logo

45 Tahun MSJ, Kamar Tahanan Diponegoro Akan Dibuka Seiring Pameran Kosmopolitan

45 Tahun MSJ, Kamar  Tahanan  Diponegoro  Akan Dibuka Seiring  Pameran Kosmopolitan

25 Maret 2019 17:32 WIB

Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - JAKARTA: Merayakan Hari Ulang Tahun ke-45  Museum Sejarah Jakarta (MSJ), pada 30 Maret 2019 bertepatan hari Sabtu, ruang tempat Pangeran Diponegoro ditahan di gedung itu tahun 1830 silam akan dibuka untuk umum. Bersamaan dengan itu akan dibuka pula  Pameran Jakarta Kota Kosmopolitan. Diharapkan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan akan hadir untuk memberikan sambutannya.

Kepala Unit Pengelola Museum Kesejarahan Jakarta Sri Kusumawati mengungkapkan hal itu Minggu (24/3/2019).
"InsyaaAllah Pak Gubernur berkenan hadir,"    kata Sri Kusumawati.

Lebih lanjut dikatakan,  saat ini Ruang  Diponegoro tersebut masih dibenahi walau sudah dilakukan soft opening pada 12 November 2018 yang lalu. Makanya  masih belum dibuka untuk umum.
Namun dari kesejarahan di situlah Pangeran Diponegoro yang telah mengobarkan perang  perlawanan kepada penjajah Belanda 1825 -1830 ditahan bersama isterinya, sebelum diasingkan ke Makasar.

Menurut Sri Kusunawati, Museum Sejarah Jakarta juga memiliki ribuan buku  kuno yang saat ini sebagian sedang dikonservasi di Pusat Konservasi Cagar Budaya (PKCB)  yang berlokasi di sebelah selatan museum tersebut.
"Yang dikonservasi 170 buku kuno. Yang  paling tua buku terbitan tahun 1600 Masehi," kata Kusumawati.

Kepala PKCB Linda Enriany dan staf preservasi dan restorasi PKCB Nurul Iman mengakui puluhan buku kuno milik Museum Sejarah Jakarta sedang dikonservasi di laboratorium PKCB.

Tampak di antaranya buku Ardjoena Sasra Baoe Een Javansch Gedicht karya  Raden Ngabehi Sindoesasra dan  Dr W Palmer van Den Brock dari Soerakarta.
Buku cukup besar dan tebal itu berhuruf Jawa campur huruf Alfabet terbitan Lange & Co, Batavia 1868.

Sampulnya tampak ada guratan bekas dimakan rayap atau ngengat.
Mengenai Ruang Pangeran Diponegoro, Minggu (24/3/2019) tampak masih ditutup jalan masuknya. Namun untuk akurasi informasi,  "Suara Karya" diantar security MSJ bernama Galih ke ruang Diponegoro melalui ruang  penjara wanita naik tangga. Tampak terpasang lukisan saat Pangeran Diponegoro saat dijebak  menyerahkan diri di Magelang kepada Letjen De Kock pada 28 Maret 1830.

Di dalam kamar berlantai kayu itu  ada tempat tidur kuno dengan kelambu yang pernah digunakan P Diponegoro.

Mengenai ruang ini, Sri Kusumawati menjelaskan inisiatornya Peter Carey seorang penulis sejarah dari Inggeris. Waktu soft opening 12 November 2018,  Peter Carey dan ahli waris keluarga Pangeran Diponegoro hadir.

"Diharapkan pada Grand Launching 30 Maret nanti  mereka hadir kembali," katanya.

Minggu (24/3/2019) pengunjung MSJ mencapai 4.817 orang. Kasubbag Tata Usaha Museum Kesejarahan Jakarta H Namin merinci dari jumlah itu terdapat 136 orang wisatawan mancanegara antara lain dari Jepang, Korea, Belanda, Cina, Amerika, Kanada dan New Zealand.
Dari 4 orang wisatawan Kanada tersebut  2 orang di antaranya Rudy van Soest (83) dan putra sulungnya Chris van Soest (49).

"Saya baru pertamakali ke Indonesia sejak 3 hari lalu bersama Papa," kata Chris sambil menunjuk seorang kakek bule yang duduk di kursi dekat pintu Ruang Etnografi.

Terlihat Chris telah keliling museum itu di halaman dalam, melihat penggilingan tebu dari batu, tempat minum kuda  juga dari batu, penjara bawah tanah dan melongok sumur tua di pojok barat laut. Tak jauh dari situ ada pintu yang atasnya lengkung. Di situlah akses ke penjara wanita yang memiliki tangga ke atas ke Ruang Diponegoro. Sedang tangga ke kiri menukik ke ruang bawah tanah.
Puas berkeliling Chris memperkenalkan kepada Papanya.

"Kalau saya memang kelahiran sini tahun 1936.   Rumah bapak saya dulu di  Cideng, jalan Tanah Abang II nomor 127," kata    kakek itu, Rudy van Soest ramah.

Ia bercerita sekitar tahun 1940 an sering melihat Bung Karno bertamu ke bapaknya yang membuka  Toko Buku Van Soest. Yang dibeli Bung Karno tak lain buku buku yang mengajarkan kemajuan bangsa.

Waktu Bung Karno tampil di podium lapangan IKADA, 19  September1945 yang hanya sebentar,  Rudy mengaku ikut menyaksikan beberapa belas meter dari podium.

"Saya masih ingat Bung Karno mengepalkan tangan dan teriak Merdeka...merdeka," tuturnya bersemangat. Saat itu Rudy masih berumur 9 tahun.

Warga kota Montreal,  Kanada ini menyatakan setuju dengan faslafah Pancasila. "Saya juga senang dengan simbul garuda yang gagah," ujar Rudy sambil mengembangkan kedua tangannya seperti sayap Garuda Pancasila.

Dalam obrolannya dengan sesama pengunjung Museum Sejarah Jakarta, Rudy van  Soest berencana keliling Indonesia sampai 18 April. Destinasi wisata yang akan dikunjungi Bogor, Yogyakarta termasuk Borobudur Prambanan, Malang, Bromo dan Bali. Namun Jakarta tempat dia dilahirkan dan berkembang dewasa  sampai tahun 1960 itu tetap dikenangnya. ***