logo

Pedagang Berseteru

Pedagang Berseteru

19 Mei 2019 18:03 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Ternyata yang berseteru bukan hanya kedua kubu yang ngotot saling klaim menang di pilpres. Seolah tidak sabar menunggu keputusan KPU pada 22 Mei mendatang. Bahkan, ada yang ngotot menang meski tidak mengakui perhitungan suara versi KPU. Selain itu, juga tidak mengakui pemerintahan jika verski KPU akhirnya dikalahkan. Bahkan, kabar yang beredar juga tidak akan mau membayar pajak. Selain itu, yang diakui kecurangan hanya pilpres sementara pileg-nya diakui.

Hal ini terlihat menjadi semakin rancu karena berniat tidak membayar pajak, tapi di sisi lain bukan tidak mungkin akan tetap menerima gaji dari pemerintah, termasuk juga fasilitas publik lainnya. Bahkan, juga menyeru agar koalisinya tidak masuk ke Senayan jika lolos di masing-masing dapil. Apakah petarung demokrasi yang sudah menghabiskan modal finansial dan modal sosial mau menerima ajakan tersebut?

Tanpa mengabaikan perseteruan yang terjadi pasca pilpres sampai menjelang 22 Mei, pastinya ada juga perseteruan yang lebih heboh yaitu ketika AS-China berseteru melalui perang dagang. Padahal, AS – China adalah raksasa ekonomi dunia dengan keunggulan kompetitif yang dimilikinya. Oleh karena itu, pengenaan tarif yang dikeluarkan oleh AS dan China berdampak sistemik terhadap perekonomian global. Hal ini tentu tidak saja berpengaruh terhadap mitra bilateralnya tapi juga mitra multilateral sehingga dipastikan  dampak sistemik dari perang dagang AS - China akan mereduksi pertumbuhan ekonomi global. Jika dicermati, perang dagang AS – China jilid II tidak bisa terlepas dari realitas kepentingan sosial – ekonomi – politik. Artinya, agenda pertemuan Donald Trump dan Xin Jinping pada KTT G20 pada 28-29 Juni 2019 di Jepang bisa dipastikan belum bisa merumuskan kesepakatan yang dapat meredam panasnya perang dagang kedua negara.

Terlepas dari kalkulasi dampak sistemik dari perang dagang, pastinya, Indonesia tidak bisa mengelak. Riak perang dagang justru dimulai ketika 22 Maret 2018 Donald Trump mengumumkan kenaikan tarif US$50 miliar atas barang dari China. Gayung bersambut karena China juga menaikan tarif atas produk AS untuk 128 produk, termasuk salau satunya kedelai yang notabene menjadi ekspor utama AS ke China. Tindaklanjutnya pada 6 Juli 2018, Donald Trump kembali menetapkan tarif atas produk dari China sebesar 34 miliar dolar AS. Memanasnya perang dagang juga berimbas terhadap neraca perdagangan yang ada didalam negeri karena AS dan China merupakan pasar ekspor yang menjanjikan bagi Indonesia. Selain itu, pertimbangan terhadap sejumlah komoditas ekspor unggulan juga perlu dipertimbangkan karena realitas yang ada bukan tidak mungkin akan berpengaruh signifikan terhadap berbagai kemungkinan yang terjadi. Artinya, antipasi terjelek sangat diperlukan untuk meminimalisasi ancaman defisit neraca perdagangan.

Belajar bijak dari perang dagang maka pemerintah perlu memetakan kembali sejumlah komoditas ekspor unggulan sehingga berbagai kemungkinan bisa diantisipasi karena hal ini secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap pencapaian target pertumbuhan 5,3 persen sampai akhir tahun. Meski demikian, bukan tidak mungkin untuk membuka pasar ekspor ke negara lain yang lebih menjanjikan dengan membangun kemitraan yang lebih kuat, baik dalam kerangka jalinan bilateral atau multilateral, termasuk misalnya melalui penguatan peran Asean. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Bank Jatim