logo

Gaikindo Sebut Pengembangan Biodisel Kebijakan Yang Tepat

Gaikindo Sebut Pengembangan Biodisel Kebijakan Yang Tepat

Mantan Menteri ESDM Ignatius Jonan (kiri) menjadi pembicara kunci dalam acara Indonesia Biodiesels Leader Forum yang diselenggarakan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) di Jakarta, Jumat (8/11/2019).
09 November 2019 18:47 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Pelaku usaha otomotif nasional yang tergabung dalam Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai kebijakan Pemerintahan Presiden Joko Widodo mendorong biodiesel dari minyak sawit, sangat tepat.

Ketua Umum Gaikindo Yohanes Nangoi mengatakan, mandatori biodiesel 20 persen atau B20, sukses besar dan tahun depan akan ditingkatkan lagi menjadi B30.

"Di bidang biodiesel, Indonesia terdepan. Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang menggunakan B20. Negara lain paling banter hanya 7 persen, Indonesia berani 20 persen. Bahkan tahun depan naik lagi menjadi B30. Ini patut dibanggakan," ujarnya dalam acara Indonesia Biodiesels Leader Forum yang diselenggarakan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) di Jakarta, Jumat (8/11/2019).

Menurut dia, sejauh ini kendaraan yang menggunakan B20 tidak ada masalah berarti, kalaupun ada terkait kadar air yang perlu dijaga di bawah 500.

"Untuk kendaraan berat seperti truk, tidak ada masalah. Namun berbeda untuk sejenis Kijang atau Fortuner. Kalau kadar airnya tinggi, bisa menimbulkan korosi. Tetapi kita sudah coba biodiesel, bagus-bagus saja," ujarnya.

Yohanes menilai industri sawit nasional memiliki prospek cerah, karena komoditas ini terbukti dapat digunakan sebagai campuran biodiesel.

Apalagi, potensi penjualan mobil nasional stabil di angka 1,1 juta per tahun dan cenderung mengalami peningkatan, sehingga kebutuhan biodiesel bakal terus bertumbuh.

"Ketika bahan bakar dari fosil semakin mahal karena cadangannya berkurang, pilihannya tentu saja bahan bakar nabati (BBN). Dan, Indonesia sudah memulai dengan mengembangkan biodiesel," katanya.

Nangoi juga tak khawatir dengan kebijakan mobil listrik. Di Indonesia ratio pengguna mobil masih relatif kecil, yakni 27 orang per 1.000 mobil dibanding Malaysia 456 orang per 1.000 mobil.

"Artinya, setiap penambahan 1 orang saja kita mesti nambah produksi mobil sebanyak 269.000 unit. Jadi kita sangat optimis penggunaan biodiesel akan terus bertambah," katanya.

Sebelumnya mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignatius Jonan mengingatkan pentingnya kampanye atau sosialisasi dan promosi besar-besaran terhadap biodiesel.

"Perlu kampanye besar-besaran. Yang penting juga, gandeng Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia). Saya yakin, bisnis ini akan terus membesar," kata Jonan.

Menurut Jonan, Aprobi perlu melakukan kampanye yang baik secara konsisten kepada masyarakat sehingga tak ada penolakan bila harga biodiesel mengalami kenaikan atau penyesuaian.

Selain itu, Aprobi perlu duduk bersama dengan para pemangku kepentingan lainnya untuk membicarakan standar kualitas B30 yang baik agar tidak mengurangi kinerja mesin.

Jonan meyakini Pemerintah Indonesia konsisten untuk menerapkan kebijakan B30, B50, hingga B100 ke depan sesuai dengan harapan Presiden Joko Widodo.

Dalam kesempatan itu, Aprobi juga memberikan apresiasi kepada Jonan yang selama menjabat sebagai Menteri ESDM memberikan dukungan penuh terhadap industri sawit Tanah Air, termasuk dalam penetapan kebijakan mandatori B20 dan B30.

"Kami menghargai upaya yang dilakukan Pak Jonan yang selama menjabat sebabagi Menteri ESDM selalu memberi dukungan penuh pada industri sawit selama ini,"' ujar Ketua Umum Aprobi Master Parulian Tumanggor. ***

Editor : Laksito Adi Darmono