logo

Hendropriyono Yakin Kivlan Zen Akan Patuhi Hukum Dan Jalani Prosesnya

Hendropriyono Yakin Kivlan Zen Akan Patuhi Hukum Dan Jalani Prosesnya

Foto: Kolase screenshot Wartakota.live.com dan Tribunnews.com.
14 Mei 2019 19:56 WIB

Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono menyakini Kivlan Zen akan mematuhi hukum yang ada di Indonesia dan akan menjalani semua prosesnya sesuai aturan yang berlaku.

"Saya rasa beliau juga akan menghormati hukum dan saya kira biarlah yang bicara hukum, karena kalau hukum bisu, kacau balau," kata Hendropriyono seusai buka puasa bersama di kediaman Ketua DPR Bambang Soesatyo, Jakarta, Senin (13/5/2019).

Meski demikian, Hendropriyono enggan berkomentar terlalu dalam terkait dugaan makar yang dialamatkan kepada Kivlan Zen.  Mantan Ketua Umum PKPI itu lebih menyerahkan persoalan Kivlan kepada proses hukum yang berlalu.

"Jadi sesuai dengan hukum saja, kalau ada pelanggaran hukum ya harus konsekuen," paparnya seperti dikutip dari Tribunnews.com.

Secara khusus Hendropriyono mengimbau Kivlan Zen untuk menyesuaikan diri sebagai warga sipil, setelah pensiun dari institusi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

"Kami kan dilahirkan, dibesarkan sama di kampus militer. Setelah pensiun, semuanya harus menyesuaikan diri kepada induknya yaitu masyarakat sipil, masyarakat kebanyakan," ucapnya.

Kivlan Zen dilaporkan ke polisi atas tuduhan menyebarkan berita bohong dan makar terhadap pemerintah. Laporan terhadap Kivlan Zein teregister dengan nomor laporan LP/B/0442/V/2019/Bareskrim tertanggal 7 Mei 2019. Pelapor adalah pria bernama Jalaludin asal Serang, Banten.

Kivlan dilaporkan atas Tindak Pidana Penyebaran Berita Bohong atau hoax dengan Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP pasal 14 dan atau pasal 15, serta terhadap Keamanan Negara atau Makar UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP pasal 107 jo asal 110 jo pasal 87 dan atau pasal 163 bis jo pasal 107.

Hadiri Pemeriksaan Polisi

Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen diperiksa selama 5 jam sebagai saksi atas tuduhan kasus makar dan berita bohong oleh penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim, Senin (13/5/2019) pagi. Ia keluar dari ruang pemeriksaan sekitar pukul 15.30 WIB atau setelah dicecar 26 pertanyaan oleh penyidik.

Usai diperiksa, Kepala Staf Kostrad ini pun menganggap kasus tuduhan makar kepada dirinya telah selesai. "Saya anggap ini sudah selesai, insya Allah, ini baik-baik saja," ujar Kivlan, di Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (13/5/2019).

Ia juga menyampaikan kepercayaan dan profesionalitas Polri, terutama dalam penanganan kasusnya. "Saya percaya kepada Polri sebagai profesional dan sesama teman perjuangan saya dalam melindungi bangsa, Polri dan TNI adalah kawan saya," katanya.

Di sisi lain, ia juga berharap pemberitaan terhadap dirinya agar proporsional dan tidak ada pemberitaan macam-macam.

"Saya harap pemberitaan ini adalah proposional dan benar jangan nanti saya dibuat-buat lagi, macam-macamlah. Saya percaya media berkata yang benar. Jangan berita mau ke Singapura, ke Brunei, ke Jerman, janganlah bahas saya mau melarikan diri," ujar Kivlan Zen.

Perlakuan Baik Penyidik

Kuasa hukum Kivlan Zen, Pitra Romadoni, mengatakan kliennya diperlakukan baik oleh penyidik. Selama pemeriksaan, kliennya dicecar 26 pertanyaan.

"Sekitar 26 pertanyaan. Saya rasa penyidik baik memperlakukan klien kami selaku saksi dan tadi sudah diklarifikasi mengenai tuduhan-tuduhan yang dituduhkan dalam pasal makar, penyebaran berita bohong, dan satu lagi tentang menghasut," ujar Pitra, di Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (13/5/2019).

Pitra Romadoni  juga mengatakan kliennya tidak memiliki upaya untuk menggulingkan pemerintah seperti dalam laporan polisinya. Pihaknya menegaskan hanya melakukan protes dan berunjuk rasa.

Di sisi lain, Pitra mengultimatum agar Jalaludin selaku pelapor untuk mencabut laporan polisi terhadap kliennya. Apabila tidak, ia menyebut pihaknya akan mem-blow up laporan polisi terhadap Jalaludin.

"Jadi, kan tadi sudah tegas saya minta agar Saudara Jalaludin sampai besok pagi mencabut laporan polisinya. Kalau memang tidak, ini akan kita blow up juga laporan polisi kita terhadap Jalaludin," katanya.

Pitra juga berharap para penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri dapat menilai bahwa perkara ini tidak memiliki unsur makar lantaran kliennya memang tidak melakukannya.

