logo

JWN: Tak Sekedar Tempat Nongkrong Dan Lifestyle,Tapi Juga Mengedukasi Masyarakat

JWN: Tak Sekedar Tempat Nongkrong Dan Lifestyle,Tapi Juga Mengedukasi Masyarakat

Di tengah maraknya industri kopi, Ullil dengan JWN setia dijalurnya, yaitu tak hanya menikmati tapi juga mengedukasi masyarakat.
15 September 2019 15:00 WIB
Penulis : B Sadono Priyo

SuaraKarya.id - TANGSEL: Kedai kopi kini makin menjamur dan menjadi salah satu bisnis alternatif. Bisnis ini sudah menjelma sebagai industri, yang tak akan lekang digerus waktu.

Tangerang Selatan (Tangsel) merupakan salah satu bidikan dari pecinta kuliner (khususnya kopi), karena memang menjanjikan potensi dan prospek luar biasa. Industri kopi di daerah penyangga Ibu Kota ini kini kian menggeliat dengan hadirnya kedai kedai kekinian dan mengusung konsep tertentu.

Salah satu pegiat kopi yang setia di jalurnya adalah Setya Yudha  (45) dengan produknya Jaringan Warkop Nusantara (JWN) dan Toko Joyo 99. Mantan karyawan perusahaan telekomunikasi yang akrab dipanggil Ullil ini tak hanya menjadikan kopi sebagai lifestyle dan tempat nongkrong penikmat kopi, tapi juga  mengedukasi dan pemberdayaan masyarakat.

Dengan produk JWN nya Priya asal Malang ini menyediakan kediamannya di Perumahan Nuri RT 02 RW 14 Pondok Ranji Ciputat, sebagai workshop sekaligus ajang untuk  belajar dan  diskusi tentang kopi.

Ketika Suarakarya.id berkunjung di workshop nya Sabtu (14/9/2019), sedang diadakan diskusi bertema #Ngopi bersama Win Hasnawy dan Ari Budi P. Kedua orang ini merupakan kampium di bidangnya. Win dengan Qertoef Coffee dan Ari dengan Astori Coffee nya.

Menurut Win, memperkenalkan black Coffee dan memindahkan kesukaan orang minum kopi dari sachet ke original kopi dengan harga terjangkau seperti ditawarkan JWN ini, tidak mudah. "Biasa minum kopi pakai gula dan susu, disuruh pindah yang rasa original, tentu memerlukan proses," kata dia.

Tapi, bagi Win Kopi di Indonesia berkembang pesat karena kreativitas pegiat kopi, seperti Ullil,   lewat industri mikronya. 

"Konsep memasarkan kopi, sekaligus mengedukasi  anak-anak muda tentang kopi, berdampak positif dan perlu terus dikembangkan. Mereka lantas tak hanya mengetahui mana kopi yang berkualitas, namun dibarengi juga dengan teknik-teknik penyeduhan yang benar," kata Win yang concern terhadap pengembangan kopi untuk menghidupkan perekonimian dan petani-petani kopi ini

Garda Terdepan

Ullil yang merintis bisnis kopi dari bawah, bertekad memajukan daerahnya lewat kopi."Di tempat ini (Perumahan Nuri), saya punya cita cita menjadi garda terdepan dalam pengembangan  ekonomi kreatif di Tangsel ," kata bapak dua anak ini.

Berikut merupakan opini pemuda yang pernah menyabet MLDSPOT Content Hunt 2017 . "Belajar kopi, bagi saya, adalah soal merasakan. Feel Taste Ini soal personal dan pilihan pribadi masing-masing. Kalo sudah urusannya pribadi, ya sudah, yang tau beneran gimana kan cuma diri sendiri, sama Tuhan. Itu juga kalo dia percaya Tuhan. Soal percaya atau nggak sama Tuhan, kapan-kapan aja kita bahas. Sekarang kita ngobrolin kopi dulu.

Nah, karena kopi itu tentang pilihan dan selera pribadi/ personal, tentu banyak faktor yang bisa membentuknya. Tidak bisa begitu saja disamaratakan-disamarasakan. Salah satunya tentu saja karena pengalaman (merasa) masing-masing orang.

