logo

Kontroversi Survei Litbang Kompas, Fadlizon Dan Catatan Denny JA

Kontroversi Survei Litbang Kompas, Fadlizon Dan Catatan Denny JA

Foto: Jokowi dan Prabowo, kolase screenshot (Istimewa)
22 Maret 2019 16:57 WIB

Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Dari sekian banyak survei terkait pilpres 2019, barangkali yang paling menarik adalah hasil survei terbaru Litbang Kompas. Hasil survei Litbang Kompas yang dirilis Rabu (19/3/2019) menunjukkan, jarak elektabilitas antara pasangan calon presiden/calon wakil presiden, Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, semakin tipis. 

Dalam survei yang digelar pada 22 Februari - 5 Maret 2019 itu, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf berada di angka 49,2 persen, sementara Prabowo-Sandiaga 37,4 persen. Adapun, 13,4 persen responden lainnya menyatakan rahasia.

Jadi, jarak elektabilitas kedua pasangan calon semakin menyempit, 11,8 persen. "Selama enam bulan, elektabilitas Jokowi-Amin turun 3,4 persen dan Prabowo-Sandi naik 4,7 persen," tulis peneliti Litbang Kompas, Bambang Setiawan.

Terang saja, sebagian kalangan khususnya para pendukung Jokowi-Ma'ruf menilai ada keanehan. Masalahnya, hasil survei sejumlah lembaga survei kredibel lainnya tetap menempatkan posisi elektabilitas yang renggang antarkedua pasangan calon presiden dan wakil presiden Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi di Pilpres, 17 April mendatang. Sebenarnya ada apa ini?

Survei Litbang Kompas dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan melibatkan 2.000 responden yang dipilih secara acak melalui pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi di Indonesia, dengan tingkat kepercayaan 95 persen, dan margin of error lebih kurang 2,2 persen.

Padahal pada survei sebelumnya, Oktober 2018, perolehan suara keduanya masih berjarak 19,9 persen dengan keunggulan suara di pihak Jokowi-Ma'ruf. Saat itu, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf 52,6 persen, Prabowo-Sandiaga 32,7 persen, dan 14,7 responden lainnya menyatakan rahasia.

Hasil survei ini juga menunjukkan bahwa meski penurunan angka elektabilitas Jokowi-Ma'ruf terlihat sedikit, tetapi memberikan pengaruh signifikan pada jarak keterpilihan.

Sebelumnya, lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) juga sudah merilis pada 17 Maret 2019. Selain itu, ada juga lembaga survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang dirilis pada 5 Maret 2019. Terakhir, Indo Barometer juga merilis hasil surveinya, Kamis (20/3/2019). 

Hasilnya, hampir ketiganya menilai elektabilitas Jokowi-Ma'ruf masih unggul daripada pasangan Prabowo-Sandiaga dengam perbandingan jarak elektabilitas yang cukup signifikan hingga 20 persen. Jokowi-Amin berkisar 50-58 persen, sementara Prabowo-Sandi 30-35 persen.

Tanda Kekalahan?

Tak heran, hasil survei Litbang Kompas mendapat respon positif dari anggota Dewan Pengarah Badan Pemenang Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Fadli Zon. Waketum Gerindra itu pun optimis dalam waktu dekat Prabowo-Sandiaga akan menyusul elektabilitas pasangan Jokowi-KH Ma'ruf Amin.

Menurut Fadli, jika elektabilitas petahana berada di bawah 50 persen, hal itu berarti merupakan tanda kekalahan.

"Saya melihat kalau seoarang petahana itu sudah di bawah 50 persen kalau menurut statistik itu di mana-mana itu artinya kalah," kata Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/3/2019) seperti dilansirTribunnews.com.

Bahkan, ia mengklaim jika merujuk pada hasil survei internal BPN, elektabilitas Prabowo -Sandiaga sudah melampaui Jokowi-KH Ma'ruf Amin.

"Kalau kami sangat optimis bahwa Prab-Sand sekarang leading dan menurut survei internal kami sudah melampaui petahana sekarang ini," ujarnya.

Berkenaan dengan itu, Fadli mengungkapkan elektabilitas Prabowo -Sandiaga yang semakin meningkat menunjukkan kalau paslon nomor urut 02 itu telah memenangkan hati dan pikiran rakyat.

Sedangkan menurunnya elektabilitas Jokowi itu sebagai bukti kekecewaan rakyat terhadap janji-janji calon petahana yang tidak terpenuhi.