"Saya rasa penyidik Polri istilahnya cukup kooperatif dan profesional-lah dan mereka bisa menilai perkara ini tidak bisa dilanjutkan," ujarnya.

"Karena mereka paham unsur makar itu apa saja dan dari keterangan yang disampaikan klien saya, saya menilai dan mengamati tidak ada unsur makar daripada jawaban-jawaban klien kami atau kebohongan apa, tidak ada," ucap Pitra.

Klarifikasi Tidak Kabur

Sebelumnya Kivlan Zen sempat dicekal pada Jumat (10/5/2019) lalu terkait kasus dugaan makar namun pencekalan itu kemudian dicabut. 

Kivlan pun kemudian mengklarifikasi soal tuduhan mau lari ke luar negeri. Kivlan mengatakan saat itu dia hendak ke Batam dan tidak ada niatan kabur. 

"Saya ke Batam mau ketemu anak istri saya. Kemudian datang Lettu Azis dari Bareskrim menyerahkan surat panggilan. Oke, saya datang tanggal 13 (Mei)," kata Kivlan saat memenuhi panggilan di Bareskrim Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (13/5/2019).

Usai menemui keluarganya di Batam, Kivlan lalu kembali ke Jakarta untuk memenuhi panggilan polisi sesuaiyang dijadwalkan, Senin (13/5/2019). Dia menegaskan tidak kabur. 

"Jadi jelas kok bahwa waktu itu saya kooperatif, nggak mau lari. Bagaimana saya mau lari? Saya ini perwira, jenderal, masa kabur dari tanggung jawab?" ucapnya. 

"Saya sudah berbuat untuk Republik ini, untuk bangsa Indonesia. Untuk menegakkan kedaulatan demokratik, untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Sumpah prajurit saya membela kejujuran," sambung Kivlan. 

Kivlan juga menepis pernyataan polisi yang menyebutnya hendak ke Brunei. "Nggak benar. (Saya) mau ketemu anak saya," jawabnya. 

Pengacara Kivlan Zen, Pitra Romadoni Nasution, juga membantah Kivlan hendak pergi ke luar negeri. Ketika ditemui polisi di bandara, Kivlan disebut tidak membawa paspor. 

"Pak Kivlan Zen, yang memesan tiketnya adalah anaknya, langsung ke Batam. Tadi saya sudah koordinasi dengan anaknya bahwa beliau hanya ingin ke Batam dan beliau tak bawa paspor," kata Pitra. 

Pitra lalu mendesak polisi meminta maaf karena menyebut Kivlan akan ke luar negeri. Dia juga mengancam mengambil langkah hukum. 

"Maka atas pernyataan polisi tadi, saya minta Polri minta maaf-lah. Kalau tidak minta maaf, terpaksa saya akan menempuh langkah hukum melaporkan mereka ke Propam bahwa menyatakan Pak Kivlan Zen akan keluar negeri," pungkasnya.

Alasan Surat Cegah Kivlan Dicabut

Dilansir Detik.com, Polri meminta pembatalan surat pencegahan ke luar negeri terhadap Kivlan Zen karena Kivlan disebut kooperatif dan punya paspor yang masa berlakunya segera habis.

"Paspor Pak KZ (Kivlan Zen) akan habis dalam waktu dekat. Jadi, tidak akan diizinkan meninggalkan Indonesia atau memasuki negara lain," kata Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal saat dikonfirmasi, Sabtu (11/5/2019). 

Selain itu, penyidik mendapat informasi Kivlan Zen akan kooperatif. Kivlan Zen dipanggil polisi atas laporan dugaan penyebaran hoax dan dugaan makar pada Senin (13/5/2019).

"Penyidik mendapat info bahwa Pak KZ akan kooperatif hadir memenuhi panggilan penyidik. Oleh karena itu, penyidik memandang tidak perlu melakukan pencekalan lagi," ucap Iqbal pula.

Keberatan Prosedur Pemberian Surat Panggilan

Dalam memberikan surat panggilan, penyidik kepolisian menyambangi Kivlan Zen saat berada di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Jumat (10/5/2019). Ketika itulah, penyidik menyerahkan surat panggilan kepada Kivlan Zen.

Sementara itu, tim pengacara Kivlan Zen mempertanyakan prosedur dalam pengiriman surat panggilan. Sebab, Kivlan Zen disambangi polisi yang memberikan surat panggilan terkait laporan dugaan makar itu di bandara. Kivlan Zen dilaporkan oleh Jalaludin dengan nomor LP/B/0442/V/2019/Bareskrim. 

"Klien saya komplain dan keberatan kepada saya. Klien kami, Kivlan Zen, merasa keberatan dan merasa kecewa akibat pihak, oknum kepolisian yang datang menjumpai beliau. Bahkan Kivlan Zen menyatakan dikejar-kejar seperti layaknya seorang penjahat," ujar pengacara Kivlan Zen, Pitra Romadoni Nasution, Sabtu (11/5/2019)

Namun demikian, Pitra menegaskan Kivlan Zen siap menghadapi proses hukum. ***

Sumber: Tribunnews.com, Detik.com, Liputan6.com

Editor : Pudja Rukmana