logo

PSSI Cerminan NKRI Yang Punya Segudang Masalah

PSSI Cerminan NKRI Yang Punya Segudang Masalah

22 Januari 2019 13:44 WIB

SuaraKarya.id - Bicara organisasi PSSI tidak berbeda jauh dengan kita bicara soal kemajuan bangsa ini. Kisah-kisah keperkasaan di masa lampau kerap memghiasi obrolan soal mimpi di masa depan. Kita sering mendengarkan bagaimana bangsa ini sangat menyambut. Negara-negara ASEAN Hampir semua belajar dari Indonesia saat membangun negaranya. Mereka mengirim mahasiswa untuk menerima ilmu di universitas-universitas terbaik di Indonesia. Kini, Malaysia, Brunei, Vietnam dan Thailand meninggalkan Indonesia yang menyukai jalan di tempat.

Sama halnya dengan sepak bola. Prestasi berhasil di masa lampau Menjadi bumbu dalam bermimpi Prestasi di masa depan. Sederet strategi dicanangkan. Berbagai cara, dengan berganti-ganti Ketua Umum PSSI pun dilakukan demi meraih prestasi sepak bola di kancah internasional. Minimal menyamai prestasi juara SEA Games 1991. PSSI sebagai pilar utama pembinaan sepak bola di Indonesia pun berkali-kali dioprak-oprik demi kemajuan sepak bola Indonesia. Pilih tetap sama, tak ada perubahan.

Pembicaraan strategi bagaimana memajukan prestasi sepak bola Indonesia. Tapi sayang, semua hanya sebatas teori. Berkali-kali ganti presiden, Indonesia tetap tak berubah. Ketinggalan dan terus tertinggal. Berkali-kali ganti Ketua Umum PSSI, prestasi sepak bola Indonesia takkan meningkat, bahkan semakin terpuruk. Dan ini tidak ada habisnya, dan selalu dengan narasi yang sama. Tapi tak pernah orang bosan membicarakannya.

Mundurnya Edy Rahmayadi sebagai Ketua Umum PSSI memastikan takkan menyelesaikan masalah. Edy hanya akan menjadi seperti ketum-ketum PSSI sebelumnya. "Korban yang sia-sia" dari pusaran kebobrokan organisasi. Sepak bola Indonesia pun hanya akan begini-begini saja. Terlebih jika rakyat dari organisasi itu mentalnya tak berubah. 

Sama halnya dengan bangsa ini. Siapa pun presidennya, tak akan bisa melakukan perubahan kebijakan kebijakan radikal dan revolusioner. Semisal menetapkan harga dolar dengan patokan yang ditetapkan pemerintah, tidak melepaskan sebebas-bebasnya ke pasar. Ini pernah sukses dilakukan Malaysia saat krisis moneter 1998, meski kala itu Malaysia dikecam habis rentenir riba IMF. Atau kebijakan dumping yg dilakukan Jepang dan Cina. Atau mengeluarkan uang dari luar negeri Iran dengan mengubah bentuk negara dari kerajaan ke republik.

Tanpa kebijakan yang radikal dan revolusioner Indonesia akan sulit maju, begitu juga sepak bola Indonesia. Radikal dalam kebijakan sepakbola mengeluarkan Timnas dengan TC, durasi 2 hingga 3 tahun. Selama TC itu pemain tidak perlu ikut kompetisi dan hanya fokus di TC Timnas.

Tak hanya kebijakan radikal, Selama mental pemimpin dan pemangku kepentingan-pemangku kepentingan di tanah air masih mental calo, Indonesia tak akan pernah bisa maju. Begitupun sepak bolanya. Sepak bola Indonesia tak akan bisa berprestasi.

Selama pemegang kebijakannya masih menunggu biaya dan masih hijau melihat duit, saham, proyek, maka kepemilikan Indonesia dan sepak bola akan terus berjalan di tempat. Jadi memang harus radikal dan revolusioner dalam kepemimpinan bangsa ini.

Editor : Silli Melanovi