logo

Tantangan RSO, KOI Bersih Dan Harmonis

Tantangan RSO, KOI Bersih Dan Harmonis

13 Oktober 2019 01:11 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Gungde Ariwangsa

Terpilihnya Raja Sapta Oktohari (RSO) secara mulus sebagai Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) masa bakti 2019 – 2023 tidaklah mengagetkan. Bukan karena tidak ada saingan sehingga dia menjadi calon tunggal dan terpilih secara aklamasi pada Kongres KOI di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (9/10/2019). RSO memang sejak lama mempersiapkan diri untuk menjadi pengganti ketua umum sebelumnya, Erick Thohir.

Dengan bekal pengalaman di olahraga tinju profesional, memimpin Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI), Chef de Mission (CdM) Kontingen Indonesia pada Olimpiade Brasil 2016 dan Ketua Inapgoc (Panitia Penyelenggara Asia Para Games) 2018, RSO sangat serius untuk memburu posisi nomor satu KOI. Awal tahun 2019, sekitar bulan Januari, dia sudah menuangkan visi dan misinya bila dipercaya memimpin KOI. Secara garis besar dia bertekad agar para pembina olahraga di Tanah Air aktif mengikuti perkembangan dan berkecimpung di kancah internasional untuk bisa mengibarkan harkat dan martabat Indonesia di berbagai multi event internasional.

Tampilnya RSO sebagai Ketua Umum KOI tidaklah secara tiba-tiba. Bukan seperti Erick Thohir yang muncul di hari-hari terakhir menjelang pemilihan sehingga dia harus berjuang ketat untuk mengalahkan calon lainnya EF Hamidy. Bahkan muncul kabar keberhasilan Erick karena campur tangan penguasa melalui bantuan tangan Menteri Pemuda Dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi beserta jajarannya di Kementrian Pemuda Dan Olahraga (Kemenpora).

Kesiapan RSO terlihat dari pendeklarasian pencalonannya yang serius di Hotel Mulia. Gerakan tim suksesnya  begitu aktif merangkul induk organisasi cabang olahraga. Selain itu RSO juga jeli memilih Wakil Ketua Umum yang akan mendampinginya selama empat tahun ke depan. Dia menggandeng Warih Sandono, Ketua Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta yang juga mantan Ketua Umum Lembaga Karate-do Indonesia (Lemkari) Kalimantan Barat sebagai Waketum KOI.    

RSO yang mendapat penghargaan beruntun dari Seksi Wartawan Olahraga Persatuan Wartawan Indonesia (Siwo PWI) sebagai CdM Terbaik dan Kreator Olahraga Indonesia Go International pada Golden Award Malam Anugerah Olahraga Siwo PWI 2017 dan 2018 bukanlah kucing dalam karung untuk memimpin KOI. Dukungan dari 30 cabor olimpiade dan 24 nonolimpiade serta mitra KOI saat mendaftar membuktikan sosok RSO memang diterima secara mayoritas. Jika pun ada penantangnya, RSO sudah sukar dibendung.

Setelah terpilih dan duduk di singgasana pimpinan KOI sudah dapat dipastikan tantangan berat menanti RSO.  Di depan mata sudah ada SEA Games Filipina dimana Indonesia berjuang untuk bisa memperbaiki peringkat dari posisi kelima dua tahun lalu di Malaysia. Setelah itu mempertahankan tradisi emas pada Olimpiade Tokyo, Jepang, 2020, yang tersambung kembali di Olimpiade Brasil 2016  setelah putus di Olimpiade London 2012. Sukses prestasi dan penyelenggaraan Asian Games dan Asian Para Games 2018 memberikan tugas berat bagi RSO untuk mewujudkan impian Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade 2032. Penentuannya ada pada Olimpiade Prancis 2024.

Di dalam negeri sendiri, RSO mempunyai tantangan yang tidak kalah beratnya. Terutama menjadikan KOI sebagai organisasi yang bersih dan berwibawa setelah pada masa kepemimpian Erick Thohir  tersangkut korupsi, persaingan antarpengurus dan rebutan pengaruh dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat dan dualisme pengurus induk organisasi cabor.

Dalam tubuh KOI sempat terjadi persaingan antarpengurus karena kehadiran mereka dipilih langsung oleh anggota bukan atas pilihan Ketua Umum terpilih. Ketidakkompakan inilah yang melatarbelakangi perubahan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga sehingga hanya Ketua Umum dan Komite Eksekutif, Dewan Etik yang dipilih. Sedangkan Wakil Ketum dan Sekjen serta Bendahara satu paket dengan Ketum terpilih.

Harmonisasi dengan KONI Pusat seperti yang pernah dijanjikan oleh Erick Thohir di awal kepemimpinannya perlu diwujudkan oleh RSO secara nyata dan bukan hanya di bibir saja. Kemudian KOI harus mampu menghapus dualisme pengurus cabor  dan bukannya justru menambah rumit seperti yang terjadi di tenis meja dan kempo.

RSO mendapat tantangan menempatkan fungsi KOI sesuai dengan yang diamanatkan Undang Undang Sistem Keolahragaan Nasional (UUSK) Nomor 3 Tahun 2005. Dengan jalur yang tepat akan terhindarkan persaingan ego sektoral. Ditambah penanganan keuangan dan adminsitrasi yang clear serta hubungan harmonis dengan lembaga keolahragaan yang ada akan menjadi kekuatan besar bagi RSO membawa KOI lebih baik lagi. ***

* Gungde Ariwangsa SH – wartawan suarakarya.id, Ketua Siwo PWI Pusat