"Prabowo-Sandi itu memenangkan hati dan pikiran masyarakat, karena petahana menjanjikan banyak hal tetapi tidak deliver, tidak bisa sesuai dengan apa yang diucapkan atau dengan apa yang dijanjikan," tuturnya.

Senada dengan Fadli Zon, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menilai hasil survei Litbang Kompas turut mengkonfirmasi survei internal BPN yang menunjukkan elektabilitas capres petahana Joko Widodo (Jokowi) sudah di bawah 50 persen. BPN menganggap Jokowi tidak mungkin menang.

"Tapi Litbang Kompas memastikan Jokowi decline dan sudah di bawah 50 (persen). Kalau di bawah 50 (persen) udah nggak mungkin menang ya. Karena gini, ini tren berarti Pak Jokowi sudah tren turun terus, Pak Prabowo naik terus," kata juru bicara BPN Andre Rosiade di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (20/3/2019).

Menurut Andre, survei Kompas memberi sinyal bahwa Prabowo akan menang pada Pilpres 2019 nanti. Andre bahkan berani menilai Jokowi sudah 'game over'.

"Yang ketiga ini perlu tahu, Kompas sebagai grup besar sudah berikan sinyal kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa 17 April besok presiden Indonesia akan diganti dari Jokowi ke Prabowo Subianto. Intinya apa? Litbang Kompas memberikan pemberitahuan bahwa Pak Jokowi game over," ujar Andre.

Berdasarkan survei Litbang Kompas, Prabowo unggul di kalangan pemilih pemula (gen Z) dan pemilih intelektual. Andre menyebut pemilih dengan akal sehat dan rasional. Ia pun meminta para relawan untuk terus menggencarkan kampanye door to door.

"Caranya kami untuk meyakinkan pemilih Prabowo itu bahwa kami sudah meyakinkan seluruh pendukung Prabowo, mulai relawan pendukung lalu seluruh kader partai itu mulai sekarang lebih rajin turun ke dapil, temui masyarakat, door to door datang ke rumah masyarakat. Ajak masyarakat untuk memilih Prabowo," tutur Ande.

"Caranya gimana? Kita sampaikan pesan-pesan positif tentang Prabowo-Sandi. Soal pertumbuhan ekonomi, soal bagaimana Prabowo-Sandi hadir untuk membuka lapangan kerja dan memastikan harga-harga kebutuhan bahan pokok terjangkau, termasuk kasus Novel selesai 100 hari," ungkapnya. 

Hasil survei Litbang Kompas terkait trend elektabilitas pasangan calon presiden dan wakil presiden di Pilpres 2019 tampaknya cukup menggelitik Denny JA. Tak pelak, konsultan politik dan tokoh media sosial ini sengaja membuat catatan khusus di laman Facebook resminya, Denny JA's World. 

Tampaknya Denny JA galau dan merasa perlu bertanya apakah survei Litbang Kompas berpolitik? Atau, adakah pesan lain di balik hasil survei Litbang Kompas? Uneg-uneg Denny JA ditulis dalam bentuk catatannya yang bertajuk 'Apakah Survei Litbang Kompas Berpolitik?' 

Berikut ini selengkapnya catatan Denny JA yang diunggah di Facebook, Rabu (20/3/2019).


APAKAH SURVEI LITBANG KOMPAS BERPOLITIK?

Oleh Denny JA

Terlalu banyak bumbu politik mengomentari data statistik.  Itulah kesan awal saya membuka WA di jaringan pribadi (japri), pagi ini, Rabu 20 Maret 2019. 

“Bisakah kita percaya survei Litbang Kompas bro Denny?” Apakah Kompas bermain politik? Dengan redaksi yang berbeda begitu banyak yang bertanya hal yang sama soal publikasi survei Harian Kompas di hari itu.

Jokowi digambarkan menurun dari 52.6 persen (Okt 2018) ke 49.2 persen (Maret 2019). Prabowo dinyatakan menaik dari 32.7 persen (Okt 2018) menuju 37.4 persen (Maret 2019). Pesannya: Jokowi hati-hati! Belum aman!

Kompas memang menyajikan pula simulasi yang ia sebut ekstrapolasi elektabilitas. Jika pemilih yang belum menentukan tidak dihitung, sebanyak 13.4 persen (terbagi proporsional), Jokowi masih unggul: 56,8 persen versus 43,2 persen.

Jika pilpres diselenggarakan di hari survei, sebenarnya Kompas juga mengabarkan Jokowi menang besar: doubel digit, dengan selisih 13,6 persen. Kemenangan Jokowi di 2019 lebih besar dibanding kemenangan Jokowi di Pilpres 2014, yang hanya sekitar 7 persen (mono digit).

