logo

Siapkan Surat Wasiat Lawan Kecurangan Pilpres, Prabowo: "Berunding Boleh, Menyerah Tidak Boleh"

Siapkan Surat Wasiat Lawan Kecurangan Pilpres, Prabowo:

15 Mei 2019 00:09 WIB

Penulis : Gungde Ariwangsa SH

SuaraKarya.id - JAKARTA: Patang mundur. Begitulah tekad  calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto bersama calon wakil presiden Sandiaga Salahuddin Uno dan tim Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi dalam melawan dugaan kecurangan yang terjadi secara terstruktur, sistematis, dan masif pada Pemilu, khususnya Pilpres tahun 2019 ini.

Demi mempertegas tekadnya, Prabowo bahkan sudah menyiapkan surat wasiat yang disaksikan oleh pihak keluarga dan ahli hukum. Prabowo mengatakan, tujuan surat wasiat ini agar keikhlasan perjuangan yang dia lakukan ini dapat diwariskan oleh para pendukungnya demi terciptanya keadilan dan tegaknya sistem demokrasi di Indonesia.

"Saya akan kumpulkan ahli hukum. Saya akan membuat surat wasiat saya," ungkap Prabowo di acara BPN Mengungkap Fakta-fakta kecurangan Pilpres 2019 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (14/5/2019).

Prabowo tak membeberkan apa isi surat wasiat tersebut. Dia pun kemudian meminta kepada seluruh aparat penegak hukum di Indonesia tidak menakut-nakuti rakyat. Dia menuturkan, banyak yang mempertanyakan sikapnya lantaran pihak pemerintah kerap mengirimkan utusan untuk bertemu dengannya.

Namun, mantan Danjen Kopassus itu menegaskan bahwa berdialog dan bernegosiasi diperbolehkan asal tidak menyerah pada keadaan. "Ada yang mengatakan Pak Prabowo bagaimana sikapnya. Katanya ada yang minta ketemu saya. Bolak balik minta ketemu. Berbicara boleh, berunding boleh, menyerah tidak boleh," ujarnya.

Terkait pernyataannya soal  tidak usah nakut-nakuti dengan makar-makar, Prabowo menegaskan, orang-orang, tokoh-tokoh bangsa itu bukan makar. “Jenderal-jenderal itu mempertaruhkan nyawanya dari sejak muda. Mereka tidak makar. Kita membela negara dan bangsa Indonesia," kata Prabowo.

Seperti dilaporkan tempo.co dan liputan6.com, dalam kesempatan tersebut, Prabowo menuturkan, bahwa saat ini banyak yang mempertanyakan sikapnya lantaran pihak pemerintah Joko Widodo kerap mengirimkan utusan untuk bertemu dengannya. Namun, Prabowo menegaskan bahwa berdialog dan bernegosiasi diperbolehkan tetapi dirinya menolak menyerah pada keadaan.

"Ada yang mengatakan Pak Prabowo bagaimana sikapnya. Katanya ada yang minta ketemu saya. Bolak-balik minta ketemu. Berbicara boleh, berunding boleh, menyerah tidak boleh," ucapnya.

Dia menuturkan, dirinya saat ini masih menaruh harapan kepada penyelenggara pemilu dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk bekerja secara jujur dan profesional dalam menjalankan tugasnya. Tetapi, jika hal tersebut tidak dijalankan dengan baik maka penyelenggara pemilu telah berkhianat kepada rakyat dan negara Indonesia.

"Artinya kita berkhianat kepada negara bangsa rakyat, itu artinya kita berkhianat kepada pendiri pendiri bangsa Indonesia, itu artinya kita berhianat kepada puluhan ribu orang yang telah gugur untuk mendirikan negara Republik Indonesia ini," ujar Prabowo.

Prabowo telah menyatakan sikapnya terkait hasil Pemilu 2019 yang dia nilai curang. "Sikap saya adalah akan menolak hasil Pemilu yang curang,” ujarnya.

Prabowo bersama BPN mengadakan acara untuk membeberkan data-data kecurangan Pemilu 2019. Acara ini dihadiri oleh Prabowo, Sandiaga, Ketua BPN Djoko Santoso, Wakil Ketua Gerindra, Fadli Zon, Juru Bicara BPN, Dahnil Anzar dan lainnya. Relawan pun memenuhi arena acara di aula Hotel Grand Sahid.

Pada acara ini mereka memaparkan sedikitnya enam bukti kecurangan. Di antaranya, Kartu Keluarga di beberapa tempat mereka nilai manipulatif. Lalu jumlah pemilih tetap yang bermasalah, contohnya, menurut mereka suara pemilih di Jawa Timur sebanyak 7.644.025 orang, dengan 5,3 juta orang invalid, dan 2,2 juta pemilih ganda.

Selain itu, mereka menuding Situng milik Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak netral, karena sistemnya tidak realtime. Selain itu, hasil C1 dinilai manipulatif karena tabel dalam tiap-tiap gambar tidak rapi sehingga dicurigai hasil manipulasi. ***