logo

Mahasiswa Jangan Golput, Salurkan Aspirasi 5 Tahun Sekali

Mahasiswa Jangan Golput, Salurkan Aspirasi 5 Tahun Sekali

15 April 2019 06:21 WIB

Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - JAKARTA: Mahasiswa sebagai generasi muda bangsa jangan sampai golput dalam pemilihan umum serentak 17 April 2019 nanti. Sebagai generasi millenial pada momentum yang bersejarah dan hanya lima tahun sekali ini,  mahasiswa harus menentukan pilihan politiknya. Sebab ini dibutuhkan untuk menentukan nasib bangsa 5 tahun ke depan. 

Demikian ditandaskan Prof Jimly Asshiddiqie SH  MH, pakar hukum tata negara sebagai narasumber pada seminar yang diselenggarakan Fakultas Hukum Universitas Esa Unggul di  kampusnya, Gedung Utama UEU di Jakarta Barat, Sabtu (13/4/2019). 

Seminar dengan tema "Hak Konstitusional Warga Negara pada Pemilihan Umum dalam Sudut Pandang Hak Asasi Manusia" itu juga menghadirkan tenaga ahli utama Deputi V Kantor Kepala Staff Presiden, Ifdhal Kasim SH IIM sebagai narasumber dengan moderator Dekan Fakultas Hukum Universitas Esa Unggul, DR Wasis Susetio SH MH.

"Imbauan saya kepada seluruh mahasiswa dan masyarakat di Indonesia yang punya hak pilih, manfaatkan hak pilih itu sebaik-baiknya. Bahkan kalau punya aspirasi, harus diperjuangkan," kata Prof Jimly.

Menurut mantan Ketua MK itu, persoalan Golput (golongan putih) yang tidak ikut memilih dalam setiap pelaksanaan Pemilu masih saja terjadi. Meskipun dari hasil survei angka Golput ini grafiknya menurun, namun Prof Jimly Asshidique mengharapkan warga semakin sadar untuk menggunakan kesempatan yang hanya 5 tahun sekali ini agar tidak disia-siakan. 

Diakuinya, nanti ada 5 kertas surat  suara yang harus dicoblos. Andaikan ada satu surat suara yang tak disukai atau tak dipahami, toh masih ada 4 surat suara lainnya yang dapat dipilih untuk dicoblos sesuai aspirasi masing masing. 

"Karena itu saya imbau gunakan hak pilihmu dan ayo datang ke TPS pada 17 April nanti," ujar Jimly yang juga calon anggota DPD DKI Jakarta itu. Betapapun Pemilu 2019 ini merupakan momentum pendewasaan politik berdemokrasi bagi para mahasiswa sebagai generasi muda millenial bangsa Indonesia yang diharapkan di masa depan. 

Menjawab mengenai penyelenggaraan Debat Capres pada masa kampanye Pemilu 2019, Prof  Jimly mengatakan Debat Capres yang terakhir itu sebenarnya tidak diperlukan lagi. Pasalnya dari Debat Capres yang keempat saja masyarakat di seluruh Indonesia sudah dapat menentukan sikap untuk akan memilih siapa. "Namun harus kita hargai upaya yang sudah dilakukan pihak penyelenggara Pemilu serentak ini," katanya.

Sementara Dekan Fakultas Hukum Universitas Esa Unggul Dr Wasis Susetio SH MH,   menjelaskan, seminar ini bertujuan untuk menambah dan  nempertajam ilmu pengetahuan dan kesadaran politik bagi mahasiswa di lingkungan civitas akademika Universitas Esa Unggul. Terutama tentang hak konstitusional warga negara pada Pemilu dalam sudut pandang hak asasi manusia.

"Kami sudah lama melakukan hal semacam ini dengan berbagai agenda  kegiatan  seminar dan dialog serta interaksi melalui media sosial," kata Wasis. ***