logo

Caleg Golkar Komit Terhadap Pengembangan UMKM Batik Termuda Relief Candi Di Desa Wisata Kebon Dalem Klaten

Caleg Golkar Komit Terhadap  Pengembangan UMKM Batik Termuda  Relief Candi Di Desa Wisata Kebon Dalem Klaten

Caleg DPRD Kabupaten Klaten dari Partai Golkar nomor urut 9 Dapil 2 (Kec. Prambanan, Kec. Manisrenggo, Kec. Kemalang, Kec. Karangnongko, Kec. Jogonalan Dan Kec. Gantiwarno) Lilis Suryani (berdiri kiri), Ketua Forum IKM UKM Kabupaten Klaten Yuniati Eka Hartanti (berdiri kanan)). Henry M Kailola Caleg DPR RI Partai Golkar Nomor Urut 6, DAPIL Jawa Tengah 5 (Boyolali, Klaten, Sukoharjo Dan Kota Surakarta (duduk kiri) dan Sunardi, pemilik UMKM Joglo Kadipaten, Desa Wisata Kebon Dalem Kidul, Prambanan Kabupaten Klaten dalam kunjungan caleg ke pelaku UMKM, Jumat (15/3/2019).
15 Maret 2019 08:09 WIB

Penulis : Yon Parjiyono

SuaraKarya.id - KLATEN: Masyarakat nusantara dan manca negara belum banyak yang tahu tentang kekayaan intelektual yang dimiliki Sunardi.

Ia adalah salah satu pelaku Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) pengrajin kain  batik  motif termuda di Indonesia yakni batik relief candi -candi di sekitar Komplek candi Prambana, Klaten, Jawa Tengah.

Di lokadi ini ada tiga produk yang dikembangkan yakni kain batik, kain jumputan dan kain kombinasi batik jumputan.

Berkomitmen mendorong pengembangan produksi dan pemasaran batik termuda relief candi di Desa Wisata Kebon Dalem Kidul, Prambanan, Klaten, Jateng, dua calon legislatif (Caleg) Partai Golkar, yakni Caleg DPR RI Henry M Kailola, nomor urut 6 Dapil Jateng 5 ( Kabupaten Boyolali, Klaten, Sukoharjo dan Kota Surakarta) dan Caleg DPRD Kabupaten Klaten nomor urut 9 Dapil 2 ( Kecamatan Prambanan, Manisrenggo, Kemalang, Karangnongko, Jogonalan, dan Gantiwarno) Lilis Suryani SpD mengunjungi galeri UMKM milik Sunardi.

Turut hadir Ketua Forum Industri Kecil, Menengah Usaha Kecil Menengah (Forum IKM UKM) Kabupaten Klaten Yuniati Eka Hartanti.

Sunardi berharap bisnisnya terus berkembang. Masyarakat wisatawan lokal dan manca negara semakin tertarik untuk membeli batik relief candi sebagai souvenir yang mengesankan.

"Alhamdulillah sudah banyak wisatawan lokal dan manca negara yang membeli batik relief candi dan kain jumputan. Kami terus berupaya meningkatkan kualitas batik dan mempertahankan harganya yang terjangkau. Kami juga terus jamin kepuasan masyarakat pelanggan ," kata Sunardi kepada Suarakarya.id, Jumat (15/3/2019).

Galeri batik lokasinya menyatu dengan home stay atau tempat peristirahatan bagi wisatawan, cafe mini dan toko makanan ringan oleh-oleh bagi para wisatawan.

"Lokasi kami strategis, berada tidak jauh dari destinasi 11 candi kecil di sekitar komplek candi Prambanan," ucap Sunardi menambahkan.

Henry M Kailola menyatakan bahwa fasilitas home stay, galeri batik relief candi, cafe dan toko makanan ringan oleh-oleh khas Klaten sudah cukup bagus.

"Tapi saya berharap Pak Sunardi dan ratusan orang pelaku UMKM di desa wisata Kebon Dalam Kidul mendapat perhatian yang lebih baik lagi dari Dinas Pariwisata dan Dinas UMKM Kabupaten Klaten," kata Henry.

Bantuan yang diharapkan adalah promosi dan kebersihan lingkungan sekitar juga penataan parkir kendaraan. Sementara itu, Lilis Suryani mengataka.

"Jika saya dipilih masyarakat Kebon Dalem Kidul menjadi wakil rakyat, saya akan memperjuangkan kepada pemerintah terkait peningkatan kualitas batik termuda di Indonesia relief candi menjadi lebih dikenal dan diminati masyarakat," kata Lilis Suryani.

Masih banyak pelaku UMKM di sekitar komplek candi Prambanan yang memerlukan tambahan modal untuk meningkatkan bisnis mereka.

"Tentu kami akan memperjuangkan kepada dinas-dinas terkait dan bank-bank yang mau memberi pinjaman modal dengan bunga rendah bagi pelaku UMKM," ucap Lilis.

Yuniati Eka Hartanti menambahkan, pihaknya bekerjasama dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait akan terus melaksanakan pelatihan dan seminar-seminar agar SDM UMKM meningkat.

"Kalau SDM UMKM ditingkatkan ilmu dan pengetahuannya tentu produksi juga meningkat kualitasnya, sehingga ke depan kepuasan pelanggan terjamin," kata Yuniati.

Editor : Yon Parjiyono