logo

Empat Jenderal Berpeluang Gantikan Tribrata 1

Empat Jenderal Berpeluang Gantikan Tribrata 1

12 Juni 2019 13:11 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: Nico Karundeng*

PERHELATAN Pilpres sudah usai dan tinggal selangkah lagi Presiden Joko Widodo, bakal memimpin lagi Indonesia lima tahun ke depan. Menjelang hari Bhayangkara 1 Juli besok, sudah muncul pembicaraan di publik tentang suksesi di tubuh Polri. Apalagi, dalam beberapa kesempatan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian memberi sinyal, tidak akan terus memimpin Korps Bhayangkara. Tito, kini bergelar profesor tidak secara eksplisit mengucapkan akan mundur, tapi ia menyatakan tidak nyaman kalau seseorang terlalu lama menjabat sesuatu jabatan tinggi dengan penuh risiko dan tantangan.

Sinyal ini akhirnya menimbulkan rumor dan spekulasi, bahwa Jenderal Tito Karnavian, yang sudah menjabat Kapolri selama 3 tahun (Juli 2016-2019) benar-benar akan mundur.  Memang ,  dalam beberapa bulan terakhir sepertinya Tito telah menyiapkan sejumlah perwira Polri yang berprestasi untuk menjadi “Putra Mahkota” di tubuh Korps Baju Cokelat ini atau sering disebut Tribrata 1.

Siapa saja mereka yang digadang-gadang bakal menjadi “Putra Mahkota” Bhayangkara.Ada 3 perwira tinggi berpangkat bintang tiga dan satu masih bintang dua disebut-sebut calon kuat Tribrata 1. Empat pati ini sepertinya yang paling berpeluang untuk menggantikan Jenderal Tito. Trackrecord tiga perwira bintang tiga ini tidak diragukan lagi. Sementara pati berpangkat bintang dua masih menjadi kuda hitam. 

Salah satu yang paling berpeluang, Komjen Pol Drs Idham Azis. Kiprah Idham Azis di Kepolisian RI selama ini tidak diragukan lagi. Prestasi demi prestasi telah diraih Idham sejak masih berpangkat mayor (kompol). Perwira tinggi yang banyak ditugaskan di bidang Reskrim dinilai sangat berhasil ketika memimpin Polda Metro Jaya. Sebagai barometer keamanan Indonesia, Jakarta harus terjaga kondisifitasnya.

Idham sebagai salah satu elite Polri sudah sangat teruji. Ia ditempa dan lama berkecimpung dalam pemberantasan terorisme. Idham yang lahir 30 Januari 1963, di Kendari, Sulawesi Tenggara, pernah berprestasi ikut menangkap buronan teroris kelas kakap Dr. Azahari di Batu Malang, 10 November 2005. 

Prestasi ini membuatnya diganjar pangkat kombes bersama tim Densus 88 Anti Teror Polri, Tito Karnavian ( kini Kapolri) , Petrus Golose (Kapolda Bali) dan Rico Amelza Dahniel (Kapolda Jateng). Mereka yang saat itu masih berpangkat AKBP mendapat kenaikan pangkat luar biasa dengan keberhasilan menemukan dan menggerebek tempat persembunyian Dr Azahari, insinyur ahli bom asal Malaysia yang tewas di lokasi. 

Terakhir bersama tim yang sama mereka berhasil menangkap dan menembak mati buronan kelas wahid Noordin M Top di dekat Stasiun KA Jebres Surakarta. Idham lalu diangkat jadi Wakil Kepala Densus 88 Polri yang berhasil membongkar sejumlah jaringan teroris pengebom di Hotel JW Marriott yang kedua dan Ritz Carlton di Kuningan, Jakarta Selatan.

Pengalaman berkutat di bidang pemberantasan teroris membuat Idham Azis, sejak Oktober 2014 ditunjuk pimpinan Polri menjabat  Kapolda Sulawesi Tengah. Saat itu, wilayah Poso masih rawan konflik, sehingga ia ikut memimpin Operasi Camar Maleo (2014-2016) dan Operasi Tinombala (2016) mengejar buronan Santoso dkk. 

Buronan Santoso dkk memang baru berhasil disergap dan ditembak mati bekerja sama TNI, saat era pengganti Idham, Kapolda Sulteng era Brigjen Rudy Safriyadi (kini Kapolda Jabar), tapi setidaknya Idham telah membuka roadmap bagi penggantinya. Apalagi Idham mengaku sebagian besar waktunya saat menjabat Kapolda Sulteng, berada di wilayah Poso.

