logo

Atani Berperan Dorong Ekspor Produk Pertanian Indonesia

Atani Berperan Dorong Ekspor Produk Pertanian Indonesia

Kegiatan Sinkronisasi Program dan Evaluasi Kinerja Atase Pertanian dihadiri oleh 120 peserta yang terdiri dari Atase Kementan serta dari berbagai K/L, Asosiasi, Akademisi dan pelaku usaha pertanian, di Bali, Kamis (7/2/2019).
11 Februari 2019 13:22 WIB

Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - BALI: Sebagai duta pertanian di luar negeri, Atase Pertanian (Atani) Indonesia telah mengantongi banyak informasi berkaitan dengan peluang pasar ekspor produk pertanian Indonesia, serta peluang kerja sama teknis untuk mendorong dan meningkatkan daya saing dengan sejumlah negara.

Atani sangat berperan dalam memobilisasi dan menarik berbagai bantuan teknis dan investasi, fasilitasi akses pasar untuk berbagai komoditas pertanian unggulan Indonesia ke pasar global. Juga melakukan advokasi kebijakan dalam rangka meyakinkan mitra bilateral dan mempengaruhi kebijakan global agar lebih berpihak pada kepentingan sektor pertanian lokal di Indonesia, serta membuka pasar non-tradisional untuk komoditas pertanian unggulan.

Saat ini pasar Uni Eropa sangat menekankan pentingnya precision farming dan post harvest handling, juga masalah food safety yang menjadi persyaratan mutlak. "Peluang pasar untuk produk-produk unggulan pertanian di pasar UE di antaranya fine flavour cacao, aneka bumbu dapur seperti daun salam, kemangi," kata Atani Brussel, Wahida dalam Kegiatan Sinkronisasi Program dan Evaluasi Kinerja Atase Pertanian yang dihadiri oleh 120 peserta, terdiri dari Atase Kementan serta dari berbagai K/L, asosiasi, akademisi dan pelaku usaha pertanian, di Bali, Kamis (7/2/2019).

Sementara pasar Jepang menurut Atani Tokyo, Sri Nuryanti, lebih mementingkan penerapan standar higienitas produk, performa komoditas, keseragaman, pengemasan dan labeling. Buah pisang, mangga, dan pepaya lebih banyak diimpor dari Filipina, Ekuador, dan Peru.

"Sedangkan pasar Amerika Serikat terbuka untuk komoditas hortikultura seperti nanas, pisang, dan alpukat, serta rempah-rempah," kata Atani Washington, Hari Edi Soekirno.

Berbeda halnya dengan pasar Italia, menurut Atani Roma, Ida Ayu Ratih, untuk produk  nanas segar sedang disuspend karena tidak kompetitif harga jualnya. Sedangkan ekspor nanas dalam kaleng RI ke Italia masih berjalan dengan nilai transaksi 3-3,5 juta dolar AS.

“Semester pertama 2019 ini, telah tercatat transaksi sebesar 1,8 juta dolar AS untuk pemesanan nanas kaleng dari GGP (Great Giant Pineapple),” jelas Ida.

Kerjasama Teknis 

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Biro Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Pertanian (Kementan), Ade Candradijaya mengungkapkan, komoditas pertanian Indonesia sangat beragam dan memiliki banyak keunggulan karena memiliki taste yang spesifik. 

Saat ini yang perlu dilakukan adalah mengatasi beberapa kendala seperti organisme pengganggu tumbuhan (OPT), masalah kontinuitas, dan logistik/pengiriman yang cukup mahal.

"Misalnya buah salak. Ketidaksiapan petani untuk kualitas produk, kurangnya pemahaman terkait sanitary and phytosanitary (SPS), serta tidak terpantau adanya perubahan kebijakan yang diterapkan negara tujuan ekspor. Dibutuhkan pemahaman yang terus menerus guna mempersiapkan suatu produk siap ekspor," tambahnya.

Sebagai upaya jalan keluar, atase pertanian Indonesia telah membuka komunikasi yang membuahkan sejumlah potensi kerja sama teknis. 

Di antaranya dengan negara Jepang, yaitu investasi agribisnis budidaya pisang dan pengolahan tepung pisang; kerja sama Sheet Pipe System untuk irigasi lahan basah/rawa dari Kyouwa; Kerja sama sister City Yokote - Pasuruan untuk agribisnis apel, anggur, pear; Kerja sama investasi infrastruktur ekspor mangga oleh Sumitomo Forestry; dan kerja sama teknis pengembangan bahan bakar berbahan baku kelapa sawit Eco  SUPPORT - PTPN II – PPKS.

Dengan negeri paman Sam, potensi kerja sama teknis diarahkan pada upaya antisipasi terjadinya kendala di bidang perdagangan ekspor komoditas pertanian/pangan Indonesia dan penawaran beasiswa bagi lulusan Polibangtan untuk melanjutkan studi ke Amerika Serikat oleh 4 State University di USA.

Untuk negara Belgia, kerja sama teknis sudah berjalan dan harus ditingkatkan, di antaranya pengembangan sapi potong Belgian Blue, serta bantuan expert pendirian museum pertanian dan museum tanah. 

"Kini sedang dijajaki pengembangan pendidikan vokasi dengan salah satu universitas di Jerman," jelas Wahida. ***

 

Editor : Laksito Adi Darmono