logo

Buruh Vs Robot

Buruh Vs Robot

01 Mei 2019 18:34 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Peringatan Hari Buruh tidak terlepas dari beragam tuntutan yang secara tidak langsung mengarah ke orientasi peningkatan kesejahteraan. Tentu ini sah adanya meski di sisi lain fenomena industrialisasi tidak bisa terlepas dari dualisme antara kepentingan efisiensi - produktivitas dan padat modal - padat karya. Hal ini lalu berdampak sistemik terhadap perkembangan industrialisasi yang ada dan kemudian mengarah kepada tuntutan yang lebih kompleks baik dari kalangan buruh dan juga kalangan dunia usaha. Oleh karena itu sangat sulit untuk menyatukan dari kedua kepentingan tersebut dan karenanya beralasan jika aksi demo buruh selalu hadir ditengah riak industrialisasi yang semakin pesat.

Relevan dengan hal tersebut maka apa yang terjadi dengan berbagai aksi demo buruh kali ini juga harus dipandang sebagai suatu tuntutan yang realistis ditengah himpitan beban hidup, apalagi jerat inflasi jelas membelenggu kehidupan kaum buruh, terutama jika besaran upah yang ditetapkan tidak selaras dengan perkembangan inflasi. Terkait ini maka logis jika kenaikan UMP – UMK setiap tahunnya seharusnya bisa sinkron dengan  kebutuhan hidup layak atau KHL. Mengacu PP no.78 Tahun 2015 tentang Pengupahan bahwa kebutuhan hidup layak adalah standar kebutuhan seorang pekerja / buruh lajang untuk dapat hidup layak secara fisik dalam sebulan. Terkait ini, sejak diluncurkan UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pemerintah telah menetapkan standar KHL sebagai dasar penetapan upah minimum seperti yang diatur pada Pasal 88 ayat 4.

Ironisnya, penetapan upah buruh tidak pernah memuaskan dan persoalan lainnya yaitu kalangan dunia usaha yang cenderung merasa keberatan dengan kenaikan setiap tahun. Padahal, pada tahun 2019 ini rerata kenaikan UMK mencapai 8,03 persen dan sejumlah kalangan dari dunia usaha sudah ada yang mengajukan keberatan. Meski keputusannya masih dipertimbangan mengacu sejumlah aspek, tetapi seringkali keberatan diterima dan  akhirnya buruh yang dikorbankan. Argumen ini diperparah oleh bargaining kaum buruh yang sangat lemah didunia industrialisasi, apalagi trend padat karya akan semakin redup karena secara perlahan kebutuhan akan buruh akan digantikan oleh robot. Artinya, jika ke depan akan semakin banyak buruh yang dirumahkan bukan sekedar karena dunia usaha sedang lesu, tapi juga realita semakin banyaknya penggunaan robot di dunia kerja.

Keyakinan tersebut diperkuat oleh semakin jamaknya penggunaan robotik di era industri 4.0 yang didukung oleh penggunaan internet dengan tarif yang semakin murah dan juga aksesnya yang semakin mudah sementara kecepatannya semakin tinggi. Artinya, potret buruh yang bersifat padat karya akan semakin terpinggirkan karena kini tergantikan oleh padat modal dan juga padat robot. Bahkan situasinya semakin kronis ketika kecerdasan buatan kini kian banyak dibentuk, diciptakan, dibangun, direkayasa dan dilahirkan untuk menggantikan peran dari manusia sebagai SDM. Jadi wajarlah jika kemudian SDM akan digantikan SDR (Sumber Daya Robot). Meskipun tahap investasi di awal mahal dengan membangun kecerdasan buatan namun ke depan nilainya akan semakin murah, apalagi robot tidak mengenal demo dan tidak resek dengan berapapun besaran upahnya. Bahkan, perkembangan robot ke depan akan semakin humanis karena semua perilaku manusia bisa ditiru robot sehingga persepsian tentang robot bukan lagi bentuk produk yang kaku tapi justru sebaliknya atau mungkin lebih ramah dibanding manusia. Jadi selamat tinggal buruh, selamat datang kaum robot. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo