logo

Pengamat: Sangat Realistis Bila Jokowi Dukung Airlangga Jadi Ketum Golkar

Pengamat: Sangat Realistis Bila Jokowi Dukung Airlangga Jadi Ketum Golkar

Ketua Umum Partai Golkar Airlangga hartarto saat bersama Presiden Joko Widodo.
20 November 2019 13:33 WIB
Penulis : Muhajir

SuaraKarya.id - JAKARTA: Jelang Musyawarah Nasional Partai Golkar yang akan dilaksanakan pada Desember 2019, konstelasi di interal partai berlambang pohon beringin ini mulai memanas. Dari empat kandidat yang digadang gadang bakal bertarung untuk memperebutkan kursi Golkar Satu, nama Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo (Bamsoet) diprediksi bakal bersaing ketat.

Nama Airlangga Hartarto yang merupakan calon dari petahana dinilai sebagai sosok yang diunggulkan dalam Munas Partai Golkar mendatang. Selain sebagai ketua umum Golkar, Airlangga juga dipercaya Presiden Joko Widodo memegang jabatan strategis di pemerintahanKabinet Indonesia Maju (KIM) sebagai menteri kordinator ekonomi.

Pengamat politik dari Progress Indonesia (PI) Idrus Mony menilai jabatan yang diemban oleh Airlangga tidak main-main, mengingat masa depan ekonomi negeri ini lima tahun ke depan berada dalam ekspektasi sang menteri kordinator bidang ekonomi.

“Dari serangkaian jabatan yang diemban oleh Airlangga dapat dipastikan bahwa mantan menperin itu merupakan orang dekat Presiden,” ujar Idrus dalam keterangan tertulisnya yang diterima Suarakarya.id, Rabu (20/11/2019).

Idrus mengungkapkan, dalam beperapa pertemuan yang dihadiri Presiden dan beberapa petinggi partai pengusung Jokowi-Maruf, nama Airlangga kerap disanjung oleh sang Presiden.

“Buat publik bahasa eksplisit yang disampaikan oleh Jokowi memberikan isyarat ke publik bahwa Jokowi menginginkan keberlanjutan kepemimpinan Airlangga sebagai ketua umum Partai Golkar ke depan,” ucap direktur eksekutif Progress Indonesia ini.

Menurut dia, sangat sederhana bila publik melihat alasan subjektif dari Presiden.

“Yang pertama secara kedekatan Airlangga dianggap bisa untuk merefleksikan mimpi Jokowi untuk membawa visi Indonesia maju agar sukses dengan segudang mimpi yang ingin direalisasikan oleh sang presiden,” beber Idrus.

Selanjutnya, kata dia, secara politik Partai Golkar tidak dapat di anggap remeh dalam percaturan politik tanah air.

“Ide dan wacana partai yang dianggap dedengkot hanyalah Partai Golkar karena di partai ini terdapat segudang kader atau figur partai yang mumpuni secara kompetensi keilmuan,” ungkap Idrus.

Alasan lain terkait mendukung Airlangga kembali menjabat ketua umum Golkar, agar kedepan dapat mengamankan sejumlah kebijakan Jokowi di parlamen. Dimana kebijakan tersebut harus mendapat restu dari anggota dewan. “Sebagai partai pemenang kedua setelah PDIP tentunya Partai Golkar tidak bisa di pandang sebelah mata,” tutur Idrus.

Sementara itu, figur penantang yang kedua adalah Bambang Soesatyo, figur ini juga tidak dapat di pandang remeh oleh sang petahana Airlangga Hartarto.

Seperti diketahui, dinamika di tubuh Partai Golkar kembali terjadi jelang Musyawarah Nasional untuk memilih Ketua Umum pada Desember 2019. Dinamika itu muncul setelah Wakil Koordinator Bidang Pratama Golkar Bambang Soesatyo menyatakan maju sebagai penantang Airlangga Hartarto selaku bakal calon petahana.

Bamsoet yang kini menjabat sebagai Ketua DPR mengklaim telah mendapat dukungan dari sejumlah DPD Golkar tingkat I dan organisasi sayap partai. Sementara Airlangga secara mengejutkan memboyong 34 Ketua DPD Golkar menghadap Presiden Joko Widodo.**