logo

12 Pelukis Pamerkan 24 Karyanya Beraroma Kopi

12 Pelukis Pamerkan  24  Karyanya Beraroma Kopi

12 Februari 2019 12:17 WIB

Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - JAKARTA:   Duabelas orang pelukis dari komunitas Coffee Painters yang diketuai Jan Praba menggelar pameran di Museum Seni Rupa dan Keramik, di Taman Fatahillah, Kota Tua Jakarta sejak 9 Februari 2019.  Diperkirakan hingga kini 3.000  orang pengunjung telah menikmati keindahan dan wanginya lukisan lukisan tersebut.

Pameran itu diresmikan  AKBP Sri Werdiningsih, Kasubdit Pelmas Polda Metro Jaya, mewakili Direktur Binmas Polda Metro Jaya, Kombes Ulung Sampurna Jaya yang berhalangan hadir. 

Pameran tersebut  menghadirkan karya mutakhir para pelukisnya dan berlangsung sampai 16 Februari mendatang. 

Berbeda dengan biasanya, begitu masuk galery utama Museum Seni Rupa dan Keramik, terciumlah sayup sampai aroma mewangi kopi. Hampir semua  lukisannya didominasi warna coklat dan hitam dengan goresan dan gradasi yang bervariasi.

"Lukisan lukisan itu  masih baru semua. Makanya aroma kopinya masih tercium," kata Jan Praba,  pelukis yang paling awal menjadi  coffee painter di kelompok ini.  Boleh dikata Jan inilah pelukis pelopor yang  menggunakan media kopi di atas kanvas di tengah-tengah  komunitasnya. 

Kepala UP Museum Seni Esti Utami menyatakan bangga menjadi saksi lahirnya seni lukis bermedia kopi. 

"Museum sebagai tempat edukasi, dengan pameran ini akan menginspirasi para pengunjung dalam kreativitas seni lukis," ujar  Esti Utami. Hadir Kepala Museum Basuki Abdullah   Maeva.

Seperti kita tahu, budaya ngopi berkembang selaras perkembangan zaman dengan menjamurnya warung warung kopi dari berbagai kelas di setiap pelosok Nusantara. Diharapkan seni lukis kopipun demikian, kata Esti. 

Maka pameran lukisan ini diberi tajuk "Coffee in Culture Heritage." 

Kenyataannya karya-karya  lukisan ini berhasil mengungkap kekayaan warisan budaya Indonesia dari Aceh, Tapanuli, Minangkabau, Betawi, Tanah Pasundan, Jawa, Kalimantan, Bali sampai Indonesia bagian Timur. 

Lukisan yang paling depan "The Miracle of Love" dengan kanvas bujur sangkar yang tiap  sisinya berukuran 135 cm. 

"Ini saya selesaikan  dalam 4 hari. Cerita Ramayana dalam 3 fragmen," kata pelukisnya  M Hady Santoso peraih Juara I lomba lukis media kopi di tempat yang sama Oktober 2018 yang  lalu. 

Di situ terlihat ada Anoman dalam kobaran api mencopot mahkota Rahwana, Garuda Jatayu menyelamatkan isteri Rama dan Shinta obong membuktikan kesucian cintanya kepada Rama.

Satu lagi karya Hady Santoso diberi judul "The Power" yaitu atraksi kesenian  barongsay dan liong  menyambut tahun baru Imlek. Lukisan ini juga dihiasi kobaran api yang menyembur dari mulut naga. 

"Sesuai dengan  momentumnya," kilah Hady yang selalu memakai topi. 

Anton Krisdyanto pelukis media kopi  peringkat kedua Oktober yang lalu, kali ini menyuguhkan 2 lukisan,  "Penari" dari Yogya dan  "Pacu Jawi" dari Sumatra Barat yang mirip Karapan Sapi dari Madura. 

"Untuk pernik pernik hitam saya memakai kopi Kapal Api. Yang lainnya warna lebih muda  pakai   kopi Nescafe," ungkapnya.

