logo

Asyiknya Menginap Eksotik Di Rumah Adat Kawasan Gunung Mutis

Asyiknya Menginap Eksotik Di Rumah Adat Kawasan Gunung Mutis

02 November 2019 22:42 WIB
Penulis : Syamsudin Walad

SuaraKarya.id - MOLLO UTARA: Negeri dongeng ditawarkan di dusun Anin Fuka, Fatumnasi, Mollo Utara, Timor Tengah Selatan. Di sini situs raksasa alam dan budaya dengan cagar Gunung Mutis sebagai porosnya menjadi destinasi  rujukan utama para wisman.

Gunung Mutis memang selalu memikat. Secara fisik, keunikannya adalah hutan bonsai yang didominasi pohon Kayu Putih (Eucalyptus Alba). Ada juga pohon Cendana (Santalum Album). Areanya juga dilingkupi savana luas dimana sapi dan kuda menjadi pemandangan khas.

Gunung Mutis terkenal sebagai spot pendakian. Alamnya indah. Pokoknya sangat instagramable. Area ini sangat terkenal dengan sunrise-nya. Biasanya wisatawan datang ke sini untuk menikmati sunrise. Yang jelas, experience wisatawan makin lengkap dengan ragam warna budaya masyarakat Fatumnasi.

Berada di Fatumnasi, wisatawan akan mendapatkan beragam konten budaya. Salah satunya rumah adat khas Timor.

 "Kami masih menjaga keaslian alam dan budaya. Kawasan ini selalu ramai dikunjungi wisatawan. Ada banyak aktivitas yang bisa dinikmati wisatawan selama berada di Fatumnasi. Mereka bisa menikmati Cagar Alam Gunung Mutis, lalu di sini ada banyak sekali budaya yang bisa dinikmati. Wisatawan bisa ikut beraktivitas bersama masyarakat,” kata Tokoh Kunci Desa Futumnasi, Mateos Anin yang juga mengelola Home Stay Lopo Mutis.

Mateos, diusianya yang sudah 82 tahun, masih tampak segar. Ia bahkan sempat mengikuti sejumlah workshop yang diadakan dinas pariwisata setempat atau dari Kemenpar untuk mengembangkan home stay nya. "Saya mendirikan home stay ini tahun 2010. Dan mulai dikembangkan setelah saya ikut workshop tahun 2012 di UGM Yogyakarta yang diadakan Kemenpar," kata Mateos.

Menurut Mateos Anin, dirinya merupakan generasi ke 9 dari keluarga bangsawan marga Anin dan Fuka. Di salah satu rumah adat yang cukup besar, dia tinggal bersama istrinya. Bahkan di sini ia dan istri tidur ditemani hewan-hewan, seperti burung dara dan babi. Setiap 20 tahun sekali rumah adat ini dilakukan renovasi.

"Saat renovasi rumah, kami keluarga besar kumpul. Anak, cucu, saudara-saudara keturunan Anin Fuka semua datang," kata Mateos Anin.

Selain ditempati ia dan istri, kata Mateos, rumah adat tersebut menjadi semacam ‘museum’ mini. Beragam pusaka, pusaka yang tertua berasal dari abad 16. Tapi, ada beberapa zona dalam rumah adat yang dikeramatkan. Ada tangga yang hanya boleh dilalui ibu-ibu, lalu tongkat dengan pedang di dalamnya. Spot lainnya berupa kursi yang hanya boleh diduduki oleh para tetua adat dan banyak lagi barang-barang peninggalan leluhur.

Memberikan pengalaman menarik saat wisatawan berkesempatan menginap di salah satu rumah adat yang disewakan. Selain rumah pokok yang ditempati Mateos, ada 15 rumah adat yang disewakan. Untuk wisatawan nusantara sewa rumah semalam dipatok harga Rp 200.000. Sementara untuk wisatawan mancanegara dihitung perkepala Rp 100 ribu. Rumah adat ini biasa disebut Umay Bubu. Satu Umay Bubu ada 3 tempat tidur.

Dengan beragam pesona dan keunikannya, Fatumnasi menjadi rujukan utama wisman. Mereka umumnya ingin merasakan eksotiknya tinggal di rumah Umay Bubu dengan suasana pegunungan nan indah dan sejuk.

Fatumnasi dan Gunung Mutis sangat menginspirasi. Dengan keindahannya, wajar bila wisatawan dari berbagai negara selalu berkunjung ke sana. Fasilitas homestay yang ditawarkan menarik. Artinya, wisman lebih dekat dengan masyarakat lokal. Mereka bahkan bisa mengikuti beragam aktivitasnya.

Editor : Azhari Nasution