Misalnya, tentang pahit. Oke, mungkin kopi pahit. Seberapa pahit? Pahit seperti apa? Sebagian orang saat merasakan pahit di lidahnya, mungkin jadi teringat rasa obat bubuk, puyer (powder) atau pil yang harus ditelannya saat dia kecil dulu. Sebagian mungkin sempat merasakan arang. Atau jamu brotowali. Atau yang lain-lain. Kalo soal pahitnya seperti hidup atau rasa pahitnya seperti saat ditinggal kawin sama pacar, ya itu sih bebas-bebas saja gimana Anda menggambarkan rasa pahit itu, kan?

Rasa manis, misalnya. Sebagian besar mungkin akan mengingatnya sebagai gula. Lalu gula apa, putih - merah - aren - batu - kapas - sintetis, atau lainnya? Atau malah manisnya seperti madu? Madu apa, lengkeng - ternak - liar - hutan - kurma, atau apa? Senyum juga seringkali dirasa manis, bukan? Kalo dimadu, mungkin malah ini yang pahit. Rasa yang dulu pernah ada, mungkin juga malah sekarang berasa pahit, meski -mungkin- banyak rindunya.

Sama halnya dengan rasa asam. Asam atau kecut? Masing-masing orang mendefinisikan rasa asam, setahu saya, tentu berdasarkan pada pengalamannya merasakan asam itu sendiri. Asam jeruk, salah satunya. Jeruk apa, bali - pontianak - medan - mandarin - pecel - keprok - lemon - limau, atau apa?

Kopi berasa asin? Atau umami? Ya entah, bisa jadi. Bisa jadi indera Anda memang demikian sensitif, atau karena memang kopinya diproses (sengaja atau tidak) menjadi demikian.

Cobalah rasakan sendiri kopi seduhan Anda. Biarkan saja rasa-rasa yang muncul apa adanya. Sejujurnya. Kalo cuma pahit doang yang dirasa, ini faktornya bisa banyak. Bisa jadi seumur hidup Anda memang terasa pahit, kopinya jadi ikut-ikutan begitu. Atau sangrai/roasting kopinya kegosongen, terlalu gelap, jadi seperti arang yang dipake bakar sate itu.

Jadi, rasa kopi harusnya bagaimana? Ya terserah, itu kopi pilihan Anda sendiri, nyeduh sendiri, kenapa harus ngikutin rasa yang disebutkan orang lain? Buat saya, kopi tidak ada yang namanya harus begini - harus begitu, rasanya begini - rasanya begitu. Bebaskan rasa Anda sendiri. Setidaknya, dalam urusan kopi, mungkin bisa dicoba merdekakan diri Anda sendiri. Tidak perlu harus mengikuti catatan rasa / tastes / notes yang disebut orang lain.

Misalnya, “Mbak, ini kopinya sepesial lho, peach-nya berasa banget dan ada hints blackcurrant di endingnya,” sebaiknya sih, saran saya, ya jangan percaya begitu saja. Diseduh aja dulu, baru dirasakan. Kalo seumur hidup Anda belum pernah merasakan gimana rasa buah peach atau blackcurrant itu, bagaimana bisa tahu rasanya memang seperti itu? Ya kalo referensi rasa buah Anda adalah permen rasa blackcurrant, dicoba saja, ketemu apa ndak rasa yang deket-deket begitu?

Saya cenderung lebih percaya jika disampaikan, “Mas, ini kopinya agak sepet kayak pisang belum matang, tapi aftertaste-nya muncul kayak buah kesemek..,”. Atau kadang jika sedang ketemu yang agak keminggris, yang disebutnya mungkin ya banana dan percimont.

Kenapa? Ya karena itu buah-buahan yang umum. Banyak tersedia di sekitar kita. Artinya, besar kemungkinan memang dia pernah merasakan buah-buahan tersebut. Jadi valid, bukan mengada-ada atau sekadar ikut-ikutan, takut dibilang palet lidahnya ndeso atau kampungan.

Ullil
Jaringan Warkop Nusantara (JWN)
Follow instagram : @warkopjwn

Editor : B Sadono Priyo