logo

Sering Tak Hadiri Musyawarah Warga, Pengelola Pasar MGT Sibuk Di DPRD Provinsi Jawa Barat

Sering Tak Hadiri Musyawarah Warga, Pengelola Pasar MGT Sibuk Di DPRD Provinsi Jawa Barat

Musyawarah warga dengan pengelola Pasar MGT didampingi Lurah, UPTD LH, Pol PP, Babinsa, Bimaspol Muatikajaya, juga dikawal anggota Komisi II DPRD Kota Bekasi, di Aula Kelurahan Mustikajaya, Sabtu (9/11/2019). (Foto: Dharma/suarakarya.id).
09 November 2019 21:14 WIB
Penulis : Dharma/Aji

SuaraKarya.id - BEKASI: Warga dilingkungan RW 024 Perumahan Mutiara Gading Timur (MGT) bersama pengelola pasar dipertemukan kembali dalam agenda musyawarah oleh pihak Kelurahan Mustikajaya, Kota Bekasi.

Musyawarah itu dalam rangka mencari titik temu atau solusi terkait penanganan sampah yang menimbulkan bau menyengat hingga rembesan air limbah mengganggu sarana warga sekitar.

Dalam pertemuan itu, perwakilan warga MGT sedikit kecewa lantaran pengelola pasar (owner) tidak pernah menghadiri undangan musyawarah.

Namun diketahui jika pengelola Pasar MGT itu adalah seorang anggota DPRD Provinsi Jawa Barat asal dapil Jabar 9 (Kabupaten Bekasi), AS dari Partai Demokrat.

Ketika dikonfirmasi suarakarya.id, perwakilan pengelola pasar, Marjuki membenarkan hal tersebut. Ia datang mewakili pengelola pasar dalam agenda musyawarah yang dipimpin oleh Lurah Mustikajaya Muhamad Farid, UPTD Lingkungan Hidup, Sat Pol PP, Bimaspol, Babinsa setempat juga dikawal anggota Komisi II DPRD Kota Bekasi, Alimudin.

Marjuki mengaku tidak ada yang dirugikan terkait hasil musyawarah yang telah dirumuskan pihak Kelurahan.

"Ga ada. Ya, saya kan cuman kesepakatan rapat hari ini. Kedepannya yang punya (pengelola) urusannya, itu aja," ucapnya.

Marjuki sebelumnya telah menyampaikan kepada pemilik pasar. Namun karena kesibukannya tidak bisa hadir dalam rapat musyawarah tersebut.

"Kita sudah sampaikan, saya mewakilkan beliau (AS). Karena beliau belum sempat. Kalau memang perlu dipanggil secara kedinasan," ujar dia.

Sementara itu, Lurah Mustikajaya telah merumuskan dua penyelesaian sampah yakni jangka pendek dan panjang.

Jangka pendek ini berkaitan dengan peningkatan ritase pengangkutan sampah dan dibarengi dengan menggunakan polyester (karung) yang tidak rembes air.

"Diharapkan nanti akan mengurangi tingkat kebauan yang ada di tempat pembuangan sampah itu. Kalau semakin sampah didiamkan akan semakin membusuk," kata Lurah Mustikajaya, Muhamad Farid kepadasuarakarya.id, Sabtu (9/11/2019).

Sedangkan jangka panjang, lanjutnya, pembangunan tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) dan saluran air (crossingan) yang langsung menuju Kali Jambe.

"Penentuan titik TPST itu akan di musyawarahkan lagi, selain minta surat permohonan ke pengembang Perumahan MGT untuk tidak menimbulkan permasalahan baru," kata Farid.

Sekretaris RW 024 Perumahan MGT, Ardiansyah meminta pengelola pasar untuk melaksanakan jangka pendek yakni pertama, pengangkutan sampah dua kali dalam seminggu.

Kedua, untuk rembesan yang berada dibelakang pasar yang bersentuhan langsung dengan lapangan Bulu Tangkis di RT 01/RW 024, akan dinormalisasi saluran air. Kemudian diarahkan kedepan pasar atau relokasi pedagang ayam dan ikan yang menggunakan air.

Ketiga, saluran air (utama) dipindakan kedepan pasar sehingga tidak masuk kedalam saluran air dilingkungan warga sekitar.

Selanjutnya, jangka panjang berkaitan dengan pembangunan tempat pembuangan sampah terpadu (TPS) di depan pasar.

"Kita akan meminta izin ke pihak ISPI selaku pengembang perumahan untuk satu titik lokasi tempat sampah khusus pasar," ujarnya. ***

Editor : Azhari Nasution