logo

Kurang Asupan DHA Dapat Mengganggu Perkembangan Otak & Kemampuan Belajar Anak

Kurang Asupan DHA Dapat Mengganggu Perkembangan Otak & Kemampuan Belajar Anak

Foto: Istimewa.
21 Februari 2019 14:54 WIB

Penulis : Markon Piliang

SuaraKarya.id - JAKARTA: Kekurangan asupan asam lemak esensial DHA dapat menganggu perkembangan otak dan kemampuan belajar pada anak-anak. Demikian disampaikan Prof Dr Hardinsyah, Pakar Gizi dan Ketua Umum Pergizipangan.

Keadaan ini sangat memprihatinkan mengingat fakta bahwa 8 dari 10 anak Indonesia menganggap kekurangan konsumsi DHA dan Omega 3.

Yang membuat miris, berdasarkan hasil penelitian pakar gizi dari UI dan IPB, termasuk Prof Dr Ahmad Sulaeman, berpenghasilan lebih dari 80 persen anak Indonesia terbukti kekurangan DHA, salah satu tidak gizi yang meningkatkan pertumbuhan dan kecerdasan anak.
Penelitian yang dilakukan berdasar dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 itu menemukan 8 dari 10 anak sekolah Indonesia yang berusia 4-12 tahun kekurangan nutrisi otak karena kekurangan asupan asam lemak esensial (Asam Lemak Esensial) baik asupan DHA dan Omega 3 referensi dari WHO.

Asam Lemak Esensial (EFA) sendiri merupakan kelompok asam lemak yang penting bagi kesehatan manusia dan harus tercukupi dari asupan makanan.

Prof Hardinsyah yang juga Guru Besar IPB dan Rektor Universitas Sahid mengatakan DHA bersama kelompok asam lemak esensial yang lain memegang peranan penting bagi perkembangan otak anak. "Defisit DHA bisa menyebabkan kerusakan syaraf," kata Guru Besar IPB itu.

Sementara itu hasil penilaian tentang efektifitas sekolah dasar di Indonesia ternyata juga belum bisa memberikan hasil yang memuaskan. Mendukung siswa yang masih rendah, sedangkan jam pelajaran SD di negeri ini lebih banyak daripada negara lain. Fakta itu didapat sebagai Hasil Penilaian Pendidikan yang dilakukan oleh Kemendikbud, pada 14 Desember 2016.

Sebagai pengganti, dalam satu tahun, Indonesia memberlakukan 1.095 jam pelajaran. Sedangkan Korea Selatan hanya 903 jam pelajaran per tahun.
Di Jepang bahkan lebih sedikit, mereka hanya memberlakukan 712 jam pelajaran per tahun. Dan hasil penilaian pendidikan mereka berada di peringkat atas dunia.

Sudah ada orang tua, keluarga dan seluruh pihak memberi perhatian tentang masalah DHA pada anak Indonesia melalui asupan makanan yang mengandung DHA dan omega 3 menurut masa depan mereka, kata Prof Ahmad Sulaeman. ***

Editor : Markon Piliang