Walau dikabarkan menang, kecemasan datang di banyak kubu Jokowi. Kompas menggambarkan Jokowi belum di angka psikologis 50 persen (elektabilitas yang tidak diekstrapolasi). Jokowi juga digambarkan menurun trendnya, hampir di semua kantong pemilih.

Walau dikabarkan kalah, harapan datang dari banyak kubu Prabowo. Trend Prabowo digambarkan menaik. Masih ada satu bulan lagi trend menaik itu terjadi untuk melampaui Jokowi.

Data yang sama, yang mengirimkan pesan yang sama, melahirkan emosi yang berbeda. Kecemasan di pendukung Jokowi (walau masih menang double digit) dan harapan di kubu Prabowo (walau masih kalah double digit)?

Bagaimana saya harus merespon survei litbang Kompas, menjawab para bro dan sis yang membanjiri WA saya pagi ini?

-000-

Saya akan menjawabnya setelah kisah ini. Datang pula info dua bumbu politik, yang tak terlalu saya hitung. Tapi ada baiknya disinggung untuk menggambarkan psiko-sosial sebagai respon survei Litbang Kompas.

Bumbu Politik pertama: sebuah pesan bahwa pemred Kompas Ninuk Pambudi tidak netral lagi. Suaminya Rahmat Pambudi pernah menjadi sekjend HKTI di bawah Prabowo. Suaminya orang dekat Prabowo.

Disertai pula berita dari Kompas sendiri tanggal 7 Maret 2011: Gerindra Ajukan Tiga Nama Calon Menteri. Rahmat Pambudi, suami pemred Kompas, diajukan Prabowo/Gerindra untuk menjadi menteri pertanian, di era pemerintahan SBY.

Diedarkan pula foto Ninuk sedang berjalan dengan Prabowo. Disertakan pula keluhan internal dari senior wartawan Kompas soal kekhawatiran positioning Kompas dalam pilpres kali ini.

Foto dan info itu berlanjutkan pada pertanyaan: apakah kedekatan Pemred Kompas (dan suaminya) pada Prabowo ikut mempengaruhi survei Kompas?

Bumbu Kedua: kesan atau lebih tepatnya opini bahwa Kompas sedang repositioning. Selama ini Kompas dianggap terlalu pro penguasa. Ketika Reuni 212, Kompas tak memberikan berita yang adil. 

Kompas harus kembali ke tengah. Dukungan Jokowi di angka 49.2 persen dianggap cukup mewakili psikologis posisi di tengah. Angka itu masih di bawah 50 persen, belum mencapai the magic number kemenangan 50 persen lebih.

Namun selisih dengan Prabowo masih dibuat dua digit. Selisih dua digit masih menyenangkan kubu Jokowi. Tapi trend Jokowi menurun dan Prabowo menaik, menyebangkan Prabowo.

Berita survei litbang membuat every body happy. Ini khas Kompas! Pesan ini tidak menihilkan hasil survei Kompas. Tapi ini pesan khas tokoh yang merasa selalu ada kemasan di balik data penting. Kompas dianggap melakukan kemasan tambahan itu.

-000-

Saya tak pernah menghitung dua bumbu di atas. Saya hanya menganggapnya bunga bunga respon dari data statistik!

Saya hanya ingin mengomentari  dari sisi metodelogi dan cara menarik kesimpulan semata.

Namun justru di sana letak masalah. Survei Kompas hanya memberikan keterangan sangat sedikit soal metodologi. Plus keterangan: kesalahan di luar pemilihan sampel mungkin terjadi.

Tak ada keterangan dalam metodelogi misalnya, apakah survei menggunakan simulasi kertas suara atau tidak? Pemilih yang ditanya akan memilih siapa secara oral oleh peniliti, selalu mungkin memberi jawaban berbeda jika ia diminta melihat kertas suara yang ada foro pasangan Jokowi dan foto pasangan Prabowo.

Kertas suara yang menyerupai kertas suara persis seperti di TPS nanti sudah dilakukan oleh LSI Denny JA sejak Febuari 2019. Dari simulasi terbatas, ternyata Jokowi lebih diuntungkan jika pemilih ditanya dengan foto. Nuansa seorang Kiai dari Ma’ruf Amin dan wajah populer Jokowi di foto menjadi unsur pembeda.

Tak ada pula keterangan dalam metodelogi bagaimana dengan prosentase response rate. Ini istilah untuk responden yang bersedia menjawab. Banyak pula responden yang tak bersedia menjawab. 