Sederet jabatan penting lainnya pernah diemban Idham, seperti, Kapolres Jakarta Barat, Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Direktur Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri dan Kadiv Propam Polri. Promosi Idham Azis sejak tanggal 22 Januari 2019 memimpin Bareskrim Polri, mungkin menjadi sinyal ia termasuk yang sangat diperhitungkan untuk menjadi orang nomor satu di institusi penjaga keamanan dan ketertiban di NKRI.

Jabatan Kabareskrim Polri memang sangat prestisius dan strategis. Sebab, jika merunut ke belakang beberapa Kapolri sebelumnya, pernah menjabat Kabareskrim. Sebutlah, Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri dan Jenderal Pol Drs Sutarman. Lulusan Akpol 1988 ini punya kedekatan emosional dengan Jenderal Tito Karnavian. Sewaktu, Tito menjabat Kasat Reserse Umum Polda Metro, Idham adalah wakilnya. Sebab itu, peluang Idam Azis menjadi pucuk pimpinan Polri ke depan sangat mungkin.

Komjen Pol Drs Arief Sulistiyanto M.Si. Arief biasa disapa, yang kini menjabat Kepala Lembaga Pendidikan Polri (Lemdikpol) sosok petinggi Polri yang concern terhadap reformasi struktural dan kultural di institusi Korps Baju Coklat. Sederet jabatan penting yang pernah diembannya membuat Arief termasuk salah seorang kandidat yang pantas menduduki pucuk pimpinan Polri.

Berlatar belakang Reskrim, membuat Arief sangat menguasai bidang ini. Tak heran, jika lulusan Akpol 1987, se angkatan dengan Kapolri Tito Karnavian, bulan Agustus 2018 lalu ditunjuk memimpin Bareskrim Polri. Mantan Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri memang, hanya 5 bulan memimpin Bareskrim, tapi Arief telah meletakan konsep peningkatan profesional dan transparansi penyidikan di Bareskrim.

Arief yang pernah menjabat Kanit Reskrim di Polresta Surabaya Selatan, kemudian dipromosi menjadi Wakasat Reskrim Polres yang sama. Berturut-turut ia menjabat Kasat Reskrim Polres Malang, Polres Sidoarjo dan Polres Pasuruan, Arief dipindahtugas menjadi Kapolsek Kota Bekasi. Setelah menjabat sejumlah pos strategis tahun 2009, dia diangkat sebagai Korspripim Kapolri Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri.

Tahun 2010 pria kelahiran Nganjuk 24 Maret 1965 ini ditunjuk memimpin Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri.  Di Dittipideksus, pangkatnya dinaikan menjadi bintang satu (brigjen). Selama tiga tahun memimpin direktorat ini,  Arief berhasil mengungkap sejumlah kasus kejahatan berkala nasional bahkan internasional, sehingga tahun 2014 suami dari dr. Niken Manohara ini dipercaya memimpin Polda Kalimantan Barat di Pontianak.

Sewaktu memimpin kepolisian yang wilayahnya lebih luas dari Pulau Jawa, Brigjen Arief menerapkan reformasi struktural dan kultural di lingkup Polda Kalbar. Salah satu terobosannya yang paling mendapat apresiasi pimpinan Polri, Arief sangat ketat menerapkan proses penerimaan atau rekruitmen anggota Polri baik Akpol maupun Bintara, harus bebas dari pungutan.

Selain itu ia mereformasi mindset anggota Reskrim dalam penyidikan, sehingga lebih transparan dan akuntabel. Tentu, terobosan-terobosan ini membuat anggota-anggota Kepolisian Polda Kalbar lebih tertib dan profesional dalam bertugas. Arief juga menerapkan reward dan punishment yang ketat, sehingga anggota berlomba-lomba berprestasi.

Salah satunya, untuk menjabat Kapolres, Arief punya standar prestasi tersendiri terhadap perwira-perwiranya. Mereka yang punya track record buruk jangan harap mendapat promosi darinya. Kebijakannya ini telah mengubah sebagian besar mindset  anggota Polda Kalbar untuk berperilaku profesional dalam melayani dan melindung ( to serve and to protect) masyarakat sesuai prinsip universal kepolisian di negara mana pun di dunia.

Pengalaman sebagai Korspripim sering mendampingi kunjungan Kapolri ke berbagai penjuru dunia telah menempa Arief untuk belajar dan mengadopsi standar operasional kepolisian di negara-negara maju seperti Jepang, Inggris dan AS. Dua tahun memimpin Polda Kalbar, ayah dari Bhredipta Cresti Socarana dan Bhawika Tanggwa Prabuttama ini kemudian dipromosi sebagai Staf Ahli Kapolri Bidang Manajemen (Sahli Jemen) Kapolri Tito Karnavian.

