logo

Periode Kedua

Periode Kedua

20 Oktober 2019 21:56 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi
 

Pelantikan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin (Jokowi-Ma’ruf) sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia periode  2019-2024 menyisakan tantangan yang tidak mudah. Meski di periode kedua ini Jokowi kembali rematch bertarung dengan Prabowo dan kembali memenanginya ternyata proses untuk bisa sampai ke pelantikan tidak mudah. Bahkan, sempat melalui peradilan di MK dengan tuduhan kecurangan proses pilpres secara terstruktur, sistematis dan masif.

Di satu sisi, kemenangan Jokowi dalam rematch dengan Prabowo memberikan gambaran bahwa sukses periode pertama pemerintahan Jokowi bersama Jusuf Kalla menjajikan untuk dilanjutkan di periode kedua bersama Ma’ruf Amin, meski di sisi lain kekalahan kembali dan kesekian kalinya dari Prabowo justru mengakhiri peluang Prabowo untuk bertarung kembali di pilpres 2024. Bahkan, sebagian pengamat meyakini kekalahan Prabowo di pilpres lalu adalah akhir dari pertarungannya menuju kursi RI 1. Argumen yang mendasari karena pada pilpres 2024 akan bertarung wajah-wajah muda misalnya Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, Sandiaga Uno, dll.

Terlepas dari proses panjang kemenangan dan pelantikan Jokowi untuk melanjutkan di periode kedua pemerintahannya bersama Ma’ruf Amin, pastinya, tantangan ke depan tidak mudah. Setidaknya, ada berbagai persoalan yang nampak jelas butuh secepatnya penyelesaian, misalnya tentang stabilitas sospol. Betapa tidak, dalam dua bulan terakhir terjadi demo masif, bukan saja dilakukan oleh mahasiswa tapi juga pelajar STM. Imbas dari demo masif kemarin juga berdampak sistemik terhadap kepercayaan investor dan tentu hal ini berpengaruh terhadap realisasi investasi, bukan saja dari PMDN tetapi juga PMA.

Padahal, harapan dari realisasi investasi bukan saja akan mempercepat proses pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja, tapi juga implikasinya terhadap pencapaian sejumlah agenda, termasuk misalnya peningkatan kesejahteraan dan juga pembangunan infrastruktur di berbagai daerah. Selain itu, keberhasilan era otda juga tidak bisa terlepas dari realisasi investasi di daerah karena pembangunan infrastruktur di daerah juga harus bersinergi dengan realisasi investasi untuk memacu geliat ekonomi di daerah.

Fakta lain yang juga menarik dicermati adalah ancaman terhadap kemiskinan. Betapa tidak dengan lesunya perekonomian, ditambah dengan ancaman resesi global dan fakta dampak perang dagang AS-Cina, termasuk juga berlarutnya kasus Brexit sehingga UE berkeberatan maka itu semua jelas berpengaruh terhadap kondisi makro ekonomi dan hal ini tidak hanya terjadi di mayoritas negara miskin berkembang tapi juga berdampak terhadap negara industri maju. Oleh karena itu, besar harapan agar resesi global dapat segera teratasi sehingga geliat ekonomi dapat tumbuh dan berkembang, termasuk juga imbasnya terhadap geliat ekonomi sektor riil.

Meski demikian, tetap harus diwaspadi adanya berbagai ancaman dari faktor eksternal sebagai konsekuensi dari pesatnya era global. Selain itu, tetap harus juga fokus dengan kondisi internal karena sejatinya faktor eksternal - internal adalah saling terkait. Artinya, di periode kedua pemerintahan Jokowi yang kini berduet dengan Ma’ruf Amin perlu penetapan langkah strategis agar semua persoalan ekonomi – sosial dan kebangsaan bisa teratasi dan pencapaian terhadap semua target pembangunan dapat tercapai. Selamat kepada Jokowi-Ma’ruf Amin yang dilantik 20 Oktober 2019 sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia periode 2019-2024. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo