logo

Kasus Penyelundupan Harley, Pengamat Menduga Ari Askara Sengaja Disingkirkan

Kasus Penyelundupan Harley, Pengamat Menduga Ari Askara Sengaja Disingkirkan

Pengamat Politik, Irwan Suhanto.
09 Desember 2019 16:30 WIB
Penulis : Agung Elang

SuaraKarya.id - JAKARTA: Polemik yang belakangan ramai diberitakan media tentang 'skandal' Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Ari Askara, yang diberitakan melakukan penyelundupan motor Harley Davidson, mendapatkan tanggapan dari Irwan Suhanto, aktivis yang juga sekaligus pengamat politik.

Menurut Irwan, perisitiwa ini mengandung banyak kejanggalan yang bisa saja terindikasi bahwa Ari Askara dijebak untuk dihabisi.

Wartawan Suarakarya.id mewawancarai Irwan di Jakarta, Senin, (9/12/2019). Berikut petikan wawancaranya :

Wartawan:

Anda bersuara berbeda tentang kasus Ari Askara ini, mengapa?

Irwan :

Sejak mengetahui peristiwa ini lewat media, saya mempelajari kepingan kronologis yang saya dapatkan dari media massa. Saya merasa apa yang menimpa Ari Askara ini janggal, ganjil. 

Karena itu saya tidak serta merta mempercayai apa yang diberitakan media.

Wartawan:

Apa yang menurut Anda janggal dan ganjil?

Irwan :

Peristiwanya (harley davidson di bandara) terjadi pada pertengahan November, kenapa baru Desember diberitakan?

Kalau saja itu benar penyelundupan, harusnya khan itu langsung ditangkap tangan. Apalagi saya dengar, pihak bea cukai sendiri mengetahuinya.

Lagipula, mana ada penyelundupan barang mewah si pemiliknya ikut serta disitu, seperti tidak mampu bayar kurir saja.

Ada interfal waktu yang tidak sebentar, sejak harley itu sampai ke Indonesia sampai kemunculannya di media massa.

Wartawan:

Apa yang terjadi sebenarnya menurut Anda?

Irwan :

Begini, sejak terbentuknya pemerintahan baru Jokowi di periode kedua ini, yang kemudian terbentuk pula Kabinet Indonesia Maju. Beberapa pos menteri bergeser atau juga berganti, salahsatunya Kementerian BUMN. Banyak pihak, awalnya meyakini Rini Soemarno tetap memimpin kementerian ini, tapi ternyata justru digantikan, oleh seorang pendatang baru dunia politik yang kebetulan ketua tim pemenangan pasangan Jokowi-Makruf, Erick Thohir. Masuknya Erick menandakan terjadinya sebuah pergantian rezim di Kementerian BUMN. 

Salahsatu yang juga lazim dalam sebuah pergantian rezim adalah pembersihan orang-orang yang dianggap bagian dari rezim lama. Ari ini khan dipandang sebagai "orangnya Rini", jadi penyingkiran dirinya menjadi konsekuensi logis.

Wartawan:

Apa iya hanya untuk mengganti orang-orang rezim lama, lalu sampai terjadi kekisruhan sebesar ini? Bukankah cost-nya menjadi mahal?

Irwan :

Persoalannya bukan cuma bersih-bersih orang rezim lama, tapi juga sang pemegang kuasa baru di kementerian terkait hari ini perlu sebuah 'ledakan popularitas'. 

Sebagai seorang yang menggantikan posisi menteri yang lumayan kontroversial seperti Rini, diperlukan momentum-momentum yang istimewa,bukan?

Ini semacam bejana berhubungan, agar naik maka diperlukan tekanan. Untuk popularitas naik kan diperlukan pihak yang ditekan, diinjak.

Wartawan :

Analisa Anda agak konspiratif ?

Irwan :

Lho, Dirut BUMN, seperti halnya Garuda, adalah jabatan politik. Dalam politik, ketersingkiran seorang direktur utama perusahaan negara harus dianalisa secara konspiratif, sama seperti ketika ia muncul saat dipilih memimpin.

Memang bisa saja Ari Askara dicopot seperti biasa, tapi atas alasan apa? Garuda tidak merugi, dalam kasus dengan PT Sriwijaya Air, Ari tegas bersikap ingin tetap mengelola Sriwijaya hanya demi mengamankan uang negara yang menjadi piutang Sriwijaya Air kepada Garuda. Saat itu Rini mendukung langkah Ari, walaupun saya tidak habis pikir karena Menteri Perhubungan justru bersikap sebaliknya kepada Garuda.

Karena tidak ada alasan formal yang biasa itulah maka Ari bisa saja dicari-cari kesalahannya. Disamping tentunya sang Menteri BUMN juga memerlukan "ledakan" untuk meluncurkannya keatas. Jika kita teliti keping demi keping peristiwa ini, maka analisa saya akan menjadi rasional.

