logo

Pilpres 2019: Mempermainkan Kekuasaan Rakyat

Pilpres 2019: Mempermainkan Kekuasaan Rakyat

18 April 2019 00:20 WIB

SuaraKarya.id -
 

Oleh: Gungde Ariwangsa

Sungguh menyedihkan. Pemilihan Umum 2019, khususnya pemilihan presiden (Pilpres), sebagai pelaksanaan demokrasi ternyata sangat jauh dari penghormatan terhadap kekuasaan rakyat itu sendiri. Hak paling esensi dalam sitem demokrasi yang seharusnya dihormati setinggi mungkin justru menjadi bahan permainan.

Tidaklah mengherankan begitu rakyat selesai melaksanakan kekuasaannya pada hari pemungutan suara, Rabu (17/4/2018), muncul kesimpangsiuran dalam menyikapi hasil Pilpres. Saling klaim kemenangan mencuat setelah dilansirnya hasil perhitungan cepat oleh beberapa lembaga survei yang mendapat legitimasi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). Sebagian besar lembaga survei mencatat kemenangan bagi calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo – Ma’ruf Amin

Namun hasil itu menimbulkan ketidak pastian. Ada juga lembaga survei lainnya yang memenangkan duet capres dan cawapres Prabowo Subianto – Sandiaga Salahuddin Uno. Sudah begitu, kubu Prabowo – Sandi juga mengeluarkan penghitungan cepat dan exit poll serta real count yang memenangkan kubunya dengan keunggulan yang signifikan. Warga net di media sosial twitter juga lebih banyak memenangkan Prabowo – Sandi.

Saling klaim kemenangan pun makin ramai. Rakyat terbelah sesuai dengan pilihannya. Bahkan sudah ada yang mengambil sikap akan melakukan aksi untuk merayakan dan mensyukuri kemenangan pasangan yang didukungnya.

Menyikapi hal itu Jokowi tidak secara tegas mengklaim kemenangan seperti yang dihasilkan lembaga survei ternama. Dia menyatakan, semua bisa melihat dari  indikasi exit poll dan quick count. Tapi, semua diminta  bersabar menunggu penghitungan resmi dari KPU.

Di pihak lain Prabowo langsung mengklaim kemenangan berdasarkan hasil real count internal dengan perolehan suara 62 persen berdasarkan hasil penghitungan di 320 ribu lebih TPS. Pihaknya sudah deyakinan ahli-ahli statistik hasil ini tidak akan berubah banyak.

Prabowo meminta semua relawan Prabowo-Sandiaga termasuk parpol koalisi Indonesia Adil-Makmur yakni PKS, PAN, Demokrat, Berkarya dan Gerindra untuk tetap menjaga kotak suara hingga mengawal di kecamatan. Prabowo pun mengklaim bahwa dirinya akan terpilih sebagai presiden Indonesia.

Mandat kekuasaan rakyat kini berada dalam ujian karena diatur dan ditafsirkan dengan berbagai cara. Hak rakyat dalam pesta demokrasi ini seperti dipermainkan melalui berbagai metode. Ada yang berpedoman berdasarkan keahlian dalam mengolah hasil perhitungan cepat, mengutak-atik exit poll dan juga perhitungan nyata. Dengan mendapat legitimasi dari KPU tentunya lembaga survei itu melakukan pengolahan datanya bukan saja profesional namun juga menerapkan prinsip kejujuran dan keadilan.

Dengan demikian pemiliha yang dilakukan oleh rakyat sevara langsung, umum, bebas dan rahasia bisa mendapatkan hasil yang jujur dan adil. Perjuangan rakyat dalam menjaga prinsip luber tidak akan ternodai oleh sikap tidak jujur dan tida adil. Apalagi dimanipulasi untuk kepentingan pihak tertentu. Baik itu karena alasan simpati atau bisa juga karena imbalan tertentu.

Tidak adanya satu kata dalam menerima hasil yang dilansir lembaga-lembaga survei itu maka kini semua pihak sangat menaruh harapan pada KPU. Mampukah lembaga bentukan pemerintah ini memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang terjadi di kotak suara? Bukan berdasarkan hasil rekayasa beberapa pihak sehingga nanti justru akan menambah keruh keadaan.

Untuk itu KPU perlu mengawal pengiriman kotak suara dari seluruh Tanah Air agar benar-benar aman sesuai dengan aslinya. Seindah aslinya. Bukan lebih indah apalagi lebih buruk dari coblosan aslinya. Nasib pilihan rakyat dan juga nasib bangsa ini kini ada di tangan KPU. Jadi perlu dijaga agar jangan ada permainan dan dusta sehingga hasil Pilpres 2019 tidak menghasilkan pemimpin yang pendusta. ***

* Gungde Ariwangsa – wartawan suarakarya.id pemegang kartu UKW Utama.