logo

Perbedaan Elektabilitas Paslon Hasil Survei Indo Barometer Dan Litbang Kompas

Perbedaan Elektabilitas Paslon Hasil Survei Indo Barometer Dan Litbang Kompas

Foto Jokowi-Amin: Istimewa
22 Maret 2019 06:08 WIB

Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id -  

JAKARTA: Hasil survei terbaru Indo Barometer menyebutkan elektabilitas pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin berada di kisaran 50,2 persen, sementara pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno 28,9 persen menjelang Pemilihan Presiden 2019.

"Seandainya pilpres dilakukan hari ini, Jokowi-Ma'ruf Amin diprediksi menang. Selisihnya 21 persen," tutur Peneliti Indo Barometer Hadi Suprapto Rusli di kawasan Senayan, Jakarta, Kamis (21/3/2019). "Sementara sisanya sekitar 20 persen masih merahasiakan pilihannya," ucapnya pula.

Hadi mengatakan, survei ini menggunakan simulasi surat suara lengkap dengan foto pasangan calon. Responden disodori gambar tokoh layaknya pemilihan di bilik suara.

Indo Barometer juga melakukan survei elektabilitas dengan menggunakan foto salah satu capres atau cawapres.

Dalam survei simulasi surat suara bergambar Jokowi saja, elektabilitasnya sebesar 51,2 persen. Sedangkan Prabowo dipilih 28,9 persen. Sebanyak 19,9 persen responden merahasiakan pilihannya.

Sementara itu, survei dengan simulasi surat suara bergambar cawapres, responden yang memilih Ma'ruf Amin 44,5 persen dan Sandiaga Uno sebesar 32,1 persen. Responden yang tidak menjawab sebesar 23,4 persen.

Survei yang digelar pada 6 sampai 12 Februari 2019 ini menggunakan metode Multistage Random Sampling dengan sampel sebanyak 1.200 responden yang tersebar di seluruh Indonesia. Margin of error survei ini sekitar 2,83 persen dengan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. Adapun pembiayaan survei ini ditanggung secara internal.

Survei Litbang Kompas

Sebelumnya survei Litbang Kompas menunjukkan bahwa elektabilitas Jokowi-Ma'ruf ada pada posisi 49,2 persen. Sementara Prabowo-Sandiaga ada pada posisi 37,4 persen. Sebanyak 13,4 persen responden menyatakan rahasia.

Dalam survei yang dilakukan pada 22 Februari 2019-5 Maret 2019 ini, Jokowi-Ma'ruf memang tampak lebih unggul dari Prabowo-Sandiaga. Namun, sejatinya jarak elektabilitas keduanya semakin tipis, yaitu 11,8 persen.

Ini bisa dibandingkan dengan survei Litbang Kompas sebelumnya pada Oktober 2018. Perolehan suara keduanya masih berjarak 19,9 persen. Saat itu, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf 52,6 persen, Prabowo-Sandiaga 32,7 persen, dan 14,7 responden menyatakan rahasia.

Peneliti Litbang Kompas, Bambang Setiawan, mengatakan, jika dibandingkan dengan survei sebelumnya, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf mengalami penurunan, sedangkan Prabowo-Sandiaga sebaliknya.

"Selama enam bulan, elektabilitas Jokowi-Amin turun 3,4 persen dan Prabowo-Sandi naik 4,7 persen," tulis Bambang.

Adapun survei dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan melibatkan 2.000 responden yang dipilih secara acak melalui pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi di Indonesia, dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error lebih kurang 2,2 persen.

Dari www.kompas.id, Litbang Kompas juga merilis survei pilihan capres dan cawapres berdasarkan usia pemilih, dengan hasil sebagai berikut:

Gen Z/pemilih pemula (<22)
Oktober 2018: 
Jokowi-Ma'ruf:39,3 persen
Prabowo-Sandiaga: 44,8 persen
Rahasia: 15,9 persen

Maret 2019:
Jokowi-Ma'ruf:42,2 persen
Prabowo-Sandiaga: 47,0 persen
Rahasia: 10,8 persen

Millenia muda (22-30):
Oktober 2018: 
Jokowi-Ma'ruf: 43,3 persen
Prabowo-Sandiaga: 42,4 persen
Rahasia: 14,49 persen

Maret 2019:
Jokowi-Ma'ruf: 49,1 persen
Prabowo-Sandiaga: 41,0 persen
Rahasia: 9,9 persen

Millenia matang (31-40):
Oktober 2018: 
Jokowi-Ma'ruf:39,3 persen
Prabowo-Sandiaga: 44,8 persen
Rahasia: 15,9 persen

Maret 2019:
Jokowi-Ma'ruf:46,6 persen
Prabowo-Sandiaga: 39,7 persen
Rahasia: 13,7 persen

Gen X (41-52):
Oktober 2018: 
Jokowi-Ma'ruf:51,1 persen
Prabowo-Sandiaga: 34,4 persen
Rahasia: 14,5 persen

Maret 2019:
Jokowi-Ma'ruf: 51,4 persen
Prabowo-Sandiaga: 36,0 persen
Rahasia: 12,6 persen

Baby boomers (53-71)
Oktober 2018: 
Jokowi-Ma'ruf:58,1 persen
Prabowo-Sandiaga: 27,1 persen
Rahasia: 14,8 persen

Maret 2019:
Jokowi-Ma'ruf:48,9 persen
Prabowo-Sandiaga: 34,6 persen
Rahasia: 16,5 persen

Silent gen (71+)
Oktober 2018: 
Jokowi-Ma'ruf:47,1 persen
Prabowo-Sandiaga: 31,1 persen
Rahasia: 21,8 persen

Maret 2019:
Jokowi-Ma'ruf: 65,4 persen
Prabowo-Sandiaga: 19,2 persen
Rahasia: 15,4 persen

Militan

Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo menjelaskan dirinya menggunakan survei elektabilitas sebagai bahan evaluasi.

