logo

Ulur Penetapan Dua Cawagub PKS, Sikap Gerindra DKI Rugikan Prabowo-Sandi

Ulur Penetapan Dua Cawagub PKS, Sikap Gerindra DKI Rugikan Prabowo-Sandi

Dua kandidat cawagub DKI dari PKS, Agung Yulianto dan Ahmad Syaukhi
11 Februari 2019 15:30 WIB

Penulis : Yon Parjiyono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Partai Gerindra dinilai tidak ada alasan lagi untuk menunda penetapan dua nama Calon Wakil Gubernur (Cawagub) DKI yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Mengingat berbagai mekanisme yang diajukan partai besutan Prabowo Subianto telah dipenuhi. Mulai dari uji kelayakan, pengenalan ke fraksi-fraksi di DPRD DKI hingga Forum Group Discussion (FGD) telah dilakukan.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Ekesekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno saat diwawancarai wartawan.

Menurut Adi, bola panas penentuan dua nama Cawagub DKI yang diusung PKS kini berada di tangan Partai Gerindra.

“Semua proses negosiasi telah dipenuhi PKS dalam tahapan penentuan dua nama Cawagub DKI. Jadi tidak ada alasan lagi bagi Partai Gerindra untuk menunda menandatangani dua kandidat yang akan diajukan ke Gubernur Anies,” tutur Adi menambahkan.

Lebih lanjut Adi khawatir penundaan yang dilakukan Partai Gerindra akan berimbas pada mesin politik di koalisi nasional. Di mana koalisi PKS dengan Partai Gerindra dalam memenangkan Prabowo-Sandiaga Uno akan terhambat di Pemilihan Presiden (Pilpres).

“Bisa saja PKS menghentikan mesin politiknya karena berlarutnya penentuan Cawagub. Jelas ini sangat merugikan Prabowo dan Sandiaga di Pilpres. Mengingat Jakarta merupakan salah satu lumbung suara bagi pasangan nomor urut 02 tersebut,” ucapnya.

Adi menambahkan sudah seharusnya PKS mengambil sikap dalam hal ini. Mengingat PKS bukanlah partai sembarangan yang memang mempunyai basis massa yang cukup besar. Salah satunya di Jakarta.

“Penentuan Cawagub ini bagian dari komitmen politik antara PKS dan Gerindra. Jadi jangan sampai polemik perebutan kursi DKI 2 menjadi bola salju yang merambah pada koalisi nasional hingga ke tingkat-tingkat daerah,” imbuhnya.

Karena itu Adipun menilai perlu adanya pertemuan pimpinan di tingkat pusat kedua partai tersebur untuk menyelesaikan polemik ini.

“Jangan sampai berlarut-larut malah akan merugikan Prabowo-Sandiaga dalam kancah Pilpres April mendatang,” pungkasnya. Seperti diketahui, rencana penyerahan dua nama Cawagub ke Gubernur Anies yang sedianya dilakukan Senin (11/2/2019) kembali tertunda.

Ketua DPD Partai Gerindra DKI Jakarta Mohamad Taufik mengaku sedang berada di luar kota.

Oleh karena itu, dia belum bisa menandatangani surat berisi dua nama calon wakil gubernur (cawagub) DKI yang direkomendasikan tim panelis uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test). Kitanya lagi di luar kota," ujar Taufik.

Taufik menyampaikan, penandatanganan surat berisi dua nama cawagub itu baru akan dilakukan pekan depan. Dia belum bisa memastikan hari penandatanganan surat itu.

“Nggak (tanda tangan hari ini), belum, minggu depan," kata dia. Padahal surat itu harus ditandatangani terlebih dahulu oleh pimpinan Gerindra dan PKS DKI Jakarta sebelum diserahkan ke Anies untuk kemudian diteruskan ke DPRD DKI Jakarta.

DPW PKS DKI Jakarta sebelumnya meminta Gerindra DKI segera meneken surat berisi dua nama cawagub DKI sesuai hasil fit and proper test. Sebab, kedua partai sudah sepakat bahwa surat itu akan diserahkan kepada Anies pada Senin besok.

"Kami hari ini siap untuk menandatangani surat berisi dua nama yang direkomendasikan untuk menjadi cawagub mendampingi Pak Anies, tapi sampai sekarang, pimpinan Gerindra belum mengonfirmasi kesiapannya," kata Ketua Bidang Humas DPW PKS DKI Jakarta Zakaria Maulana Alif.

Adapun tim panelis sudah dan rekomendasi dua nama cawagub kepada Gerindra dan PKS pada Jumat malam.

Dua nama itu berasal dari tiga kandidat yang mengikuti fit and proper test, yakni kader PKS Abdurrahman Suhaimi, Agung Yulianto, dan Ahmad Syaikhu.

Sementara itu tim panelis yang menguji mereka yakni Wakil Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta Syarif, peneliti LIPI Siti Zuhro, pakar kebijakan publik Eko Prasodjo, dan pengamat politik Ubedilah Badrun.

Editor : Yon Parjiyono