logo

Dokter Turki Hidupkan Kembali Bayi Kembar Rohingya

Dokter Turki Hidupkan Kembali Bayi Kembar Rohingya

07 Januari 2019 19:54 WIB

Penulis : Yacob Nauly

SuaraKarya.id -  ANKARA: Bayi kembar Rohingya, yang jantung mereka berhenti berdenyut saat mereka di dalam perut ibu mereka, telah "dihidupkan kembali" berkat upaya beberapa dokter Turki, kata Lembaga Penanganan Bencana dan Keadaan Darurat Turki (AFAD) pada Ahad (6/1/2019), seperti diwartakan Antara.

AFAD mengatakan di dalam satu pernyataan tertulis bahwa seorang perempuan yang hamil 32-pekan dan jantungnya telah berhenti berdenyut akibat tekanan darah tinggi, dibawa ke Rumah Sakit Sahra di Bangladesh, yang dioperasikan oleh AFAD dan Kementerian Kesehatan Turki.

Pasien itu segera dibawa ke ruang operasi caesar setelah para dokter gagal mendengar denyut nadi bayi kembar tersebut dan mereka "dihidupkan kembali" berkat upaya petugas medis Turki.

Ibu bayi kembar itu memberi nama bayi lelakinya, Amaorara, dan yang perempuan, Ameorara.

Sang ibu dan bayinya diperkenankan keluar dari rumah sakit setelah mereka pulih, kata AFAD, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Anadolu --yang dipantau Antara di Jakarta, Senin.

Turki terus membantu Muslim Rohingya --yang menyelamatkan diri dari tindakan kasar di Myanmar dan berusaha menggantungkan hidup di Bangladesh-- sejak awal krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.

AFAD, yang mengkoordinasikan bantuan Turki di wilayah itu, mendirikan beberapa tempat penampungan dan menggali sumur air buat pengungsi Rohingya.

Lebih dari 180.000 pasien telah dirawat dan 1.125 pasien menjalani operasi di Rumah Sakit Sahra selama satu tahun terakhir ini.

Selain itu, 106 bayi dilahirkan di rumah sakit itu.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang yang paling menderita di dunia, telah menghadapi kekhawatiran yang meningkat mengenai serangan sejak puluhan orang tewas dalam bentrokan antar-masyarakat pada 2012.

Sejak 25 Agustus 2017, sebanyak 750.000 pengungsi --kebanyakan anak kecil dan perempuan-- menyelamatkan diri dari Myanmar, ketika pasukan keamanan Myanmar melancarkan penindasan terhadap masyarakat minoritas Muslim, kata PBB. ***

 

Editor : Gungde Ariwangsa SH