Survei yang sama sama memilih sampel dengan random, tapi yang satu memiliki response rate 95 persen (hanya 5 persen yang menolak menjawab), akan memberikan kualitas yang berbeda dibanding yang response rate, katakanlah, hanya 45 persen.

Pasti ada sejumlah responden yang menolak atau berhalangan. Terhadap mereka yang menolak, apakah dicari pemilih pengganti? Bagaimana cara memilih penggantinya? Tanpa panduan sistematis, response rate dapat membuat hasil survei tak akurat.

Tak ada pula keterangan soal kontrol kualitas. Apakah survei Kompas melakukan cek and recek soal jawaban responden. Bagaimana cara mengeceknya? Seberapa banyak yang dicek?

Tanpa cek dan recheck secara cukup dan ramdom, peneliti yang berpengalaman bisa saja hanya mendatangi responden sebagian. Sisa responden, ia isi sendiri di bawah pohon atau di dalam warung.

Ada pula beberapa masalah dalam cara litbang Kompas menarik kesimpulan. Kompas sendiri yang menyatakan margin of error survei itu plus minus 2.2 persen.

Tapi Kompas menyatakan tren dukungan Jokowi menurun dari 52.6 persen menjadi 49.2 persen. Secara statistik itu kesimpulan yang salah. Jika margin of error plus minus 2.2 persen, maka ada rentang margin of error dari plus 2.2 persen dan minus 2.2 persen. Margin of error itu sebenarnya punya rentang 4.4 persen.

Selisih dari 52.6 persen menuju 49.2 persen itu hanya 3.4 persen. Itu masih di bawah margin of error 4.4 persen. Secara nominal ia turun, tapi secara statistik itu tidak signifikan dikatakan turun. Jokowi stabil karena masih dalam rentang margin of error. Begitulah cara membaca data statistik.

Kata trend juga tak tepat diberikan kepada hanya dua data dari dua waktu yang berbeda. Harus ada minimal 3 waktu data, agar sah kita melihat pola: memang ada trend yang menurun dan menurun lagi (dua kali berturut), ataukah sebenarnya itu fluktuasi biasa.

Kompas juga menyatakan selisih Jokowi dan Prabowo sekitar 11.8 persen (49.2 persen- 37.4 persen). Ujar Kompas Prabowo hanya perlu menambah elektabilitas 6 persen untuk membuatnya berubah dari runner up menuju pemenang pilpres.

Kompas langsung berasumsi tambahan 6 persen pada Prabowo otomatis berarti berkurangnya 6 persen pada Jokowi. Jika Prabowo 37.4 persen ditambah 6 persen menjadi 43.4 persen. Jokowi berkurang 6 persen dari 49.2 persen menjadi 43.2 persen.
Sim salabim, Prabowo unggul: 43,4 persen vs Jokowi 43,2 persen!

Inipun kesimpulan yang salah secara statistik. Bertambahnya dukungan pada Prabowo, katakanlah 6 persen, tak otomatis dari dukungan Jokowi. Kompas sendiri menggambarkan ada suara yang belum menentukan pilihan sebanyak 13.4 persen. Bisa saja Prabowo bertambah 6 persen menjadi 43.4 persen, tapi Jokowi tetap 49, 2 persen karena tambahan Prabowo dari suara yang belum menentukan. Jokowi tetap menang!

Hal yang sama dengan menurunnya dukungan Jokowi 6 persen. Itu juga tak otomatis lari mendukung Prabowo. Bisa jadi dukungan Jokowi berpindah menjadi suara yang kembali belum menentukan. Jokowi menjadi 43, 2 persen, Prabowo tetap 37,4 persen. Jokowi tetap menang!

-000-

Kurang memberi informasi soal metodologi dan problem teknis dalam membuat kesimpulan, itu yang bisa saya komentari. Itulah titik lemah display survei litbang Kompas.

Tapi apakah survei Litbang Kompas berpolitik? Saya tak punya info untuk memberikan respon yang bisa dipertanggung jawabkan. 

Hanya satu yang bisa katakan, spesialis lembaga survei seperti LSI Denny JA, SMRC, Indikator, Charta Politika, dalam survei di waktu yang tak terlalu berbeda, memiliki hasil survei yang berbeda.

Empat lembaga itu hasilnya mirip. Jokowi sekitar 52-58 persen. Prabowo sekitar 30-35 persen. 

Tapi biarlah  aneka data berhamburan di ruang publik walau berbeda. Sebagaimana kita membiarkan seribu bunga berkembang.***

Editor : Pudja Rukmana