"Ya itu justru kalau saya, hasil yang baik justru bisa melemahkan kita. Justru menjadikan kita tidak waspada," kata Jokowi ditemui di kantor DPD PDIP, Jakarta pada Rabu (20/3) terkait hasil survei Litbang Kompas, seperti dilansir kantor berita Antara.
 
Menurut Jokowi, hasil survei yang tidak baik atau kecil dapat mendorong para relawan, pendukung, dan kader partai bekerja secara lebih militan.

Mantan wali kota Solo itu menjelaskan hasil survei elektabilitas sebagai koreksi untuk timnya. "Saya kira semua survei kita lihat sebagai bahan koreksi, sebagai bahan evaluasi untuk mendorong bekerja lebih baik lagi," ujar Jokowi.

Senada dengan Jokowi, Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf menganggap hasil survei ini menjadi bahan masukan yang penting bagi tim Jokowi-Amin. Pihaknya pun akan terus mengevaluasi semua survei yang ada sebagai dasar untuk melihat apa yang harus dilakukan ke depan

Wakil Ketua TKN Roslan Roeslani melihat, secara keseluruhan, hasil survei menyatakan Jokowi-Amin masih unggul, termasuk di survei Litbang Kompas. Hal itu justru akan membuat militansi pihaknya semakin tinggi.

"Semua itu leading-nya double digit. Mau dibilang 11 persen, 15 persen, mau dibilang 20 persen, itu semua 2 digit. Tapi kita di TKN tidak pernah merasa puas. 'Oh kita terlena,' tidak pernah, saya sampaikan. Justru survei ini membuat militansi kita semakin tinggi," kata Roslan di Hotel Century Park, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (21/3/2019).

Roslan mengatakan hasil survei TKN juga menunjukkan selisih yang sama, yaitu 20 persen lebih, dari pasangan Prabowo-Sandi. Ia akan melakukan evaluasi terkait hasil survei ini dan menyatakan akan terus bekerja keras melakukan kampanye.

"Dan kita tentunya dalam waktu sisa hari ini akan terus melakukan kampanye, baik secara masif, secara besar, tetap yang paling penting hasilnya itu terukur dan terstruktur gitu. Kembali lagi, saya sih selalu mengapresiasi yang semua telah melakukan survei di kita," ucap Roslan pula.

Ada Kepanikan?

Sementara itu Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengatakan Indo Barometer bersama lembaga survei yang lain terus membangun narasi bahwa pasangan Jokowi-Ma'ruf pasti menang. Bahkan dengan proyeksi kemenangan Jokowi 63,47 (persen), lalu Prabowo hanya 36,53 persen. Hasil itu dinilai bertolak belakang dengan kondisi di lapangan.

"Kalau kita baca kesimpulannya, kan Pak Jokowi pasti menang. Seharusnya kalau sudah pasti menang, itu tecermin pada tata perilaku dari sehari-hari dari Pak Jokowi dan para pendukungnya, kalau sudah pasti menang. Tapi yang terjadi kepanikan itu terlihat," kata juru bicara BPN Andre Rosiade di Hotel Century Park, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (21/3/2019) seperti dikutip dari Detik.com

Andre memberi contoh adanya mobilisasi kepala desa oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo dan video viral yang menunjukkan pria berseragam cokelat terindikasi menyatakan dukungan kepada Jokowi. Andre melihatnya sebagai suatu keanehan.

"Jadi banyak sekali keanehan. Di satu sisi, ini lembaga survei bilang Pak Jokowi pasti menang, tapi faktanya berbanding terbalik dengan perilaku dan langkah-langkah yang diambil oleh para pendukung rezim, termasuk institusi negaranya," ujar Andre.

Politikus Gerindra ini juga menyoroti hasil survei yang menyatakan Jokowi-Ma'ruf menang di Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta. Andre mengatakan, saat kampanye terbuka nanti, Jokowi-Ma'ruf akan mendatangi daerah-daerah tersebut masing-masing 7 kali yang menunjukkan usaha keras untuk meraih suara.

Lebih lanjut Andre menyatakan, yang bisa mengalahkan Prabowo hanya kecurangan. Ia pun mengimbau para saksi dan pendukung untuk mengawasi TPS.

"Intinya, kami punya keyakinan insya Allah yang mengalahkan Pak Prabowo hanya kecurangan. Untuk itu, kami mengimbau, tolong sampaikan kepada rakyat Indonesia, mari kita jaga TPS. Kita jaga siapa yang datang ke TPS dan mencoblos itu. Kedua, saat penghitungan suara, pastikan jari-jari yang membuka kertas suara dari lipatan itu tidak merusak kertas suara. Itu saksi-saksi dan para pendukung harus mewaspadai," tegasnya.

Selain itu, ia mengimbau kepada pendukung Prabowo-Sandi agar tidak takut terhadap intimidasi. Ia juga memperingatkan, institusi negara yang tidak netral akan berhadapan dengan rakyat Indonesia.

"Rakyat Indonesia akan melakukan perlawanan kepada institusi negara yang tidak netral. Jangan sampai wasit ikut kompetisi. Jadi kami BPN mengingatkan kepada seluruh institusi negara, berlakulah netral. Anda tidak netral, Anda akan berhadapan dengan rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia ingin perubahan, tentu ingin adil dan makmur," ucapnya. ***

Editor : Pudja Rukmana