logo

Profesionalisme Vs Industrialisasi

Profesionalisme Vs Industrialisasi

09 Februari 2019 09:09 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Salah satu tantangan mendasar terkait peringatan Hari Pers Nasional (HPN) ke-73 pada 9 Pebruari 2019 ini adalah aspek profesionalisme, terutama mengacu pada fakta ketatnya kompetisi di industrialisasi media. Profesionalisme dan juga industrialisasi nampaknya memang telah menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan dan hal ini berlaku di semua bidang, termasuk juga di dunia jurnalisme.

Pers sebagai salah satu bagian perkembangan informasi global tidak bisa lagi mengelak dari tuntutan survive, berkompetisi, mencari iklan dan menghindar dari berbagai tekanan yang siap mendemonya jika liputan atau sajian yang diberikan memicu kontroversi. Bahkan kini secara kasat mata, kita tidak bisa lagi membedakan persepsi antara pers lokal dan nasional atau internasional karena kini semua media harus online untuk memuaskan kebutuhan informasi global. Intinya, era industrialisasi media kini merebutkan konsumen yang sama yaitu konsumen yang haus akan informasi, sementara informasi tersaji secara luas, murah dan mudah diakses.

Mengacu prinsip profesionalisme pers dan industrialisasi media, ironisnya, kebebasan pers yang didengungkan ternyata masih tidak mengakar. Kalaupun ada saja yang berani  menerapkannya, toh akhirnya akan berhadapan dengan kepentingan yang lebih luas lagi yaitu eksistensi ke depan, terutama mengacu hajat hidup orang banyak yaitu mulai dari wartawan dan karyawan di media, pengecer dan agen serta pembaca sebagai konsumen. Oleh karena itu, jangan heran jika kemudian muncul kritik pers sekarang lebih mengacu prinsip bagaimana bisa hidup terus dan terus hidup. Pers-pun juga berfilosofi bagaimana meraup iklan sebanyak mungkin dan menjual tirasnya di semua segmen tanpa terkecuali. Ibaratnya, pers sekarang mirip gado-gado yang semua menu dan racikannya tercampur pada satu bumbu yang sedap dinikmati semua kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua, tidak hanya di ibu kota dan perkotaan, tetapi juga di pedesaan dan pinggiran.

Pergeseran jaman yang memicu pergeseran idialisme dari sejarah perkembangan media pers sekarang tentu tidak bisa lagi dielakan. Bahkan, para wartawan-pun saat ini secara pelan tapi pasti juga larut dalam ritme industrialisasi media yang sarat kapilatis. Bahkan, pendidikan jurnalisme yang berkembang saat ini juga tidak lagi menekankan bagaimana cara menulis reportase yang benar dan lugas tapi bagaimana kita menyajikan berita yang apik, menarik dan cantik serta memuaskan semua pihak, terutama pemasang iklan. Hal lain yang juga menarik dicermati adalah realitas persaingan yang semakin ketat terutama mengacu penetrasi internet yang memungkinkan masyarakat mencari informasi secara mudah dan murah sehingga keberadaan pers cetak semakin terpinggirkan. Oleh karena itu, industrialisasi pers saat ini harus menerbitkan 3 edisi yaitu cetak, online dan e-paper yang kesemuanya jelas membutuhkan pasokan investasi yang tidak kecil. Artinya, di era kekinian ternyata industrialisasi pers semakin menuntut investasi yang semakin besar dan hanya pemilik modal besar saja yang akhirnya bisa menguasai media.

Terbelenggunya profesionilsme pers oleh tekanan industrialisasi media memang tak bisa lagi diingkari. Bahkan, era globalisasi yang memaksa masuknya sejumlah industri media dari luar seolah juga tidak bisa menampik tuntutan untuk terus survive. Jadi, jangan kita heran jika perkembangan pers kampus-pun dari dulu sampai kini juga harus mematuhi aturan main si penyandang dana. Logikanya, pers kampus tidak mungkin akan bersuara lantang menyajikan liputan internal kampus yang tidak beres, jika memang tidak ingin berhenti terbit di edisi ke depan. Fenomena ini memang makin menjadi ironis, terutama jika kita berniat mengembangkan idialisme dan profesionalisme jurnalistik ke depan.  Meskipun demikian, pers juga dituntut untuk mendukung kebangkitan ekonomi dan hal ini menjadi tema di peringatan HPN 2019 yaitu “Pers Menguatkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Digital”. Jadi, pers harus berperan ganda yaitu membangun pondasi internal agar bisa tetap survive dan di sisi lain harus juga berperan demi kekuatan ekonomi. ***

* Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo