gedung Layanan Publik Balitbang Kementerian  Kesehatan RI  Jl Percetakan Negara Jakarfa Pusat Selasa (10/12/2019), bahwa Duta Museum tidak boleh hanya  menjadi pajangan seremonial. "Jangan hanya mendampingi pejabat menggunting pita," kata Prioyulianto mantan Kepala Museum di Irian Jaya/Papua itu.

Dalam pertemuan Mugalemon tersebut  Wakil Ketua AMI DKI Jakarta Budi Trinovari memperkenalkan 11 orang dari 20 finalis pemilihan Duta Museum DKI 2019.
Menurut Budi proses seleksinya cukup lama   oleh para ahlinya yang sangat berkompeten melalui pengenalan dari museum  ke museum yang  diawali dari Museum Kebangkitan Nasional. "Para finalis ini putra putri pilihan dari kalangan umum dengan rentang usia 18 sampai 25 tahun," kata Budi yang mantan Abang Jakarta.

Pertemuan dan diskusi Mugalemon itu dibuka Kepala Balitbang Kemetrian Kesehatan Dr Siswanto sekaligus merayakan HUT ke 44 Balitbang Kesehatan dengan diikuti 150 peserta dari 68 museum, galeri dan monumen serta komunitas pecinta museum. Hadir pula Sekjen AMI DKI Mis Ari, mantan Sekretaris Balitbang Indah Agung Pratiwi dan Kepala TU Pusat Konservasi Cagar Budaya Disparbud DKI Erlinda.

Sebagai pemateri Prioyulianto mengingatkan agar tiap museum itu harus berbadan hukum dan jelas visi & misinya. Keharusan itu diatur oleh PP no.66 tahun 2015 sebagai juklak UU no.11 tahun 2010 tentang cagar budaya. Bang Ahmad budayawan pecinta wastra dan  H Abu Galih pengamat budaya dan pariwisata juga hadir.

Prio dan Ketua Komunitas Historia Indonesia,  Asep Kambali sepaham bahwa pemandu di museum adalah edukator  yang harus dapat bercerita tentang tiap koleksi kepada pengunjung museum.

Harus ditegaskan tugas pemandu wisata atau tour leader tidak boleh memandu wisatawan di museum. Sebab itu tugas pemandu museum.
Prio menganjurkan agar tiap museum menciptakan program publik yang interaktif. "Tak perlu mahal tetapi menarik," ujarnya.
Penutupan pertemuan Mugalemon kali ini dilakukan Sekretaris Balitbangkes Dr Nana Mulyana.

Dia mengungkapkan di Indonesia ada 5 tempat wisata kesehatan yaitu di Balitbangkes Jakarta, Ciamis, Tawangmangu, Salatiga, dan Surabaya.
Sebelum pulang peserta pertemuan Mugalemon diajak menjelajah dalam Galeri Balitbang yang memajang mikroskop tahun 1970 an, rempah rempah bahan obat maupun jamu serta panel  informasi kasus penularan penyakit dan budaya etnik di Indonesia  yang sejalan dengan budaya sehat. ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto