logo

Dua Tahun Memimpin, Anies Baswedan Dinilai Sebagai Gubernur Jakarta Yang Humanis Syarat Prestasi

Dua Tahun Memimpin, Anies Baswedan Dinilai Sebagai Gubernur Jakarta Yang Humanis Syarat Prestasi

Ketua Katar Sugiyanto
15 Oktober 2019 13:31 WIB
Penulis : Yon Parjiyono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Genap dua tahun memimpin Provinsi DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan terlihat jelas merupakan pemimpin sopan dan humanis dibanding gubernur sebelumnya.

Hal itu disampaikan Ketua Koalisi Masyarakat Pemerhati Jakarta Baru (Katar) Sugiyanto, dalam keterangan tertulisnya yang disampaikan kepada Suarakarya.Id,Selasa (15/10/2019).

" Ya terlihat elas dari cara dia bertutur kata, dari gestur tubuhnya dan dari ketika dia merespon persoalan warganya, khususnya warga kelas bawah. Dia gubernur yang sopan dan humanis, beda dengan gubernur sebelumnya. Mungkin karena dia basic-nya seorang pendidik," kata Sugiyanto yang akrab disapa SGY.

Aktivis senior ini menambahkan, karakter dan pembawaan Anies itu secara otomatis menciptakan atmosfir baru yang juga berbeda bagi Jakarta dibanding sebelumnya, karena Jakarta kini relatif lebih tenang dan sejuk dibanding sebelumnya.

Kini, kata SGY setidaknya tak ada lagi umat Islam yang protes karena dilarang melakukan takbiran keliling saat Hari Raya Idul Fitri, tak ada lagi pedagang kambing yang menggerutu karena tak bisa berjualan di tepi jalan saat menjelang Idul Adha, tak ada lagi umat Islam yang mengeluh karena tak boleh menggelar tabligh akbar di Monas, dan tak ada lagi umat Islam yang melakukan demonstrasi besar-besaran gara-gara menilai agamanya dinistakan seorang gubernur. Di sisi lain,  sebagai seorang Muslim, Anies juga mengayomi penganut agama lain.

Dia, misalnya, telah meresmikan beberapa gereja, antara lain Gereja Semper, mengizinkan Monas sebagai tempat perayaan paskah, dan menghadiri peringatan semua agama yang diakui di Indonesia.

"Sejatinya seorang pemimpin memang harus berdiri di atas semua golongan dan etnis yang ada dimana dia menjabat, bukan menjadi gubernur bagi golongan atau agama yang dianutnya saja. Sebagai seorang mantan rektor Universitas Paramadina dan mantan Mendikbud, Anies paham bagaimana kriteria pemimpin yang baik, dan dia mampu mengaplikasikannya dalam keseharian kepemimpinannya," ucapnya.

Meski demikian SGY mengakui Anies bukan manusia sempurna, sehingga wajar jika dia mendapat kritikan. Selama kritik itu objektif, substansif dan bukan semata-mata sengaja menghantam akibat sentimen atau rasa tak suka, menurut SGY, layak diapresisasi dan didengar oleh Anies.

Hanya sayangnya, tegas dia, polarisasi yang masih terjadi di masyarakat Indonesia, termasuk di Jakarta,  dimana ada masyarakat yang pro Anies dan pro mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang notabene juga merupakan pendukung Presiden Jokowi, membuat Anies harus menghadapi situasi yang tidak normal yang tidak dialami Gubernur Sutiyoso (1997-2002 dan 2002-2007) dan Gubernur Fauzi Bowo (2007-2012), karena Anies mungkin akan dicatat dalam sejarah sebagai gubernur Jakarta yang paling banyak diserang lawan-lawan politiknya dengan isu yang kemudian terbukti hoaks. Isu tersebut di antaranya isu tentang pengadaan pohon pelastik dan pengadaan tong sampah dari Jerman yang kemudian terungkap kalau pengadaan itu dilakukan di era Gubernur Ahok, bukan di era Anies.