Entah mengapa melihat lukisan Tanjidor Betawi dan Belajar Mendalang, AKBP  Werdiningsih usai membuka pameran itu  minta difoto bersama pelukisnya, Ari Hariyanto. 

Djoko dari Bintara,  Bekasi juga berkesempatan foto bersama lukisannya dan Ibu Polwan tersebut. 

Tampak Mis Ary Kepala Seksi Informasi dan Edukasi UP Museum Seni  sibuk melayani tamu tamu penting saat itu.

Di balik dinding itu  terpampang lukisan bergaya sedikit deformatif berjudul  "Nuansa Bali", menggambarkan beberapa penari sedang bergoyang.

Karya Iwan Widodo dari Karawang ini terasa klasik.

       Borneo dengan Kopi Gayo

Ada dua lukisan abstrak bertajuk "Perenungan" dan "Penantian" karya Chryshnanda, seorang perwira tinggi Polri.

Apa makna lukisan "Penantian" itu sulit ditebak walau terlihat ada  sosok wanita terlentang dirintangi baris baris kalimat dengan huruf Jawa ...ha na ca ra ka.

 "Kalau bisa baca tulisan Jawa itu,  kita tahu maksudnya," kata Jan Praba. Sayang pelukisnya berhalangan datang karena tugasnya. 

Di antara dua lukisan abstrak itu dipajang lukisan polysimetris seperti simbol matahari dengan 8 sinarnya yang semburat. Judulnya  "Borneo."  Tepat di tengah  ada symbol etnis Dayak berwarna putih. Setelah kita amati ternyata tiap sinar itu ada lukisannya  dengan goresan tajam natural. 

"Itu semua bercerita tentang  kehidupan di pedalaman  Kutai Barat sana," kata Manka Sketsasuka pelukisnya.

Dia mengaku tahun 2003 yang lalu selama 3 pekan  berada di pedalaman Kutai Barat, Kalimantan Timur. Rekaman kehidupan masyarakat setempat dituangkan ke dalam lukisan bermedia kopi tersebut. "Untuk warna gelap saya pakai kopi Gayo," tutur Manka Sketsasuka. 

Satu lagi lukisan budaya Dayak  dibuat oleh Cedhar pelukis dari Cilandak. Judulnya Mitologi Hudoq.

Sedang Patar Butarbutar melukis suasana kampung halamannya dengan judul "Huta."

Ada satu lukisan  berwujud wayang golek Sunda  sosok Arya Bima. Namun menurut pandangan awam terlalu banyak warna putih tanpa hiasan apapun sehingga terkesan belum jadi. "Memang konsepnya begitu," kata Jan Praba pelukisnya. Bima dikenal sebagai tokoh yang kuat, tegas,  jujur, polos tanpa pretensi. 

Pengamat budaya dan pariwisata  H Abu Galih menilai banyak kekebihan lukisan bermedia kopi. Selain terasa klasik, setiap lukisan menyuguhkan aroma wanginya kopi berbeda beda. Sayangnya aroma itu pelahan akan hilang. Apalagi kalau lukisan harus dilapis coating.

"Makanya kami juga berpikir bagaimana mempertahankan aroma wangi itu meskipun lukisan harus diberi lapisan," kata Hady Santoso pelukis penyuka kopi.

Mengenai pengunjung museum selama ada pameran lukisan media kopi terlihat melonjak. 

Kepala Satuan Pelayanan   Museum Seni Rupa dan Keramik,  Hari Prabowo SSn, Senin (11/2/2019) mengatakan, Minggu 10 Februari 2019 pengunjungnya 1.863 orang, termasuk 38 orang  wisatawan mancanegara. Di antaranya dari Perancis, China, Jepang, Belanda dan Inggeris.

"Itu cukup banyak. Sebab biasanya hari Minggu paling 1.000 orang," katanya. ***