logo

Bambang Widjojanto Ingatkan Jangan Sampai Pemenang Pilpres 2019, Buah Kecurangan

Bambang Widjojanto Ingatkan Jangan Sampai Pemenang Pilpres 2019, Buah Kecurangan

Foto: Screenshot Wikipedia.
24 April 2019 19:21 WIB

Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Mantan Komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto mengingatkan jangan sampai presiden yang terpilih di Pilpres 2019 adalah buah dari kecurangan. Ia pun menggarisbawahi jangan sampai ada yang mendapatkan suara terbanyak tapi yang menjadi presiden adalah orang lain. 

"Kalau itu terjadi sebenarnya kita sedang mendorong negara ini sampai di bibir jurang karena ini berbahaya sekali," kata Bambang saat berbicara sebagai salah satu deklarator Gerakan Nasional Selamatkan Demokrasi dari Pemilu Curang, di SCBD, Jakarta Selatan,  Minggu (21/4/2019) seperti dilansir Republika.co.id

Menutut Bambang, hal tersebut perlu diperhatikan karena merupakan salah satu alasan Pemilu 2019 bisa disebut sebagai pemilu terburuk pascareformasi. Pertama, selain maraknya kecurangan, ia menyebut ada dua alasan lainnya mengapa Pemilu 2019 disebut sebagai pemilu terburuk pascareformasi.

Alasan kedua, kata Bambang, prinsip pemilu langsung, umum, bebas dan rahasia belum diterapkan sepenuhnya. Buktinya, banyak video surat suara tercoblos yang beredar di media sosial. Namun, ia mengingatkan bahwa kualitas pemilu dilandasi oleh kejujuran bukan oleh kerahasiaan.

Bambang juga menyoroti sejumlah lembaga independen pengawal pemilu selain KPU, yakni Jurdil2019, AyoJagaTPS, dan KawalPemilu. Menututnya, para pengawal pemilu itu justru mendapat intimidasi berupa peretasan. 

"Jadi sekarang terjadi masivitas dalam tanda kutip 'intimidasi' yang dilakukan secara sistematis di hampir seantero masyarakat. Itu poin kedua yang menjadi penting," katanya seperti dikutip dari Republika.co.id.

Ketiga, Bambang menyoroti penyelenggara pemilu yang terkesan melakukan pembiaran pelanggaran dan permasalahan. Permasalahan yang dimaksud, misalnya, netralitas aparat, kisruh DPT hingga banyaknya kecurangan pemilu yang beredar di media sosial, namun dibiarkan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Dari tiga alasan tersebut, Bambang pun mengaku bersedia menjadi salah satu deklarator Gerakan Nasional Selamatkan Demokrasi dari Pemilu Curang yang dikoordinatori oleh Said Didu beserta sejumlah tokoh lainnya.  

"Sebagian masyarakat justru berinisiatif mengungkapkan apa yang sudah dilihatnya. Jadi, ada gerakan yang luar biasa yang sangat masif yang ingin menjelaskan ada berbagai kecurangan yang hari ini muncul," kata Bambang Widjojanto. ***

Editor : Pudja Rukmana