"Hoaks yang paling parah adalah hoaks tentang lima ambulan milik Pemprov DKI Jakarta yang ditangkap polisi karena membawa batu dan bensin untuk dipasok kepada mahasiswa dan pelajar yang berdemo di DPR pada September 2019 lalu. Serangan-serangan ini mengindikasikan kalau lawan-kawan politik Anies bukan hanya ingin mendiskreditkan dia, namun juga ingin menjatuhkannya dengan bagaimanapun caranya.

Cara berpolitik seperti ini tentu sangat tidak sehat. Aparat berwenang seharusnya dapat menghentikan hal-hal seperti ini dengan menangkap para penyebar hoaks itu agar mereka tidak terus mengulangi perbuatan yang tercela itu," tegas dia.

Meski demikian SGY mengaku salut dengan cara Anies menyikapi anomali situasi yang tengah dihadapinya sejak dirinya dilantik pada 16 Oktober 2017 hingga hari ini, karena menurutnya Anies terlihat sangat tenang dan sabar.

"Saya tak pernah melihat Anies mengamuk-amuk dan mencaci maki siapa pun sebagai penyaluran terhadap berbagai tekanan yang dia alami. Dia bahkan masih memberikan jabatan-jabatan strategis kepada pejabat yang hingga kini pun masih terindikasi sebagai loyalis Ahok," katanya.

Aktivis berkacamata ini meyakini, kesabaran itu, juga kapasitasnya sebagai seorang pemimpin lah yang membuat Anies tetap "survive" dalam menjalani karirnya sebagai gubernur Jakarta di tengah hantaman badai hoaks dan perilaku lawan politik yang tidak fair dan kejam. Ia, katanya, dalam dua tahun ini bahkan mampu menuntaskan dan meneruskan berbagai pekerjaan yang ditinggalkan gubernur-gubernur sebelumnya, seperti menuntaskan proyek MRT rute Lebak Bulus-Bundaran HI, menyempurnakan moda transportasi bus rapid transit atau busway, menuntaskan pembangunan laght rail transit (LRT),  dan mengintegrasikan angkutan-angkutan di Ibukota melalui Program JakLingko.

Anies juga mampu merealisasikan janjinya untuk menutup hotel mesum Alexis, merealisasikan janji membangun rumah DP 0 Rupiah, dan menyediakan trotoar yang nyaman bagi pejalan kaki dengan merevitalisasi trotoar-trotoar di Ibukota. Terkait polusi udara yang telah bertahun-tahun membuat kualitas udara Jakarta tidak sehat bagi penghuninya, Anies telah menerbitkan Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 66 Tahun 2019 tentang Pengendalian Kualitas Udara dimana di dalamnya terdapat tujuh inisiatif yang harus dilaksanakan para pejabatnya yang terkait.

Di antaranya tidak lagi membolehkan kendaraan angkutan umum yang telah berusia di atas 10 tahun dan tidak lulus uji emisi tetap beroperasi mulai tahun depan, dan memperluas sistem ganjil genap. Satu hal yang dicatat SGY sebagai kebijakan Anies yang paling menyentuh, yang menunjukkan bahwa Anies adalah seorang humanis adalah rencananya untuk membangun kembali Kampung Akuarium yang dihancurkan Ahok pada April 2016.

Pasca penggusuran kampung itu, penduduknya kehilangan tempat tinggal, sehingga ada yang masih hidup di tenda-tenda dan bedeng di lahan yang telah digusur itu. Oleh Anies, tahun depan di Kampung Akuarium akan dibangun 142 unit rumah lapis untuk tempat tinggal warga yang baru.

Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) bahkan telah mengembalikan status kependudukan warga yang telah dihapus atas perintah Ahok, sehingga warga dapat kembali mengajukan pembuatan KTP. SGY berharap polarisasi di tengah masyarakat dapat segera berakhir, dan masyarakat dapat hidup dengan perilaku-perilaku yang normal dan terpuji, sehingga dapat menilai kinerja Anies secara fair, objektif dan substansif.

"Anies punya visi yang bagus, yakni memajukan Jakarta dan membahagiakan warganya. Warga Jakarta harus mendukung ini," kata SGY. 

Editor : Yon Parjiyono