logo

Ketersediaan Sumberdaya Utama Pertanian Mempengaruhi Ketahanan Pangan Masa Depan

 Ketersediaan Sumberdaya Utama Pertanian Mempengaruhi Ketahanan Pangan Masa Depan

Sekjen Kemendes PDTT Anwar Sanusi, (foto,ist)
30 September 2019 15:53 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - BALI: Dalam upaya peningkatan kapasitas di bidang produktivitas,  khususnya pertanian.

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) bekerja sama dengan the Asian Productivity Organization (APO) menyelenggarakan Workshop on Agricultural Transformation, yang dimulai di Bali, Senin (30/9/2019). 

Penyelenggaraan kegiatan ini merupakan yang keempat kalinya. Pada tahun 2019 ini, program yang diselenggarakan bertajuk Workshop on Agricultural Transformation atau transformasi pertanian.

Dengan mengundang perwakilan dari 20 negara anggota APO antara lain Bangladesh, Nepal, Sri Lanka, Korea Selatan, Jepang, Tiongkok, Iran, India, Fiji, Indonesia, Filipina, Vietnam, Thailand, Pakistan, Mongolia, serta Laos. Sedangkan Malaysia, Hongkong, Kamboja, serta Singapura tidak mengirimkan perwakilannya.

Kegiatan workshop ini memberikan pembelajaran, dengan narasumber dari Jepang dan Korea Selatan, presentasi country paper, diskusi kelompok, serta field trip.

Pada kesempatan ini, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendes PDTT Anwar Sanusi, dalam sambutan sekaligus membuka workshop itu, menyampaikan 4 program prioritas Kemendes PDTT di bidang pertanian. Antara lain embung desa, produk unggulan desa, Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa), serta fasilitas ruang terbuka di desa.

Dikemukakannya, kebutuhan terhadap pangan semakin meningkat, namun ketersediaan dari sumberdaya utama, seperti lahan dan air untuk pertanian, serta produksi pangan semakin menurun. Hal ini, katanya, akan berdampak pada ketahanan pangan di masa depan.

"Oleh karena itu, diperlukan adanya pendekatan baru untuk mentransformasi pertanian. Workshop ini diharapkan dapat mereview kebijakan dan program-program transformasi pertanian dari setiap negara," tuturnya.

Di bagian lain, Kenji Watanabe sebagai perwakilan dari APO menyampaikan bahwa transformasi pertanian merupakan subyek utama di bidang pertanian. Para peserta kiranya dapat berbagi transformasi pertanian yang dilaksanakan di negaranya.

"Workshop kali ini juga diharapkan dapat menjadi awal dari kerja sama selanjutnya di bidang transformasi pertanian," katanya.

Hal yang sama juga diutarakan perwakilan dari National Productivity Organization (NPO) Indonesia Astri Christafilia. Dia menyampaikan, kegiatan ini sangat penting karena peserta dapat berbagi pengetahuan, ide-ide, dan pengalaman dari negara masing-masing.

“Hal ini merupakan usaha kami untuk menghadapi perubahan teknologi di bidang pertanian di era Revolusi Industri 4.0. Konsep transformasi pertanian kiranya bisa memiliki aturan atau undang-undang tersendiri untuk dapat tetap melindungi peran tenaga kerja kita," tuturnya.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto