logo

M Nuh Minta Bupati Bekasi Banjir Jatimulya Jadi Prioritas

M Nuh Minta Bupati Bekasi Banjir Jatimulya Jadi Prioritas

Anggota DPRD Kabupaten Bekasi, Muhamad Nuh bersama warga saat meninjau tiga lokasi gorong-gorong di Kali Menir, Kelurahan Jatimulya, Kecamatan Tambun Selatan. (Foto: Dok/suarakarya.id).
19 September 2019 22:06 WIB
Penulis : Dharma/Aji

SuaraKarya.id - CIKARANG: Musim penghujan menjadi momok bagi masyarakat yang tinggal di Kelurahan Jatimulya, Kecamatan Tambun Selatan. Khususnya dilingkungan Perumahan RW 11, 12, 13 dan 15. Karena, setiap musim penghujan wilayah itu selalu menjadi langganan banjir.

Keluhan masalah banjir yang selalu menimpa masyarakat di wilayah tersebut mendapatkan perhatian dari anggota DPRD Kabupaten Bekasi, Muhamad Nuh. Rabu (18/9/2019) kemarin, politisi Partai Keadilan Sejahtera ini melakukan peninjauan ke lokasi gorong-gorong di Kali Menir.

Kehadiran Nuh merespon keluhan warga Kelurahan Jatimulya soal penanganan banjir yang belum teratasi.

Ia yang didampingi ketua RW 11 dan warga Perumahan Jatimulya menyisir aliran Kali Menir menuju tiga lokasi gorong-gorong yang dilintasi Jalan Tol Jakarta-Cikampek, Sungai Kalimalang serta Jalan Negara.

"Saya sebagai anggota dewan dari dapil 3 sering mendapatkan laporan dari warga, sering mengamati dan mengalami banjir yang berulang-ulang di Jatimulya sampai ke jalan utama," tutur Nuh

Akibat itu, lanjutnya, lebih dari 5.000 kepala keluarga menjadi korban banjir, berdampak pula dengan lumpuhnya perekonomian warga sekitar.

"Ibu-ibu stres, bapak-bapak tidak bisa kerja dan anak-anak tidak sekolah. Belum lagi dampak penyakit yang ditimbulkan," ujarnya.

Banjir di Kelurahan Jatimulya sudah 30 tahun, bahkan bergantinya Presiden, Menteri, Gubernur hingga kepala daerah belum ada penanganan yang signifikan. Normalisasi Kali menurut warga, dinas terkait hanya melakukan cabut rumput. Ini cukup ironis.

Karena itu, Nuh berpesan kepada Bupati Bekasi agar memerintahkan aparatnya bekerja yang sifatnya solutif. "Jangan hanya sifatnya maintenant yang ngak jelas," kata Nuh.

Ia juga menyayangkan soal Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) di Kabupaten Bekasi yang cukup besar mencapai Rp1 triliun lebih. Padahal, Jatimulya sifatnya darurat. Dalam setahun saja bisa dikatakan tiga kali banjir lantaran tidak lancarnya gorong-gorong yang ada dibawah tol.

"Mudah-mudahan Bupati bisa melanjutkan dan mendesak pejabat terkait di KCIC (Kereta Cepat Indonesia-China) apa yang dijanjikan untuk masyarakat dapat direalisasikan flassing dan bak kontrok," ujar Nuh.

Nuh juga meminta supaya Pemkab Bekasi menjadikan penyelesaian banjir Jatimulya sebagai skala prioritas dan harus koordinasi dengan dinas terkait. Karena, penyerapan anggaran di Dinas PUPR sangat rendah. ***

Editor : Yon Parjiyono