Wartawan :

Terkait adanya Harley Davidson?

Irwan :

Sudah saya sampaikan diawal tadi. Jika memang terjadi penyelundupan, kenapa bea cukai tidak meringkus Ari ditempat? 

Kenapa baru berkoar setengah bulan kemudian. Ini kan tidak benar. Coba cek semua peristiwa penyelundupan dimanapun, si pemilik barang biasanya hanya menugaskan kurir, bukan dia langsung yang gondol-gondol itu barang, itu konyol namanya. Apalagi Ari itu Dirut Garuda, apa iya dia seceroboh itu?

Ini kan berengsek. Waktu barangnya datang, bea cukai diam saja, tapi setengah bulan kemudian, pimpinan mereka Menteri Keuangan malah melakukan konferensi pers dan menyatakan telah terjadi tindak penyelundupan. Ini ganjil.

Wartawan :

Bisa memberikan gambaran bahwa ini jebakan, seperti yang Anda sampaikan?

Irwan :

Saya katakan "bisa saja", bukan pasti dijebak. Tetapi yang mendasari perkataan itu selain ganjilnya sikap bea cukai seperti yang saya paparkan diatas, saya tidak melihat Ari diberi kesempatan membela diri, media langsung mendominasi pemberitaan bahwa Ari bersalah, padahal proses apapun saja belum ada. Opini jauh meninggalkan fakta-realita dan proses hukum. Ari Askara dibully masyarakat. Anak-anaknya saya dengar sampai malu. Ini kan tidak benar. Ari mungkin agak lengah, sehingga ia terperangkap permainan penghabisan karier dirinya.

Wartawan: Bukankah banyak pihak di internal Garuda belakangan ikut membuka borok-borok Ari?

Irwan : Kita ini terlalu naif sampai tidak lagi bisa membedakan mana rumors mana fakta. Apa yang disampaikan para peselancar yang ada didalam Garuda itu sudah dibuktikan? Kaan belum.  Dalam situasi seperti ini, kemunculan para peselancar yang ikut menenggelamkan Ari lumrah terjadi. Motivasi mereka khan macam-macam, bisa materi atau jabatan, tapi bisa juga merupakan bagian yang satu dengan skenario menghabisi Ari.

Jadi seakan-akan Ari ini gak ada bagus-bagusnya. Saya beri contoh ya, ketika Sriwijaya Air dipegang pengelolaannya oleh Garuda, karyawan Sriwijaya sejahtera. Mereka memperoleh hak yang setara dengan karyawan Garuda. Kalau kepada karyawan perusahaan swasta yang dikelolanya saja Ari bertanggungjawab, masa iya kepada karyawannya sendiri dia abai, itu mustahil. Tapi itulah, kadang ada saja pihak yang ingin mengail untung dari musibah kawan sendiri.

Wartawan: Lalu bagaimana dengan keberadaan Putri, yang disinyalir sebagai gundik peliharaan Ari?

Irwan :Nah, Anda saja menggunakan kata 'disinyalir', tandanya belum tentu, baru diduga. Saya kok tidak tertarik hal tersebut. Itu ada dalam ranah privat, pacar gelap itu kan urusan privat. 

Kalaupun benar, salah Ari dimana? Banyak kok pejabat yang simpan gundik, jangan munafiklah. Pejabat lelaki simpan gundik perempuan, pejabat perempuan simpan gundik laki-laki, bahkan mungkin ada pejabat lelaki yang simpan gundik laki-laki.

Wartawan: Masalahnya, diberitakan bahwa Ari menggunakan uang negara untuk membiayai "makeover" wajah Putri

Irwan : Memangnya ada buktinya? Atau cuma asumsi? Kalo ada buktinya, bawa saja ke pengadilan, jangan beropini. 

Wartawan :

Terakhir, apa kesimpulan Anda ?

Irwan :

Persoalan Ari Askara ini bisa saja merupakan jebakan, bukan sekedar untuk menyingkirkan Ari, tapi juga mungkin untuk mengangkat popularitas pihak-pihak tertentu.

Bayangkan, dalam hitungan hari, berkembangnya opini sudah jauh melampaui proses hukum dan pembuktian fakta-fakta. Ari dihakimi oleh opini yang disebarkan lewat media. Sedangkan disaat yang sama, Ari tidak pernah dimintakan klarifikasinya. 

Saya bisa merasakan apa yang dirasakan Ari, anak-anak dan keluarganya. Mereka pasti amat tertekan, sedangkan jangankan bukti, proses hukum apapun belum dilakukan, tapi opini sudah lebih dulu tersebar.

Catatan saya, jika orang sekelas Ari yang merupakan direktur utama di perusahaan negara kelas A saja bisa diperlakukan sedemikian rupa, apalagi kita yang cuma rakyat biasa. Ini preseden buruk bagi kita semua.