Dalam upaya menunjang program Profesional, Modern dan Terpercaya (Promoter) yang dicanangkan  Kapolri Tito Karnavian, sejak 3 Februari 2017 sampai 17 Agustus 2018, Arief diberi tanggungjawab sebagai Asisten Sumber Daya Manusia (ASDM) Polri. Di era jabatannya Arief berhasil membongkar praktek pungli dan KKN penerimaan Bintara Polri di Polda Sumatera Selatan. Keberhasilan Arief dalam mereformasi termasuk mengubah mindset anggota Polri memberi banyak peluang bagi Arief untuk menjadi Kapolri.

Kemudian,Komisaris Jenderal Pol Drs. Agung Budi Maryoto M.Si. Perwira Tinggi yang kini menjabat Kepala Badan Intelijen dan Keamanan (Baintelkam) Polri, sepertinya juga sangat  punya peluang menjadi Kapolri.  Punya sederet jabatan tinggi dan pernah tiga kali memimpin jajaran Polda, seperti di Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan dan Jawa Barat, membuat kans  Agung terbuka lebar.

Apalagi dari sisi usia, Agung biasa dia disapa masih tergolong muda. Mantan Kakorlantas Polri (2016) saat ini baru berusia 54 tahun. Agung Budi Maryoto, yang lahir di Cilacap 19 Februari 1965, banyak bertugas di bidang lalu lintas dan pernah menjabat Dirlantas Polda Jabar. Kemudian dimutasi ke Kabag Regident Korlantas Polri dan Karoops Polda Metro Jaya.

Dari Polda Metro Jaya, lulusan Akpol 1987 bersama Kapolri Tito Karnavian,kemudian dipromosi berpangkat bintang satu di Divisi Propam Polri. Dari sini, dia dipindahtugas menjadi Wakil Korlantas Polri. Beberapa bulan kemudian Brigjen Agung Budi Maryoto, dipromosi menjabat Kapolda Kalimantan Selatan di Banjarmasin. Tidak sampai setahun, Agung diangkat memimpin Korlantas Polri (2016).

Karier Agung terus moncer, karena tidak lama di Korlantas, dia dipromosi lagi memimpin Polda Sumatera Selatan. Dari Palembang, Agung Budi Maryoto, kemudian dipindah ke Polda Jabar. Sejak 26 April 2019 Agung diberi reward menyandang bintang tiga di pundaknya. Kali ini bidang tugasnya bukan lagi di lalu lintas, tapi memimpin Badan Intelijen dan Keamanan Polri. Menilik kedekatannya dengan Kapolri Tito Karnavian, suami mantan Presenter TV Winny Charita ini sangat berpeluang menjadi Kapolri.

Irjen Pol Gatot Eddy Pramono,Kapolda Metro Jaya, walaupun masih berpangkat bintang dua, ia termasuk salah satu kandidat pengganti Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Gatot yang baru sekitar 6 bulan memimpin jajaran Polda Metro Jaya memang bukan tidak mungkin dipromosi ke pucuk pimpinan Polri. Karena pengalaman menunjukkan, mantan Kapolri Timur Pradopo, juga pernah mendapatkan promosi sebagai Kapolri dari jabatan Kapolda Metro Jaya.

Berdasar pengalaman tersebut  Gatot, menjadi kuda hitam dalam suksesi Kapolri mendatang, jika benar Tito Karnavian, memang mengundurkan diri sebelum akhir masa jabatannya. Gatot yang lahir di Solok, Sumatera Barat 28 Juni 1965, adalah lulusan Akpol 1988, bersama Idham Azis. Ia juga banyak bertugas di bidang Reskrim, sama seperti Idham dan Arief. Sebelum menjadi Asrena Kapolri, Gatot bertugas sebagai Wakapolda Sulsel.

Mantan Kapolres Blitar, Kapolres Depok (2008), Kapolres Jakarta Selatan (2009) dan Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya ini. Tahun 2018 Gatot ditunjuk memimpin Satgas Nusantara, satuan yang dibentuk untuk meredam tensi politik dari Pilkada 2018 dan Pilpres 2019. 

Melihat rekam jejak empat perwira tinggi Polri mereka sudah sangat pantas menjadi pemimpin Polri ke depan. Sebagai catatan ini pun kalau memang Kapolri Tito Karnavian, benar-benar tidak akan melanjutkan jabatannya sebagai Kapolri. Perlu diketahui, Kapolri Tito Karnavian, masa pensiunnya masih sangat panjang.  Tito yang lahir 26 Oktober 1964, masa pensiunnya baru akan terjadi 2022 mendatang. 

*Nico Karundeng, wartawan senior kepolisian

Bank Jatim